[Ruang Semangat]: Tanpa ‘Aturan’, Belajar Itu Mengasyikkan

Oleh Alimuddin*

Aturan itu seperti kopi tanpa gula, pahit dan pekat. Sedikit nan minim penyukanya, ya, ramai yang di barisan membenci dan menghujat. Bisalah kita sebut demikian. Tapi Anda bisa setuju atau tidak? Hehe. Dan yang bernama sekolah, kelas, belajar tentu saja dekat sekali dengan aturan. Ya, harus masuk jam segini, buat ini, tidak boleh ini dan tak boleh itu, dan masih banyak tidak-tidak lainnya. Tentu, kita harus mengakui bahwa siswa kerap menggerutu, bosan dan ogah-ogahan belajar. Nah, lazimnya seperti itu.

Pahamlah kita tentu saja bahwasanya wabah Covid-19 melanda di mana-mana dan itu telah menjadikan aktivitas sekolah berhenti. Jika kelas atawa belajar dilakukan secara online, apa jadinya ya? Tidaklah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilaksanakan dengan bertatap wajah, segalanya akan serba daring (online). SMA Swasta Sukma Bangsa Lhokseumawe turut seperti itu.

Tentu saya harus katakan bahwa kelas online bukan hal yang baru di sekolah kami. Musabab, telah lazim kami laksanakan kelas blended learning (belajar online). Sebut saja untuk contoh, ujian atau remedial online atau tatkala guru berhadir masuk maka kelas online menjadi pilihan.

Tapi di masa Covid-19, segalanya melulu online. Apa jadinya, ya? Kembali kita soalkan itu. Pikir saya, kelas akan ‘mati’, diskusi akan basi dan mereka akan masuk kelas telat-setelatnya. Dan banyak negatif-negatif lain yang berjejer-jejer bak pagar bambu di kepala saya.

Itu ternyata hanya syak wasangka nan kekhawatiran belaka saja. Ya, cemas yang lebih tanpa terlebih dahulu mengerjakan. Tapi kejadian apa yang terjadi setelah segalanya selesai? Semua dan segalanya berlangsung menyenangkan dan mengasyikkan. Mengejutkan, bagi saya pribadi.

Saya masuk di XI IPS Maldives hari Senin. Itu adalah Senin pada jelang akhir Maret dan bulan April mulai mulai mengintai dengan beraninya. Ya tanggal 30 Maret 2020 yang cerah dengan matahari panas minta ampun. Google Class Room, begini nama aplikasi yang sekolah kami pakai. Sederhana dan jauh sekali dari kata ribet sehingga guru dan siswa dapat mengaksesnya dengan tiada kendala apalagi pusing berkali-kali.

Tentu saja jelas itu bukan satu-satunya aplikasi yang boleh kami pakai karena ada juga pengajar yang gunakan aplikasi Zoom dan juga E Learning, sebuah aplikasi internal dari sekolah Sukma Bangsa Aceh. Ya, segalanya kembali ke selera dan kebutuhan.

Nah, hampir semua siswi dan siswa di kelas Maldives yang banyaknya 26 sudah hadir di forum. Itu melegakan,  dan yup, kami belajar Ekonomi, membahas laju inflasi yang sedang marak terjadi, kami melakukan itu hari ini. Hal remeh-temeh, kami mengawali kelas seperti itu. Saya memberikan beberapa kuis. Lalu siapa cepat menjawab. Ya, tebak kata, negara, sambung-sambung kata ekonomi, dan tanya-tanya sederhana. Dan siswa-siwi berlomba, berebut kecepatan untuk menjawab. Tidak lupa dan ketinggalan, saling melempar candaan ringan di antara sesama mereka.

Lalu diskusi bermulalah, tentang inflasi, tema kami pada kali ini. Itu adalah naiknya harga barang secara terus menerus diakibatkan langkanya sejumlah berang-barang tertentu. Nah, ini karib kaitannya dengan wabah virus Corona di mana-mana barang-barang langka sekali ditemukan.

Dan sedikit memberi pengantar dan mengikhtiarkan melibatkan pengalaman mereka dengan tema. Nah, diskusi ini adalah diskusi-diskusi ringan yang bernomor satu hingga empat. Tiap nomor diskusi aktif dari siswa-siwa, itu yang saya rasakan. Saya berikan nilai langsung di forum ketika siswa menjawab. Tak melulu nominal, terkadang cukup dengan kata-kata sedikit lagi 100, hampir sempurna dan lain-lain. Nah, itu seru.

Ya, satu-dua siswa kadang absen menjawab di satu nomor, pun tak mungkin menanti semua mereka menjawab karena waktu memanglah terbatas. Tapi di lain nomor, akan ada jawaban mereka. Pikir saya, kelas seperti ini bisa membuat nyaman siswa dan juga guru tentu saja. Bahkan kita menemui realita itu di kelas bertatap wajah.

Penghujung pertemuan, ada tiga soal berjenis analisis dan logika yang harus mereka jawab di kertas. Dan pukul 12 teng ketika waktu kelas online berakhir sudah, sebagian besar dari siswa sudah menyelesaikan kerja mereka. Maka beban hari ini selesai sudah dan mereka di hari itu bisa saja santai dan rileks-ria.

Tapi, tapi pembaca semuanya, bukan kedalaman materi yang ingin saya tekankan pada hari ini, melainkan perasaan antusias dan semangat, tanpa beban dari siswa. Kalau saya, merasakan hal tersebut. Barangkali-mungkin banyak teman-teman pengajar yang juga rasai hal yang sama. Sepakatkah perihal ini?

Tentulah belajar di rumah, siswa tiada terikat dengan terlalu banyak aturan. Tak boleh itu, tidak boleh ini, dilarang A hingga D, begitulah segala sesuatu yang bernama aturan. Dan kelas online pastilah menjadi semuanya berbeda. Ya, mereka bisa melakukannya-belajar sambil makan, minum, berpindah-pindah tempat sesuka mereka. Atau sambil tidur-tiduran, plus dengar musik dan bernyanyi-nyanyi bisa saja, hehe. Tentu saja hal-hal itu tergolong ke dalam hal-hal yang menyenangkan bukan?

Dan yang paling penting, siswa tidak menerima sindiran, repetan bisa jadi dari kita gurunya. Itu belum ditambah dengan mata melotot bak lototan Suzanna di film Bernapas Dalam Kubur. Atau paling ringan, lototan versi Luna Maya di versi paling gres dari film tersebut. Tapi sepertinya sama-sama mengerikan bukan?

Dan jangan lupa jika di kelas bertatap wajah, ada ekstranya lho, ya, biasanya banyak yang iringan tugas alias soal yang mengiringi. Dan dengan sedikit ‘ancaman’ lazimnya, harus segera dikerjakan. Jikalau tidak, nilai akan seperti itulah atau begitulah.

Tapi, tentu saja kita janganlah salah cerna dan silap kaprah dalam hal aturan ini. Tentulah itu menjadi kebutuhan mutlak dan primer di mana saja kita bernaung, terlebihnya tatkala belajar-mengajar sedang berproses dilaksanakan. Tapi yang sering terlupakan bahwa acapkali aturan itu menjadi mengerikan dan minus toleransi. Pun lazimnya pola komunikasi dalam menafsirkan itu aturan terkadang tanpa senyum dengan keluaran wajah ’boh kruet’ edisi paling mutakhir di tahun 2020, mendengar siswa plus sangat minimalis memahami siswa dan mendikte-vonis layaknya guru adalah diktator serba mahabenar. Serta plusnya, kita sebagai pengajar kerap melabel siswa telah keliru 100 persen dengan hanya menghafal alur latar belakang mereka. Ya, hal-hal begini mau tiada mau telah mengkreasikan aturan jadilah sesuatu yang banyak dibenci.

Dan hadirlah kelas online dengan aturan minimal. Nah, sepertinya itu membuat belajar secara online bagi mereka terasa mengasyikkan. Penutup, bagaimana rasanya belajar online dengan tak banyak ‘aturan’? salah satu siswa XI Maldives menjawab dengan foto seperti ini. Pada akhirnya ini hanya bentuk perasaan atau opini saya saja. Belum teruji kebenarannya.

*Penulis adalah guru di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent