Kenaikan Bawang Merah Picu Terjadinya Inflasi

@aceHTrend/Masrian Mizani

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe – Bank Indonesia menyampaikan, berdasarkan rilis Badan Pusat Satistik (BPS) Kota Lhokseumawe pada April 2020 tercatat mengalami deflasi atau penurunan harga barang dan jasa secara umum sebesar 0,29 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (Maret) sebesar 0,64 persen (mtm).

Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Lhokseumawe, Yukon Afrinaldo menyampaikan inflasi di Kota Lhokseumawe April 2020 lebih rendah dibandingkan dua kota yang menjadi perhitungan inflasi yaitu Kota Banda Aceh sebesar 0,80 persen (mtm) dan Meulaboh sebesar 0,22 persen (mtm).

“Secara keseluruhan, Provinsi Aceh mengalami deflasi sebesar 0,15 persen (mtm), menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,60 persen (mtm) dan inflasi nasional sebesar 0,08 persen (mtm),” katanya, Rabu (6/5/2020).

Berdasarkan perkembangan tersebut maka inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada April 2020 mencapai 3,13 persen (year on year/yoy) atau terkendali dalam kisaran sasaran inflasi pemerintah sebesar 3,0 persen kurang lebih satu persen.

Dia menyebutkan deflasi terutama bersumber dari penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,31 persen, kelompok transportasi 0,11 persen, serta informasi, komunikasi dan Jasa Keuangan sebesar 0,06 persen.

Sementara kelompok kesehatan; kelompok pakaian dan alas kaki, serta kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin mengalami inflasi dengan andil masing-masing sebesar 0,66 persen, 0,31 persen dan 0,05 persen.

Selain itu, lima komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi terbesar di Kota Lhokseumawe adalah daging ayam ras sebesar 0,14 persen, cabai merah 0,11 persen, angkutan udara 0,11 persen, ikan tongkol 0,07 persen dan biaya pulsa ponsel 0,05 persen.

Adapun penurunan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh pembatasan sosial dalam rangka pencegahan Covid-19 yang menyebabkan permintaan daging ayam ras khususnya oleh pelaku usaha kuliner menjadi berkurang.

“Penurunan harga juga terjadi pada cabai merah disebabkan pasokan yang masih stabil dari sentra produksi sekitar yaitu Kota Lhokseumawe, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, namun permintaan dari luar daerah menurun sehubungan dengan pembatasan sosial,” sebutnya.

Demikian halnya harga angkutan udara yang tercatat mengalami penurunan karena rendahnya permintaan di tengah kebijakan pembatasan perjalanan. Sejak tanggal 25 April 2020 penerbangan dari dan ke Bandara Malikussaleh telah dihentikan sementara, hingga akhir bulan Mei 2020. Sementara itu, pasokan ikan tongkol kembali normal setelah mengalami keterbatasan akibat gelombang tinggi pada Maret lalu.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi di antaranya bawang merah dengan andil 0,14 persen, emas perhiasan 0,13 persen, ikan biji nangka 0,03 persen, pisang 0,02 persen, dan gula pasir 0,02 persen.

Dia menyebutkan kenaikan harga bawang merah mengalami inflasi akibat pasokan dari lokal yang terbatas disebabkan sentra produksi belum memasuki panen. Beberapa daerah produsen antara lain Bener Meriah dan Aceh Tengah memiliki tanaman bawang merah dengan usia tanam berkisar 2–3 bulan dan diperkirakan dapat panen pada Mei 2020,” katanya.

Sementara pasokan bawang merah dari luar daerah dibatasi penjual karena pembatasan sosial, dan adanya kecenderungan penjual menahan penjualan ke luar daerah untuk memenuhi kebutuhan HBKN Ramadhan di daerahnya sendiri. Di samping itu harga emas perhiasan mengalami peningkatan sejalan dengan harga emas global yang terus naik.

“Ke depan, inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2020, yaitu 3,0 lebih kurang satu persen. Untuk itu, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga,” pungkasnya.[]

Editor : Ihan Nurdin