[Ruang Semangat]: Masa Isolasi, Masa Pengembangan Potensi Diri

Ilustrasi membuat kue

Oleh Nadia Aldyza Mawardi*

Saya merupakan salah satu warga Aceh yang sangat bersyukur saat ini. Bagaimana tidak, di saat saya sedang menulis tulisan ini, jumlah pasien positif Covid-19 di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh adalah nol (0). Hidup di tengah-tengah pandemi virus corona yang distribusi penyebarannya begitu cepat adalah masa-masa yang harus saya lalui dengan penuh kesabaran. Semakin hari, seolah-olah virus ini berevolusi karena mampu membuat inangnya sakit tapi tidak mengalami gejala, saat ini disebut orang tanpa gejala (OTG).

Namun, yang paling saya syukuri adalah saya berada di antara keluarga yang sangat pengertian dan peduli terhadap dampak dari virus corona ini. Sejak masuknya virus corona ke Sumatra, keluarga saya mulai menerapkan cuci tangan pakai sabun, memakai masker ketika keluar rumah, memakai hand sanitizer setelah menyentuh benda publik (ATM, pasar), dan segera mengganti pakaian setelah sampai di rumah. Jadi, kami menyediakan sabun khusus untuk diletakkan di teras rumah, sehingga siapa pun yang baru saja pulang harus cuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah. Ayah saya juga melarang kami untuk keluar rumah seperti duduk di kafe atau warung kopi dan melarang kami bertamu ke rumah orang lain. Hal-hal seperti ini mungkin terkesan lebay, tapi bagi saya ini adalah salah satu bentuk kepedulian karena saling menjaga itu perlu. Peraturan yang diterapkan selama virus corona ini menjadi salah satu ikhtiar keluarga saya untuk menjaga diri sendiri dan orang lain. Kita tidak akan pernah tahu posisi kita di luar sana, apakah kita yang tertular, atau kita yang menularkan. Jadi memang lebih baik berdiam diri di rumah saja.

Masa-masa isolasi (karantina) tentu masa yang membuat sebagian orang jenuh, apalagi jika orang tersebut memiliki kebiasaan bekerja setiap hari di luar rumah dari pagi hingga petang. Titik jenuh semakin meningkat diiringi berita-berita panas tentang jumlah pasien positif Covid-19 yang angkanya juga semakin bertambah. Menyiasati rasa jenuh dan khawatir akibat berita virus ini, saya mencoba menyibukkan diri dengan mencoba berbagai resep kue yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Sejak bulan Maret hingga April sekarang ini, saya sudah mencoba membuat kue serabi kinca, martabak manis mini, pukis, bolu kukus, pisang nugget, dan roti goreng. Berkat hobi saya yang membuat kue ini, keluarga saya menjadi senang. Rasa khawatir orang tua saya juga berkurang karena setiap harinya kami selalu berkumpul bersama sambil menyicip hasil masakan saya. Kegiatan memasak ini menjadi kegiatan positif saya selama di rumah. Adik-adik saya yang terpaksa melakukan pembelajaran daring di rumah, awalnya merasa sangat bosan sekali. Namun, dengan kue-kue yang selalu saya sajikan membuat suasana di rumah menjadi hangat dan adik-adik saya menjadi betah di rumah.

Dulunya, sebelum saya memikirkan untuk membuat kue-kue ini, saban hari saya selalu mengecek web terkait jumlah pasien Covid-19 di seluruh dunia dan di Indonesia. Setiap hari! Dan setiap hari itu pula kecemasan saya bertambah, sedikit batuk sudah mengira sakit corona, sekali bersin sudah mengira corona, sakit tenggorokan sudah mengira corona, sehingga saya menjadi frustrasi dengan diri sendiri. Syukurnya, saya mendapat peluang untuk bangkit dengan cara mensugesti diri sendiri untuk selalu mencoba hal-hal positif.

Saya terinspirasi dari kisah Wali Kota Bogor Bapak Bima Arya, beliau salah satu pasien positif Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh. Saya membaca sebuah berita menarik tentang beliau yang berjudul “Psikologi Sebut Diet Medsos Kunci Bima Arya Cepat Sembuh dari Corona“, yang intinya menceritakan bahwa kesembuhan Bapak Bima didukung dengan aktivitas beliau yang tidak kepo dan tidak membaca berita tentang Covid-19 selama proses penyembuhan. Saya mencoba mengikuti jejak beliau. Jadi selama sebulan penuh, sedikit pun saya tidak lagi membaca berita terkait penyakit Covid-19. Saya hanya fokus mencari resep-resep menarik yang patut dicoba. Ternyata teruji, setelah sebulan hanya fokus pada hal-hal yang menyenangkan, tak ada lagi rasa cemas berlebihan, tak ada lagi rasa takut ketika membaca media tentang virus corona. Pikiran dan tubuh terasa enteng, walaupun lemak di badan bertambah berat hahaha.

Saya juga ingin berbagi sedikit cerita, ketika saya pertama kali keluar rumah untuk ‘menghidupkan asap dapur’, saya benar-benar protektif. Saya memakai masker walaupun tidak sakit, saya menjaga jarak dengan pembeli lain, dan saya juga tidak bersalaman ketika bertemu dengan teman yang kebetulan berada di tempat yang sama. Selesai berbelanja, saya tidak lupa memakai hand sanitizer. Tiba di rumah, saya mencatat tanggal terakhir pergi ke pasar di note gawai saya. Tujuannya hanya sekadar wawas diri, yaitu ingin melihat kondisi tubuh setelah dua pekan setelah pergi ke pasar. Jadi, jika setelah dua pekan kondisi saya baik dan sehat, saya menganggap saya baik-baik saja. Lebaykah saya? Mungkin. Tapi saya tidak akan menyalahkan jika ada yang menganggap saya demikian. Sebab saya masih memiliki orang tua yang harus saya lindungi.

Saya belajar, menyepelekan atau meremehkan suatu penyakit malah dapat menjadi buah simalakama. Jadi tak ada salahnya kita memproteksi diri kita dari dampak virus corona ini. Saya berharap, masa isolasi ini jangan dijadikan masa pemberontakan diri, seolah-olah mati kutu tak dapat mengekspresikan diri. Tapi jadikanlah masa isolasi masa pengembangan potensi diri. Di luar sana, ada segelintir orang yang tidak dapat melihat matahari (baca: terisolasi di ruang rumah sakit). Kita sepatutnya bersyukur masih diberi kesempatan berkumpul bersama keluarga, dan dapat hidup bebas walaupun cuma di rumah saja.

Jika selama “liburan” di rumah kita tidak mampu menambah satu skill saja yang bermanfaat, berarti selama ini kita bukan kekurangan waktu, tapi kekurangan usaha. Maka saya harap teman-teman yang juga mengalami kegelisahan seperti yang pernah saya rasakan, saya mengajak teman-teman melihat ke depan cermin, menarik napas yang dalam, mengembuskannya perlahan, lalu katakan “saya baik-baik saja”. Bagi teman-teman kosan di perantauan yang mungkin tidak diperbolehkan pulang ke kampung halaman, sehingga tidak dapat bertemu dengan keluarga, bersemangatlah, jangan tunjukkan kerisauan kepada orang tua kita, nantinya mereka malah bertambah gelisah.

Mari ikut saya mencoba membuat kue-kue berbahan ekonomis, boleh jadi jika pandemi corona ini sudah berlalu, kita bisa membuat kue yang enak untuk orang tua. Atau mana tahu, selama ini ada skill terpendam yang tidak sempat diasah akibat kesibukan kerja, sehingga selama liburan ini dapat menjadi waktu lowong bagi kita untuk mempertajam skill tersebut. Seperti contoh skill menjahit. Saya melihat banyak teman-teman saya selama pandemi ini, mereka menjahit masker dan membagikan secara gratis ke orang-orang yang membutuhkan. Masyaallah, semoga menjadi ladang pahala bagi mareka yang sudah memberi bantuan. Jadi bagi anak rantau yang rindu pulang rumah, dan anak asöe lhôk yang rindu keluar rumah, cobalah hal-hal positif yang disukai, tak lupa kirimkan doa untuk orang tua agar senantiasa sehat, begitu pun Bumi kita. Amin.[]

*Penulis adalah mahasiswi Program Doktor di Universitas Sumatera Utara, memiliki hobi membaca, membuat kue, dan bermain gitar.

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent