Hei! Di tengah Corona, Guru Juga Menderita

Zulkifli, M. Kom. [Ist]

Oleh Zulkifli

Sejak awal mulai mewabahnya Covid-19 di Indonesia, pemerintah melakukan berbagai upaya. Dimulai dengan penerapan social distancing hingga physical distancing untuk pencegahan penyebaran virus corona. Kemudian dilanjutkan imbauan penerapan work from home bagi sejumlah pekerja, juga tidak ketinggalan bagi dunia pendidikan dengan penerapan belajar di rumah.

Dalam upaya tersebut pemerintah baik eksekutif dan legislatif terus memutar otak, untuk mencari berbagai solusi agar masyarakat tidak menjadi korban virus corona.

Pengumpulan dana untuk bantuan tersebut juga dilakukan, mulai dari pengalihan (refocusing) anggaran baik Pusat maupun daerah. Di Provinsi Aceh juga tidak ketinggalan berusaha meggalang dana yang dilakukan dengan berbagai skema. Ada yang memotong gaji, tunjangan bahkan ada yang mengirim surat untuk mengalang dana dari wali murid dan guru SMA seperti yang dilakukan Dinas Pendidikan Aceh.

Hari Pendidikan Nasional (2/5) ini saya merasa sedih bila mengingat nasib pahlawan tanpa tanda jasa. Walau sudah ada lampu hijau dari Pemerintah Pusat dibolehkannya penggunaan dana BOS, tetapi belum ada satu bantuan dan kebijakan secara khusus dari Pemerintah Aceh dan kabupaten kota bagi patriot pahlawan tanpa tanda jasa di tengah pandemi corona.

Dalam kondisi wabah corona mereka luput dari pantauan. Padahal guru merupakan garda terdepan dalam menyukseskan program pendidikan. Mereka tetap berusaha memberi ilmu dengan melaksanakan pembelajaran sistem online, mereka terus berusaha menjadi pelita dalam kegelapan, dengan tetap berbakti walaupun dalam kondisi darurat, mereka berusaha menjadi guru bagi muridnya.

Semoga dalam program refocusing dengan dana senilai 1,7 T, sebagai dana pencegahan wabah Corona di Aceh, pemerintah bisa mencipratkan setetes dana umat tersebut untuk membantu proses mendukung pembelajaran online, walupun tidak dengan membeli laptop berkelas seperti Asus ROG, Apple Mac di Sekretarias Daerah Aceh, Diskominfo Aceh, di tengah covid -19, minimal pemerintah bisa membantu paket internet atau perangkat pendukung lainnya untuk guru dan peserta didik.

Sebagai daerah yang istimewa dalam bidang pendidikan kita tidak boleh menafikan begitu saja perjuangan mereka, termasuk guru honor, pengabdian mereka sungguh sangat berarti dalam kondisi seperti mewabahnya pandemi Covid 19 saat ini.

Dalam kondisi seperti ini, terbitnya surat dari Disdik Aceh tentang penggalangan dana untuk siswa miskin terdampak corona, bukan sesuatu yang bijak. Kadis, hanya karena ingin dipuji atasan mengambil keputusan yang mbalelo dari aturan serta menambah kerja dan derita guru. Surat itu terbit di waktu yang tidak tepat. Ibarat kata: Kadisdik Aceh, kageujak tamah klah ateuh tubung. Guru di Aceh, seperti kata peribahasa: sudah jatuh tertimpa tangga. Tidak mudah mengajar daring dari rumah. Butuh biaya dan tenaga ekstra. Konon lagi diharuskan melakukan hal-hal lainnya.

Kiranya, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota, memiliki waktu untuk melongok ke sektor pendidikan. Milikilah sense of humanity, jangan berperilaku lage ureung teumeutop lam beureukah ngom.

Bantu paket internet untuk guru dan siswa, subsidi guru honor, jangan lagi “pungli” guru atas nama apapun, karena tidak mudah menjadi pendidik di tengah badai virus ini.

Penulis adalah akademisi Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen.