Pertambangan dalam Sudut Pandang Perekonomian

Feri Sandria, ST

Oleh Feri Sandria, ST

Siang ini ketika sedang berselancar di internet saya tidak sengaja menemukan berita mengenai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas pembatalan izin PT Emas Mineral Murni (EMM) untuk menambang emas di Aceh. Sengketa izin pertambangan tersebut pun sebenarnya baru saya dengar kurang dari setengah tahun lalu, dan pada saat itu saya sendiri memilih untuk tidak ambil pusing perihal isu tersebut, karena isu ini saya rasa sangat sensitif.

Akan tetapi belakangan saya semakin gatal dan penasaran ada apa sih sebenarnya yang terjadi, hingga gelombang demo terjadi di beberapa kampus besar di Aceh. Belum lagi banyaknya berita dan postingan di berbagai sosial media menyiratkan seakan-akan kegiatan pertambangan merupakan perbuatan yang tercela, yang membawa banyak sekali keburukan terutama perihal lingkungan hidup. Stigma negatif ini saya takutkan bisa menjadi bumerang bagi keberlangsungan ekonomi Aceh dalam jangka panjang. Seolah-olah pertambangan hanya menjadi masalah saja bagi perekonomian Aceh, tidak bisa menjadi solusi.

Saya sendiri tidak dapat dikatakan ahli di bidang pertambangan, saya menulis ini berdasarkan minat pribadi terkait sumber daya. Saya mohon maaf jika terkesan menggurui, akan tetapi saya rasa ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dan perlu kita (masyarakat Aceh) pelajari. Pun di sini saya tidak bermaksud membela PT EMM, bagi saya itu persoalan hukum yang saya sama sekali tidak tahu-menahu ditambah lagi saya tidak terlalu mengikuti perihal isu sengketa pertambangan ini. Yang ingin saya bagikan adalah sedikit perspektif mengenai kegiatan pertambangan dan berbagai macam permasalahan yang ditimbulkan juga manfaat-manfaat yang bisa didapatkan.

Pertama, pertambangan memang bukan industri yang paling ramah lingkungan, dan ini terlihat jelas dari proses tambang terbuka yang bisa mengubah kontur permukaan suatu wilayah. Akan tetapi aturan pertambangan juga dibuat sedemikian rupa untuk mencegah timbulnya dampak-dampak negatif, terutama perihal pengelolaan lingkungan. Pemerintah juga mengeluarkan pedoman pengelolaan pertambangan yang baik dan benar (good mining practice) untuk memfasilitasi dan memastikan perusahaan tambang melakukan kegiatan bisnis ini secara benar.

Kedua, disadari atau tidak kehidupan kita sangat tergantung pada komoditas tambang. Sebagai contoh, apakah kita bisa bertahan selama satu hari tanpa menggunakan telepon seluler? Atau coba perhatikan sekeliling, ada berapa banyak benda yang Anda miliki yang bahan utamanya berupa logam seperti panci yang Anda gunakan untuk memasak, kulkas untuk menyimpan makanan, perangkat televisi untuk menonton dan masih banyak lagi. Sekarang, coba bayangkan jika seluruh dunia menghentikan kegiatan pertambangan supaya hutan tetap asri dan ekosistem semakin lestari. Apakah Anda yakin ingin hidup seperti itu? Saya menyukai salah satu kutipan dari film True Grit ketika Mattie Ross merefleksikan perjalanan hidupnya di akhir film dia berkata “You must pay for everything in this world one way and another. There is nothing free except the Grace of God.” Dan dalam hal ini bayaran dari kegiatan pertambangan adalah berubahnya kontur permukaan dan berubahnya tatanan ekonomi masyarakat sekitar.

Ketiga, kegiatan pertambangan adalah salah satu industri yang dapat menggerakkan ekonomi suatu wilayah dengan terciptanya lapangan kerja baik secara langsung maupun tidak langsung yang bisa memberikan dampak ganda bagi perekonomian. Sebagai contoh, ketika tambang beroperasi tentu dibutuhkan industri pendukung lain seperti jasa konstruksi, industri katering dan berbagai industri pendukung lainnya. Terdapat potensi terciptanya lapangan kerja baru dan juga perkuatan denyut ekonomi suatu daerah jika kegiatan ini dilakukan dengar kaidah yang baik dan benar. Belum lagi pendapatan fiskal yang diperoleh oleh pemerintah dalam bentuk pajak dan royalti. Pendapatan daerah tersebut nantinya juga akan dinikmati kembali oleh masyarakat, mungkin tidak secara langsung.

