Lima Kelompok Orang Puasa di Aceh

Muhajir Al-Fairusy, antropolog Aceh.

Oleh Muhajir Al-Fairusy

Sebagian besar studi dan pandangan sepakat menempatkan Aceh bagian dari perkumpulan masyarakat yang begitu fanatik pada identitas agama Islam yang disandangnya. Aceh bahkan dinobatkan sebagai pintu gerbang masuknya Islam ke Nusantara, berdasar seminar masuknya Islam ke Indonesia pada tahun 1963 di Kota Medan.

Belakangan, muncul term yang lebih spesifik dan mengeklusifkan identitas keislaman di Aceh, yaitu Islam ahlussunnah wal jamaah (aswaja). Untuk istilah yang terakhir, selain memperkokoh doktrin keislaman model dayah yang terus pesat seiring meredupnya pemikiran modernis di Aceh, yang ditandai dengan berakhirnya DI/TII tahun 1962, sekaligus upaya membendung pemahaman di luar konsensus identitas aswaja. Bahkan, term aswaja dimaknai pula sebagai identitas organisasi keagamaan. Berdasar pengalaman saya di lapangan, jika ada kolom memilih organisasi keislaman dalam angket survey antara NU dan Muhammadiyah, surveyor sering menambah kolom baru dengan memasukkan aswaja sebagai ormas keislaman besar yang dipahami oleh masyarakat Aceh.

Tak berlebihan, jika Aceh selalu punya ciri khas dan keunikan dalam mengindentifikasi dirinya. Dalam konteks gempuran wabah Covid-19, tatkala masjid dan pusat keramaian diperintahkan untuk ditutup rapat bagi pengunjung, dan dilarang keras berkumpul, sebagian masyarakat Aceh tetap kokoh dengan keyakinannya “Tuhan lebih berkuasa dari wabah.” Identitas agama dengan teologi martir yang begitu mengakar seakan menafikan keberadaan ancaman wabah.

Tulisan singkat ini hanya akan mengupas makna dan perilaku masyarakat Aceh dalam menjalani bulan Ramadan (Aceh; Ramuzan) sebagai bulan paling sakral dalam Islam, yang diwajibkan bagi pemeluknya tanpa terkecuali masyarakat Aceh yang telah memprolakmirkan diri sebagai masyarakat paling loyal pada ajaran Islam. Lantas bagaimana masyarakat Aceh menyikapi bulan suci ini. Dari amatan terbatas, saya mengkategorikan beberapa perilaku berpuasa di Aceh :

Pertama, masyarakat Aceh yang bercorak agraris dan pesisir. Kelompok yang dominan di Aceh ini melaksanakan pola puasa yang telah mentradisi. Siangnya mereka tetap beraktivitas dalam lingkaran mata pencaharian sebagai petani atau nelayan, namun memangkas tempo waktu bekerja. Meskipun, ada sebagian masyarakat yang menghentikan total aktivitas bekerja selama Ramadan, dengan berpedoman pada petitih “…siblah buleuen mita, sibuleuen pajoh” (selama sebelas bulan mempersiapkan logistik, dan sebulan penuh memfokuskan diri pada ibadah Ramadan). Malamnya, penduduk menyesaki meunasah (surau) dan masjid untuk melaksanakan tarawih. Biasanya berlangsung seminggu, selanjutnya saf mulai tereliminasi secara teratur. Pasca Tarawih, dilanjutkan tadarus hingga menjelang sahur. Tarawih berjamaah dengan mendisiplinkan pembacaan surah pendek juz 30, dan tadarus hingga sahur menjadi ciri khas berlangsungnya Ramadan di Aceh.

Selain itu, menjelang berbuka puasa, meunasah dan masjid menyuguhi kuliner khas, seperti kanji. Aktivitas Ramadan dalam masyarakat agraris Aceh mulai berakhir dengan munculnya kesibukan perempuan di dapur dengan segudang resep kue lebaran, dan memburu pakaian baru di pasar. Tiga hari menjelang Syawal, masyarakat biasanya akan berbondong-bondong menunaikan zakat fitrah, tetap dalam bentuk beras.

