[Ruang Semangat]: Suasana Pasar Pagi Blang Pidie yang Mengedukasi

Aldi Ferdian

Oleh Aldi Ferdian*

Pada 14 maret 2020 Rektorat UIN Ar–Raniry mengeluarkan Surat Edaran Nomor surat 380/Un.08/R/Kp.07.6/03/2020 tentang Kegiatan Perkuliahan di Rumah yang dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran pandemi virus Covid-19. Dalam surat itu dijelaskan bahwa perkuliahan di kampus UIN Ar-Raniry untuk sementara tidak dilakukan secara tatap muka mulai tanggal 16 Maret sampai 31 Maret 2020.

Mengingat pandemi Covid-19 semakin meluas, Direktur Jenderal Pendidikan Islam memperpanjang masa kuliah daring/online hingga akhir semester genap dengan nomor surat 697/03/2020 tentang Upaya Pencegahan Penyebaran Covid–19 dalam Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.

Setelah dikeluarkan surat edaran tersebut, tentunya sebagai mahasiswa perantauan, saya harus memilih dua opsi, antara mudik atau tidak. Setelah menimbang satu dan lain hal, saya memutuskan untuk pulang ke daerah asal yaitu di Aceh Barat Daya (Abdya). Setidaknya dari pada kosong aktivitas, di kampung halaman saya dapat membantu kakak yang berjualan di pasar sembari melaksanakan kuliah daring. Terlebih isu yang saya dapatkan kala itu, daerah perkotaan seperti Banda Aceh sangat rawan terinfeksi Covid-19.

Mempertimbangkan pandemi Covid-19 belum dalam kategori zona merah, demi melancarkan aktivitas ekonomi, Pemerintah Kabupaten Abdya tetap mengizinkan aktivitas jual beli di pasar tersebut setelah ditetapkannya masa darurat Covid-19. Namun, Pemerintah Kabupaten Abdya tetap menganjurkan untuk memakai masker dan upaya yang lainnya seperti social distancing dan physical distancing untuk mencegah penyebaran Covid–19 di kalangan masyarakat Abdya.

Selama masa darurat pandemi ini, saya berniat untuk membantu kakak kandung saya yaitu Andri Rahmat (31) yang bekerja sebagai pedagang yang menjual berbagai macam bahan dapur seperti cabai merah, tomat, bawang dan lain-lain di Pasar Pagi Blang Pidie.

Suasana Pasar Pagi di Tengah Pandemi

Meskipun sedang pandemi, tidak membuat Pasar Pagi Abdya sepi pengunjung, Pasar Pagi tetap ramai di kunjungi oleh masyarakat. bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan dapur rumah tangga, ada juga pembeli yang menjual kembali untuk warga yang jauh dari letak pasar. Pengertian singkat, Pasar Pagi Blang Pidie berperan sebagai pemasok untuk para pedagang di tingkat desa yang jauh dari letak pasar. Jadi ada perbedaan harga yang kami tawarkan kepada pembeli antara pembeli, tergantung juga siapa pembelinya, dalam artian pembeli yang berjualan lagi, akan diturunkan harga jual 2 ribu rupiah per bahan yang dibelinya.

Pasar pagi mulai dikunjungi warga mulai pukul 05.30 WIB dan mencapai titik keramaian pada pukul 06.00 WIB. Keramaian ini mulai surut pada pukul 10.00 pagi menjelang siang. Saat siang hanya satu per satu saja warga yang berbelanja ke pasar, hingga kembali ramai biasanya pukul 17.00 WIB. Meski begitu ramai di pagi hari, saya melihat ada beberapa upaya social distancing yang diterapkan oleh pelaku dagang dan pembeli, mulai dari memakai masker hingga menjaga jarak antarpembeli dengan penjual pun tetap di lakukan. Namun. ada juga satu per satu pembeli dan penjual yang masih tidak mau menerapkan hal tersebut.

Maraknya penyebaran Covid-19 tidak membuat para pelaku dagang dan pembeli berdiam diri di rumah, kegigihan mereka seolah olah memberikan energi semangat untuk hidup seperti biasanya. Namun, di sisi harga, ada hal yang janggal terjadi disebabkan oleh pandemi tersebut, akibatnya sejumlah bahan baku meningkat jumlah harganya seperti bawang biasanya berkisar dengan harga 25 ribu/kg kini menjadi 45-50 ribu/kg. Kenaikan ini disebabkan kurangnya pasokan bahan yang masuk dari Sumatera Utara atau daerah sekitar ke Pasar Pagi Abdya. Beda dengan cabai merah, justru mengalami penurunan harga. Jika sebelum pandemi harga cabai 35 ribu/kg kini harga cabai merah mencapai 15- 20 ribu/kg. Cabai merah turun karena Abdya sendiri salah satu penghasil cabai dan selama pandemi ini capai menumpuk di Abdya karena kurangnya permintaan dari luar daerah Abdya.

Hal-Hal yang Mengedukasi Saya

Beraktivitas setelah subuh bukan menjadi alasan bermalas-malasan bagi mereka. Inilah kehidupan yang nyata seperti yang telah Rasullulah saw anjurkan. Rasullulah menganjurkan kepada kita semua untuk tidak melanjutkan tidur setelah subuh. Jadi, selain mencari nafkah, para pedagang itu secara tidak langsung mereka telah menerapkan apa yang telah Rasullullah anjurkan.

Hampir tiga pekan lamanya berada di pasar, dari sudut pandang yang berbeda saya berani mendefinisikan bahwa pasar menjadi tempat belajar. Mulai dari belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik, hingga belajar bagaimana berinteraksi sosial dengan baik. Edukasi itu saya dapatkan dari para pelaku-pelaku dagang yang ada di pasar tersebut.

Sebagai pelaku dagang, tentunya kakak saya mengajari beberapa ilmu dagang selama di pasar, di antaranya seperti bagaimana berkomunikasi dengan baik agar pembeli yakin terhadap barang dagangan, hingga bagaimana cara mengintervensi sistem sosial ke dalam sistem perdagangan.

Selain itu, mereka berhasil melakukan proses persaingan dagang dengan harmonis, kekeluargaan, sebagai bukti hampir empat pekan lamanya berada di pasar, tidak pernah saya melihat kriminal ataupun keributan di pasar tersebut. Tawa dan canda ria mereka telah melumpuhkan ketidakseimbangan harga yang ditawarkan oleh penjual-penjual lainnya. Hal ini memperlihatkan amat dan sangat kecintaan mereka terhadap perdamaian.

Selain cinta terhadap perdamaian, rasa bersyukur mereka juga tinggi. Pernah saya lihat seorang kakek namanya Abu Rahman (72) sebagai penjual ubi-ubian yang bisa dikatakan penghasilan cukup minim. Tetapi, ia juga menyedekahkan sedikit rezeki nya kepada disabilitas yang menghampiri dirinya, sungguh hebat bukan.

Hal–hal sederhana itulah yang mengedukasi saya. Selain ilmu dagang yang saya dapat, di sanalah saya dapat menemui tanggung jawab sosial, proses bantu dan saling bantu yang tak terbayarkan. Hal ini merujuk pada definisi kesepian menurut seorang sastrawan terkenal yaitu Goenawan Muhammad. Ia mengatakan, “Defenisi kesepian yang sebenarnya adalah seseorang yang hidup tanpa tanggung jawab sosial”. Definisi ini mengartikan, kita tidak akan merasakan kesepian jika kita keluar dan melihat lingkungan sekitar yang memerlukan bantuan kita baik itu tenaga ataupun hal lain yang bernilai sosial.

Hal ini perlu dilakukan karena mengingat kita semua adalah manusia yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan. Terkait dengan ini, maka tidak ada salahnya Goenawan Muhammad mendefinisikan kata kesepian yang dialami kebanyakan kaum milenial selama ini.

Melalui tulisan ini saya mengajak kepada kaum–kaum rebahan, ayo kita berliterasi dari apa yang kita lihat, karena sebenarnya banyak ilmu yang kita dapatkan yang sumbernya bukan dari buku, tergantung juga bagaimana cara kita melihat dan dari sudut pandang mana kita menilai.[]

Penulis adalah mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent