Abuya Syekh Muhammad ‘Aun: Ketua Mahkamah Syar’iyah Pertama Singkil

Abuya Syeikh Muhammad 'Aun @repro/Sadri Ondang Jaya

ACEHTREND.COM, Singkil — Tempoe doeloe, di tahun 1910, ketika Kemukiman Kuala Baru (Kuba) dipimpin Datuk Oeno bin Zainal Abidin, Kuala Baru kedatangan tamu dari Minangkabau, Sumatera Barat.

Tamu yang datang itu tak tanggung-tanggung, disambut dengan hormat, meriah, dan dilayani dengan baik oleh Datuk Oeno dan warga Kuala Baru.

Sebab, tamu yang datang bukanlah tamu sembarangan, melainkan tamu agung nan mulia, sosok ulama waratsatul anbiya, pewaris para nabi, bernama Syekh H Aminur Rasyid bin Maulana Syeikh H Mahmud Alkhalidi.

Bersama Tuan Syekh H Aminur Rasyid, ikut pula istrinya Siti Rakidah serta anak mereka, Muhammad ‘Aun, bocah berumur tujuh tahun.

Menurut keterangan salah seorang warga Kuala Baru, Syafruddin Sutan Muhammad, Kedatangan Syekh H Aminur Rasyid ke Kuala Baru bersama keluarga untuk melaksanakan misi dakwah.

Dalam menjalankan misi dakwah itu, kata Syafruddin, Syekh memulai gerak dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Lalu dengan menaiki perahu melalui Samudera Hindia menuju Aceh Selatan. Tepatnya di Kota Tapaktuan.

Saat perjalanan menelusuri daerah bibir pantai Samudra Hindia dalam rangka berdakwah itulah, Syekh Aminur Rasyid acap singgah di Kemukiman Kuala Baru.

Setelah beberapa kali singgah, entah mengapa, hatinya “kesemsem” dan jatuh cinta dengan Kuala Baru. Dan beliau pun bersama keluarga, berdomisili di sana dalam waktu yang lama.

Selama berdomisili di Kuala Baru, aktivitas sehari-harinya di samping berdakwah dan mengajar, ia juga membuka sekaligus memimpin tawajuh dan suluk aliran Tarekat Naqsabandiyah.

Dari sekian banyak murid dan pengikut Syekh H Aminur Rasyid, salah satu di antaranya adalah Muhammad ‘Aun yang notabene anak kandungnya.

Kepada Muhammad ‘Aun dan murid-murid yang lain Syekh mengajarkan berbagai macam ilmu. Dari ilmu membaca Alquran sampai menghafal hadis nabi.

Tak kalah pentingnya ia juga mengajarkan ilmu-ilmu lain seperti nahu, sharaf, mantik, bayan, fiqih, tauhid dan lain-lain. Sehingga Muhammad ‘Aun dan murid-murid lain menjadi orang alim.

Di saat Muhammad ‘Aun sedang berasyik-masyuk menuntut ilmu, ayahnya Syekh H Aminur Rasyid, pada Rabu Jumadil Akhir 1342/1924 berpulang ke rahmatullah. Kemudian beliau dimakamkan di kampung halamannya, di Jambu Aceh Pasar V Natal, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Syafruddin menjelaskan, setelah ayahnya wafat, ternyata ilmu yang telah diperoleh Muhammad ‘Aun dari orang tuanya belum memuaskan. Lalu, untuk memperdalam ilmu, Muhammad ‘Aun pergi merantau, menemui dan belajar¬†pada ulama-ulama besar Minangkabau di antaranya, Syekh H Khatib Ali Padang dan Syekh H Ibrahim Harun Tiakar Payakumbuh.

Kemudian, beliau juga berguru pada Syekh H Sulaiman Ar-Rasuli Candung Bukit Tinggi,  Syekh H Ibrahim Musa Parabek Bukittinggi, Syekh H Muhammad Shalih Natal Madina, Syeikh H Ahmad Idris Muaro Bodi Sawah Lunto, dan Syekh H Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang.

Muhammad ‘Aun ulama kelahiran Natal, Madina, Sumatera Utara pada 2 Februari 1904 yang dibesarkan di Kuala Baru ini, selama hidupnya beraktivitas meneruskan misi orang tuanya, mengajar, memimpin tawajuh dan suluk Tarekat Naqsabandiah. Beliau juga aktif menjadi ketua dan hakim Mahkamah Syari’ah pertama Singkil.

Menurut anaknya, Alaudin M ‘Aun, selama ayahnya berkarier di Mahkamah Syar’iyah Singkil dan berkecimpung dalam dakwah, ia bermitra dan bersinergi dengan berbagai ulama. Salah satunya ulama kesohor ahli hukum Islam yang acap diajaknya, yaitu ulama Gosong Telaga, Abuya M Fakih Yahya.

“Kalau ada persoalan-persoalan pelik bidang hukum di Mahkamah Syar’iyah dan saat berdakwah, ayah mengundang Abuya M Fakih Yahya ulama dari Gosong Telaga. Mereka berdiskusi dan memecahkan berbagai persoalan pelik yang ada,” ucap Alauddin suatu ketika.

Selama hidupnya, Abuya Syekh Muhammad ‘Aun menyunting lima orang isteri yang sangat dicintainya. Satu orang tinggal di Kota Natal, satu orang tinggal di Kota Padang dan tiga orang berdomisili di Kuala Baru.

Dari lima orang isteri, Abuya dikaruniai beberapa orang anak. Anak-anak beliau itu, ada yang mengikuti jejaknya menjadi ulama dan mursyid suluk.

Ada juga yang menjadi tokoh masyarakat dan orang berpengaruh di Kuala Baru dan berbagai tempat lainnya.

Salah satu anaknya yang mengikuti jejak dan kiprah Abuya Muhammad ‘Aun adalah almarhum Ustaz Alauddin (Ustaz Oden). Selain ia menjadi mursyid memimpin tawajuh dan suluk, ia sempat pula menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Singkil.

Abuya Syeikh Muhammad ‘Aun berpulang ke rahmatullah pada malam Kamis pukul sembilan tanggal 21 Januari 1970. Ia dimakamkan di kompleks surau atau dayah suluk Kampung Jirat, Kuala Baru, Aceh Singkil, Provinsi Aceh.[]

Editor : Ihan Nurdin