Kedua, masyarakat urban. Kategori keempat ini, sekilas hampir sama dengan tradisi berpuasa masyarakat di perkampungan. Siangnya disibukkan dengan aktivitas dan malamnya melaksanakan Tarawih berjamaah dan tadarus. Jika masyarakat agraris hanya fokus pada model pekerjaan terbatas dan cenderung berpedoman pada petitih siblah buleuen mita, sibuleuen pajoh. Masyarakat urban Aceh memiliki ruang bekerja yang lebih beragam selama hampir sebulan penuh, mengingat sebagian masyarakat urban bekerja di sektor pemerintahan yang mengharuskan tetap melayani masyarakat selama Ramadan. Pada malam hari, suasana Ramadan dalam masyarakat urban berlangsung seperti bulan-bulan lainnya, di mana masyarakat akan tetap menyesaki ruang publik seperti warung kopi, mall, dan tempat berkumpul di malam hari. Jika masyarakat kampung memilih berbuka di rumah dan meunasah dengan kuliner khas, dalam mayarakat urban, trend berbuka bersama (bukber) lebih menonjol, terutama di warung kopi, café, dan restoran tertentu.

Ketiga, masyarakat Aceh dalam lingkaran pesantren. Ramadan kerap disambut dengan segudang aktivitas keagamaan, termasuk pelaksanaan ritual sulok. Pada beberapa pesantren yang menonjol tradisi tarekat, kehadiran Ramadan dimanfaatkan total untuk penyelenggaraan ibadah sulok yang hampir menyerupai perilaku lockdown total selam 30-40 hari. Selama hitungan hari tersebut, pelaku ritual ini hanya berdiam diri dalam sebuah bilik dengan segudang ritual yang ketat, dan amat membatasi interaksi dengan manusia. Tak hanya itu, pola dan jenis makanan pun diseleksi, mengedepankan prinsip yang hampir menyerupai vegetarian, tujuannya untuk membunuh naluri kebinatangan dalam jiwa manusia.

Keempat, kelompok remaja. Golongan ini, penting untuk didiskusikan, mengingat perilaku remaja Aceh hampir menyerupai gaya hidup manusia seusia mereka pada umumnya di Indonesia. Meksipun, tak semua remaja di Aceh berperilaku seperti dalam kategori ini. Kehadiran Ramadan bagi remaja kerap dimaknai sebagai ajang berkumpul paska Subuh yang dikenal dengan trend asmara subuh, memanfaatkan ruas jalan sepi sebagai arena balapan, dan beberapa dari golongan ini tampak tidak terlalu serius memaknai puasa. Pada kelompok ini, bukber juga menjadi gaya hidup selama Ramadan. Golongan ini menarik untuk diamati, karena mereka kerap menyesaki meunasah dan masjid di minggu pertama Ramadan, seterusnya tersesat dalam pasar di pengujung Ramadan guna menyiapkan amunisi menyambut hari raya. Pada saat pelaksanaan ritual sunah sembahyang hari raya pun, kelompok ini biasanya paling semangat datang lebih awal ke masjid dan lapangan dengan pakaian baru untuk melaksanakan sembahyang hari raya.

Kelima, masyarakat Aceh yang bekerja di sektor jasa. Mulai dari pekerja transportasi hingga kuli bangunan. Kategori ini, dimasukkan karena mengingat perilaku mereka yang unik, jika bagi kelompok pertama, kedua, dan keempat, Ramadan adalah bulan paling sakral dengan laku ritual ketat. Bagi kelompok kelima, benturan kerja dengan mengandalkan jasa kerap harus berbenturan dengan perintah berpuasa. Tak jarang, karena tuntutan kerja yang melibatkan fisik, sebagian dari buruh ini mengabaikan perintah puasa.

Ramadan datang saban tahun menghampiri muslim di seluruh dunia, termasuk Aceh. Tradisi dan perilaku manusia menyikapi perjalanan Ramadan selama sebulan penuh di berbagai tempat dengan corak beragam adalah bagian dari wajah kebudayaan manusia yang amat dipengaruhi oleh lingkungannya. Sebagaimana etnografi yang pernah ditelurkan oleh Marvin Harris bahwa lingkungan (materi) membentuk dan memengaruhi pola pikir dan perilaku manusia lewat konsep materialisme budaya yang diusungnya.

Penulis buku Retrospeksi Budaya Himespheric Islam di Zawiyah Tanoh Abee.