[Cerpen]: Gadis Berponi di Seberang Jalan

Ilustrasi

Oleh Banta Johan*

Sudah seminggu aku berada di kampung halaman. Ah, rasanya baru kemarin saja berada di rumah. Waktu terasa begitu cepat apalagi saat kita merasa bahagia, toh siapa yang tidak bahagia berada di kampung halaman, bertemu keluarga, sanak saudara dan warga kampung. Namun, setelah salat Jumat nanti, aku akan balik ke kota, pekerjaan yang menumpuk sudah menunggu. Aku berpamitan pada ibu yang memaksa agar aku untuk tinggal dua hari lagi, kuperhatikan semacam ada kegelisahan pada raut wajahnya, aku berusaha meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Sebenarnya, aku merasa gelisah juga pada kepergianku kali ini, tapi mengingat pekerjaan yang menumpuk menungguku dan juga atasan yang meminta untuk segera kembali bekerja, aku bisa apa ….

Aku meminta adikku untuk mengantar ke halte. Aku tidak pergi dengan sepeda motor karena ingin sesekali naik bus, apalagi hari ini mendung, lebih cocok naik bus saja daripada harus mengendarai motor di jalanan yang hujan. Aku ingin menikmati perjalanan yang ditemani hujan sembari menatap pemandangan di sepanjang jalan. Bagiku, ini terasa syahdu.

Sesampainya di halte yang sepi, aku turun dari motor sedangkan adikku meminta izin dan langsung kembali ke rumah. Kondisi halte yang kotor. Debu-debu menempel di tempat duduk, sedangkan lantainya penuh dengan tanah-tanah yang menempel sisa-sisa bekas telapak sepatu dan sandal, sedangkan di sekelilingnya banyak sampah plastik, puntung rokok, dan rerumputan. Aku segera duduk karena gerimis mulai turun perlahan.

“Seharusnya tadi kuminta Majid untuk mengantarku ke warung pinggir jalan saja,” aku membatin.

Aku sendirian di halte yang sungguh tidak nyaman ini, menunggu bus untuk menuju kota. Dari dalam saku celana jin, kukeluarkan gawai sembari menunggu bus, sudah pukul tiga sore. Namun, aku merasa ada yang aneh, kuperhatikan sekeliling, sejak tadi tidak ada satu kendaraan pun yang melintas, segera kusadari hal ini. Aku melemparkan pandangan ke kiri dan kanan jalan, sungguh aneh, kenapa begitu sepi. Angin sepoi membelaiku dalam rasa yang penuh dengan keanehan ini.

Segera saja kutelepon adikku, Majid. Aku merasa sangat tidak nyaman berada di sini, tetapi sudah tujuh kali panggilan dia tidak menjawabnya. Aku masih saja mencerna keadaan, ini pukul tiga sore, bukan pukul tiga malam, tetapi kenapa begitu sepi, bulu kudukku mulai merinding. Aku sungguh bingung harus ke mana, di sini tidak ada rumah penduduk atau warung, hanya ada halte tua yang kumuh. Aku kembali terduduk dan kemudian mengusap muka, sejenak memejam. Namun, tiba-tiba saja saat aku membuka mata, kulihat sosok gadis berambut poni di seberang jalan dan dia memandangku, akhinya aku lega ada juga yang datang memecah kesunyian buta yang aneh ini.

Aku melempar senyum kepadanya, tetapi ia hanya menatap saja dan sedikit pun tidak bergerak. Aku menyeringai keheranan, tetapi kemudian suara klakson bus mengejutkanku sehingga pandanganku beralih kepada bus yang sudah berhenti di depanku, aku segera naik dan memilih duduk di kursi belakang, kemudian aku membalikkan badan dan melihat gadis tersebut yang juga menatapku dan bus yang meninggalkannya.

Tentu saja aku penasaran, bertanya-tanya, siapa anak itu? apakah dia menunggu bus juga? atau ia menunggu seseorang? kemudian bagaimana ia tiba-tiba bisa ada di sana? Pertanyaan yang tidak kudapatkan jawabannya dan aku menepisnya begitu saja. Bus yang kutumpangi ini tidak terisi penuh, hanya ada lima penumpang di depanku, sedangkan aku sendirian di kursi belakang yang panjang ini. Suasana begitu sunyi.

“Mengapa begitu sunyi?” aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Mendengar suara mesin bus pun tidak, sungguh suasana yang ganjil. “Ah, peduli amat!” gumanku lagi.

Kemudian aku merebahkan badan dan memejamkan mata, tapi tiba-tiba saja gadis itu muncul kembali di pikiranku, ya gadis yang kulihat di seberang jalan tadi. Aku terjaga, tersentak, dan badanku mulai gemetar, mengusap mata, aku ketakutan dan keringat mulai bercucuran.

Aku berusaha menenangkan diri dengan beristigfar, menarik napas panjang-panjang kemudian melempar pandangan ke arah luar jendela mobil. Hamparan sawah hijau yang luas yang menari-nari di tengah hujan gerimis, kemudian berganti dengan rumah-rumah penduduk dan masjid yang berada di pinggir jalan. Aku kaget, ini adalah jalan pulang ke kampungku, bukan ke kota. Apakah busnya memutar kembali? Tapi tiba-tiba saja “bruuuk!” bus terguncang dan terhenti seperti menabrak sesuatu. Aku melihat ke depan memastikan apa yang terjadi, namun semua orang yang ada dalam bus, termasuk kernet dan sang sopir menatapku tajam bahkan mereka tidak mengucap sepatah kata pun, aku merasa takut apa yang terjadi dan aku merasa sebagai seorang pesakitan..

Aku kembali terduduk dengan merasa sangat ketakutan, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bus kembali melaju, sedangkan aku yang kebingungan mengecek ponsel melihat jam masih pukul tiga sore, mengapa masih saja pukul tiga sore? Kenapa waktu seolah berhenti, dalam ketakutan, pikiranku berkecamuk. Spontan pandanganku kembali melihat keluar jendela mobil lagi, sial! keadaan yang sama, hamparan sawah yang hijau, kemudian rumah-rumah penduduk dan masjid setelah itu “bruuk!” bus kembali berguncang dan terhenti, seperti menabrak sesuatu, aku mulai menangis, orang-orang dalam bus kembali menatapku, sejenak aku beranjak ingin turun tetapi bus sudah melaju, aku menangis, menjerit, berteriak, sedangkan orang-orang tidak peduli.

Kembali lagi terulang keadaan yang sama, hamparan sawah, rumah-rumah penduduk, masjid, dan “bruuuk!” bus terguncang dan terhenti, aku menjerit keras kemudian menampar wajahku dengan tangan kiri dan kanan berulang kali berharap ini mimpi, sejenak kemudian aku terjaga dan mendapati diriku berada di halte. Aku mengusap mataku dan melihat di seberang jalan gadis berambut poni itu menunjuk ke arahku, aku berteriak keras dan berlari, tak henti berteriak, aku tidak dapat merasakan kakiku menyentuh tanah saat berlari.

Dari kejauhan kulihat sebuah warung, aku berlari ke sana bagai kuda, orang-orang sudah berhamburan keluar dari warung melihatku yang berlari kencang dan berteriak. Sesampainya di sana aku mendekat pada seorang pria, memeluknya. Napasku tersengal-sengal panjang, suaraku semakin serak dan hilang. Aku di dudukkan pada kursi kayu, orang-orang menyuruhku untuk tenang, beristighfar, dan memberikanku air yang sudah dicampur dengan gula pasir.

Setelah beberapa saat, azan Asar berkumandang, aku mulai tenang. Sedangkan orang-orang menatapku dengan cemas, siap menungguku bercerita apa yang sudah kulalui. Seusai bercerita, membagikan ketakutan kepada orang-orang di warung, seorang pria tua mendekatiku dan berkata, bahwa hari Jumat yang lalu sekitar pukul tiga sore, terjadi kecelakaan di depan Halte itu,”Seorang anak gadis berambut poni meninggal ditabrak oleh sebuah bus,” katanya pelan sembari memegang tanganku, “bus mengelak ke kiri  dan menabrak gadis itu yang sedang mengayuh sepeda di pinggir jalan, saat ada seorang pengendara sepeda motor di depan bus yang secara tiba-tiba memotong ke kanan jalan tanpa menghidupkan lampu sein.” lanjutnya.

Tiba-tiba saja, ingatanku kembali pada hari Jumat yang lalu sekitar pukul tiga sore, saat memotong jalan tanpa menghidupkan lampu sein, sedangkan bus di belakangku membunyikan klakson keras-keras, sempat kudengar suara “bruuuk!” tapi aku tidak peduli. Sesaat kemudian aku memegang dahiku dan mulai kembali menangis.[]

Penulis adalah peminat sastra, sejarah, ekonomi, sosial, dan politik. Berdomisili di Gampong Meunasah Drang, Muara Batu, Aceh Utara

Editor : Iha Nurdin