Mursyidah: Janda Tiga Anak Jadi Buruh Cuci demi Hidupi Sang Buah Hati

Mursyidah dan putra bungsunya @aceHTrend/Mulyadi Pasee

DI UJUNG sebuah gang di Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, terbatas sebuah rumah yang dihuni oleh janda miskin bersama tiga buah hatinya. Sehari-hari, janda bernama Mursyidah itu bekerja sebagai buruh cuci dan gosok untuk menghidupi keluarga.

Jam menunjukkan waktu pukul 14.00 WIB saat aceHTrend berkunjung ke rumahnya, Senin (4/5/2020). Dari luar tampak Mursyidah sedang melaksanakan salat Zuhur. Setelah itu, Mursyidah dan anaknya yang paling kecil keluar dan mempersilakan aceHTrend masuk.

Mursyidah mempersilakan aceHTrend duduk. AceHTrend yang sebelumnya pernah berkunjung ke sini melihat ada perubahan pada rumahnya. Sebelumnya, rumah Mursyidah yang berukuran 4×6 meter itu dindingnya sudah bolong-bolong. Kini sudah menjadi layak huni setelah dibantu oleh dermawan.

“Rumah ini direhab awal tahun 2020 oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe dan dibantu material berupa 10 sak semen dan truk pasir oleh Toke Dan (Safizal), salah satu pengusaha di Lhokseumawe,” kata Mursyidah kepada aceHTrend.

Mursyidah sangat bersyukur dengan bantuan rehab rumah ini. Mursyidah kini harus menjadi tulang punggung untuk mencari biaya hidup dengan menjadi buruh cuci dan menyetrika baju warga sekitar dengan penghasilan Rp-300 ribu per bulan.

Walaupun tercatat sebagai penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH), tetapi tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya.

“Tentu dengan penghasilan saya segitu, tentu tidak cukup. Meskipun itu saya harus bersyukur dapat memunuhi kehidupan ketiga anak saya yaitu Fitriani (13) yang masih duduk di bangku kelas VI SD dan M Reza (11) kelas IV SD, dan M Mirza (4,5),” kata Mursyidah yang baru ditinggal suaminya menghadap Sang Pencipta pada Oktober 2019 lalu.

Mursyidah juga bercerita bila dulunya dia sering menitipkan keripik buatannya ke setiap warung kopi, tapi karena tak ada lagi modal terpaksa berhenti. Karena selama ini hasil jualan keripik itu digunakan untuk kebutuhan di rumah.

“Untuk saat ini saya sangat butuh modal usaha, untuk bisa kembali membuat keripik pisang dan dititipkan di warung-warung,” kata Mursyidah dengan penuh harapan agar keinginannya itu terwujud.

Mursyidah merupakan janda tiga anak yang berhasil membongkar kasus dugaan penimbunan gas elpiji 3 kg di Meunasah Masjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Belakangan Mursyidah malah ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus tersebut. Majelis hakim Pengadilan Negeri Lhokseumawe saat sidang pamungkas memutuskan Mursyidah dihukum tiga bulan penjara, dengan masa percobaan enam bulan tanpa kurungan.[]

Editor : Ihan Nurdin