Keempat, komoditas tambang tidak selamanya memberikan manfaat yang sama sepanjang waktu. Hal ini dapat terjadi karena harga komoditas yang fluktuatif, juga karena bisa saja di masa depan peran andil suatu komoditas dapat tergantikan. Sebagai contoh, ketika teknologi terkait energi terbarukan seperti energi matahari dan panas bumi sudah sempurna dan harga untuk memproduksi energi bersih tersebut sudah sangat murah bisa jadi batubara akan ditinggalkan selamanya, begitu juga dengan minyak bumi. Kita tidak akan pernah bisa tahu secara pasti mengenai nilai suatu barang di masa depan, akan tetapi kita tentu bisa mengelola apa yang ada di masa kini dengan baik dan benar. Menjaga keberlangsungan hidup generasi masa depan tentu merupakan hal yang mulia. Akan tetapi ada hal lain yang juga tidak kalah pentingnya, seperti memastikan infrastruktur dan kualitas pendidikan sudah baik, serta pembangunan berkelanjutan dalam berbagai aspek termasuk ekonomi, kesehatan dan kesetaraan. Kita perlu sadar warisan kita kepada generasi selanjutnya tidak hanya alam yang asri dan hutan yang tidak tercemar.

Kelima, beberapa negara maju berhasil mendongkrak perekonomian mereka salah satunya dibantu oleh kegiatan pertambangan. Australia merupakan salah satu contoh nyata bahwasanya jika kegiatan pertambangan dilaksanakan dengan baik dan benar bisa memberikan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan. Negara-negara maju lain seperti Inggris, Amerika Serikat dan Prancis juga pernah bergantung pada industri pertambangan. Selanjutnya pasti ada juga yang akan berkata bagaimana dengan teori kutukan sumber daya (resources curse), yang ingin saya katakan di sini kutukan itu tidak berasal dari sumber daya itu sendiri. Hal ini terjadi karena pengelolaan yang buruk seperti pemerintahan yang korup. Pada akhirnya toh tidak ada komoditas yang terkutuk bukan?

Akan tetapi jangan lupa, ada Korea Selatan. Negara yang sumber daya alamnya jauh lebih sedikit dari pada negara tetangga Korea Utara, tetapi lebih maju secara ekonomi. Saya pribadi akan sangat senang jika Pemerintah Aceh memiliki keinginan untuk melakukan replikasi kemajuan ekonomi Korea Selatan. Terlepas dari berat tidaknya jalan yang harus ditempuh, yang ingin saya garis bawahi dari keajaiban ekonomi Korsel adalah, sangat mungkin suatu negara memperoleh kemajuan secara ekonomi tanpa terlalu banyak menyentuh sektor sumber daya.

Terus pertanyaan selanjutnya adalah saat ini sudah di manakah posisi kita? Apakah kita secara ekonomi sudah mampu untuk berdikari? Apakah jika tanpa bantuan dana otonomi khusus, ekonomi Aceh masih akan tetap aman? Apakah kita sudah punya industri padat modal yang bisa memberikan lapangan kerja yang luas dan penghidupan yang layak untuk seluruh masyarakat? Apakah sumber daya manusia kita sudah bisa bersaing di tingkat nasional (tidak usah dulu di kancah global)?

Saya sendiri tidak bisa memberikan jawaban yang bisa membuat saya sendiri puas. Akan tetapi saya ingin menyampaikan ada beberapa sektor ekonomi yang jika dikelola dengan baik bisa memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan dan bisa dipergunakan untuk kemajuan bangsa. Saya ingin menyampaikan agar kita tidak dibutakan oleh berbagai hal negatif yang bisa kita hindari untuk memperoleh dampak positif. Saya ingin menyampaikan demi memperoleh kemajuan, kita bangsa Aceh memiliki banyak opsi yang bisa dilakukan, asalkan kita berniat sungguh-sungguh untuk melakukannya. Semoga kita menjadi bangsa yang maju di masa depan, yang bisa mewariskan kebaikan untuk generasi berikutnya.

Penulis adalah alumnus Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung. Putra Aceh yang kini berdomisi di Bandung ini bekerja di salah satu konsultan swasta bidang pertambangan.