[Ruang Semangat]: Sepenggal Kisah Anak Rantau di Masa Covid-19

Oleh Maula Sari*

Hujan rintik-rintik membasahi sudut kota ini, hujan yang jatuh membuatku semakin nyaman dengan kota ini. Yah, kota yang dikenal dengan sebutan rindu dan penuh kenangan, serta kota pelajar ini sangat membuatku nyaman untuk melanjutkan studiku. Selalu ada alasan untuk terus pulang ke kota ini. Maka tidak salah mereka menyebutnya Daerah Istimewa Yogyakarta, seistimewa kota dan warganya yang membuatku terus betah bersama mereka. Namun, ketakutan mulai merasuki ke dalam hati-hati kami, khususnya mahasiswa dan mahasiswi Aceh yang berada di Yogyakarta. Semenjak virus Covid-19 mulai mewabah ke negara kita tercinta, Indonesia. Beruntungnya aku tinggal di asrama Aceh, dengan empat puluh mahasiswi putri yang tinggal di sana. Kami mulai menyemangati satu sama lainnya dan memberi solusi satu sama lainnya. Mereka ada yang mulai menelepon keluarga, bertanya pendapat kepada keluarga di kampung halaman masing-masing. Tak terkecuali diriku, seperti itu juga yang kulakukan.

Siang ini tak seperti biasanya, virus ini semakin menyebar luas dalam wilayah Indonesia. Khususnya di Yogyakarta, walau belum ramai, tetapi sudah ada beberapa yang positif virus corona. Kami saling mendoakan agar Allah selalu menjaga kami semua, keluarga, dan teman semua. Teman-temanku bahkan ada yang membeli bahan pokok untuk beberapa hari ke depan, mereka takut akan keadaan yang semakin kronis. Bahkan beberapa teman asramaku sudah ada yang memesan tiket  pesawat untuk kepulangan mereka ke kampung halaman masing-masing. Aku masih yakin dengan tekadku bahwa aku belum ingin pulang ke kampung halaman. Karena alasanku, masih ada beberapa orang yang tinggal di asarama hanya 50% saja yang baru pulang saat itu. Tiket pesawat yang sedang murah-murahnya menjadikan mereka lebih bersemangat untuk pulang. Salah satu temanku berkata, “La, pulang yuk daripada kamu sendirian di sini, kalau kamu sakit nanti kamu gada yang ngejagain loh,” membuatku semakin resah dan goyah.

Malam itu,seperti biasanya hujan masih mengguyur kota manisku. Teman sekamarku juga telah pulang ke kampung halamannya, sehingga aku pun tertidur sendirian setiap malamnya. Aku terbangun dengan suara jangkrik yang menemaniku kala itu. Kakiku menggigil kedinginan, serta tanganku juga kedinginan. Kipas angin yang berputar langsung kumatikan. Badanku terasa dingin dan menggigil, kubalut kakiku dengan kaus kaki dan selimut. Ketika fajar terbit aku belum juga bisa terlelap. Esoknya temanku bertanya, “Kenapa kamu La?” Aku menjawab sepertinya sakit demam. Mereka berkata dengan candaan, “Hayoo sepertinya kamu gejala Covid-19.” Hatiku mulai ketakutan dan tak kugubris tanggapan itu. Allah akan menjagaku, pikirku.

Hari-hari kuisi dengan berolahraga kecil di halaman asrama, seperti berlari, berjemur, dan meminum jamu atau wedang. Seketika sakitku mulai agak sembuh dan aku juga mulai bersemangat lagi. Namun, ketika malam tiba, demamku mulai naik lagi disertai badanku yang menggigil. Teman asramaku, mulai memijiti aku dengan ramuan bawang merah setiap malamnya. Namun, demamku tak kunjung reda juga. Semakin hari sakitku semakin membuat badanku melemah. Berita-berita yang ada di sosial media terus kulihat dan kudengar. “Ya Rabb, apakah aku terjangkit virus ini?” Aku takut menularkan kepada teman-temanku. Keluargaku sangat panik kala itu, mereka menyuruhku pulang ke kampung halaman. Namun, aku tak ingin pulang, takut membawa virus kepada keluargaku di Aceh.

Akhirnya, temanku memberikan solusi kepadaku untuk memeriksakan kondisiku ke pukesmas terdekat. Aku pergi dengannya saat itu, dengan menggunakan protokol dari pemerintah untuk jaga jarak, menggunakan masker, bahkan memakai sarung tangan saat keluar menuju pukesmas. Di sana juga diberlakukannya jaga jarak. Hatiku masih deg-degan di jalan. “Ya Allah, aku belum siap jika aku terkena covid ini, namun apabila iya, maka inilah takdirmu dan pasti ada hikmah di balik ini semua,” hatiku mulai berkecamuk. Ketika mulai mengantre di pukesmas, namaku akhirnya dipanggil oleh perawat dan masuk ke dalam ruang dokter. Di sana aku ditanya berbagai hal, namun pertanyaannya mengarah pada covid-19. Dokter menyarankan agar aku periksa darah agar tahu demamku ini karena apa. Karena demamku sudah seminggu tak kunjung reda. Hatiku hancur, dan mulai berpikir macam-macam mengenai virus ini.

Tak kuasa aku menangis di sepanjang jalan pulang sambil membonceng temanku. Temanku memijatku dari belakang seraya berkata, “Tidak apa-apa, kamu jangan berpikir buruk kita tidak keluar daerah hanya di asrama saja untuk apa takut.” Nasihatnya kudengar namun tangis tak kuasa pecah hingga kami sampai di asrama. Aku tak tahu melakukan pengecekan darah di mana, dan aku takut akan alat-alat dokter. Orang tuaku menyuruhku pulang, namun aku semakin takut untuk kembali. Semakin takut mereka akan ikut terinfeksi sepertiku. Aku terus berdoa dan berfikir macam-macam terkait virus Covid-9 ini. Aku mulai mencari di internet gejala-gejela, cara pengobatannya, dan segala hal terkait covid-19 ini. Kuberdoa pada Allah agar dijauhkan dengan virus ini.

Setelah menimbang beberapa hari, beberapa anak asrama sudah ada yang mulai kembali ke Aceh. Akhirnya, aku takut hanya tinggal beberapa orang, dan memutuskan untuk memesan tiket juga. Namun, H-2 sebelum keberangkatan ke Aceh, aku bertekad ingin memeriksa darahku terlebih dahulu. Kuberanikan diri dan kuyakini dalam diriku bahwa “itu hanya alat dokter biasa, ini sakit hanya sehari saja”. Entah apa yang merasukiku, aku benar-benar pergi sendirian ketika mengecek darah, dan mengurus segala hal sendirian. Aku takut jika teman-temanku bersamaku mereka akan tertular jika nantinya aku benar-benar positif. Setelah menunggu beberapa jam, tes darah keluar dan alhamdulillah aku negatif Covid-19. Betapa bersyukurnya diriku, Allah mendengar doa-doaku.

Teman-temanku bertanya, mereka sudah yakin bahwa aku negatif, aku hanya mempunyai rasa takut yang berlebihan akibat Covid-19 dan mengakibatkan demam, serta sakit kepala. Setelah dua hari kemudian, aku pulang ke Aceh dengan menaiki pesawat Citilink. Ayahku menjemputku pulang, tetapi tetap menjaga jarak dengannya. Sesampainya di rumah aku melakukan isolasi mandiri di dalam kamar dan keluargaku tidak boleh menyentuhku dan menjaga jarak denganku selama empat belas hari. Ibuku memberikanku jamu, serta makanan yang bergizi dan aku sangat bahagia. Sehingga ketika aku pulang ke rumah, demamku sudah hilang tidak ada sama sekali.

“Apa karena aku merindukan keluargaku,” pikirku. Aku meyakini bahwa energi positif yang kita tanam, akan membuat kita semakin sehat dan kebahagiaan adalah kunci utama dalam segala hal, yakinlah segalanya akan baik-baik saja.[]

*Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan berasal dari Kota Langsa

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent