[Ruang Semangat]: Menjalankan Amanah sebagai Guru dalam Kondisi Covid-19

Oleh Cut Suci Mustika, S.Pd.*

World Health Organization (WHO) telah menetapkan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai pandemi karena telah menyebar ke lebih dari seratus negara. Isolasi mandiri pun diimbau kepada masyarakat untuk memutus rantai penyebaran virus. Seiring seruan isolasi mandiri dengan tidak keluar rumah kecuali dalam kondisi mendesak, masyarakat pun membentuk rutinitas yang berbeda dari biasanya walaupun dalam ruang gerak terbatas.

Banyak pula hikmah dari isolasi mandiri ini, misalnya, lalu-lintas tidak sepadat biasanya, dan waktu bersama keluarga terasa lebih erat. Walaupun ada beberapa dampak negatif seperti masyarakat kelas bawah yang tetap harus berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup. Selain itu, aspek religi pun harus mengalami perubahan kondisi. Ibadah rutin yang biasanya dikerjakan bersama-sama, tetapi harus ada sedikit perubahan aturan baru dalam beribadah seperti memakai masker, physical distancing, mencuci tangan, dan sebagainya.

Pemerintah juga dengan tegas mengimbau bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah dari rumah. Berkaitan dengan imbauan ini, perubahan kondisi pun terjadi dalam beberapa aspek, salah satunya  dalam dunia pendidikan. Inovasi dalam pendidikan sebagai antisipasi penyebaran Covid-19 juga dilakukan dan membuat dunia pendidikan menjadi berubah 180 derajat. Karena salah satunya solusi yang bisa ditawarkan dengan melakukan pembelajaran daring (online learning).

Penulis yang bekerja sebagai guru di salah satu sekolah dasar swasta di Kota Banda Aceh juga harus mengubah rutinitasnya, yang biasanya mengajar face-to-face sekarang harus mengajar secara daring, yaitu pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan komputer atau gadget sehingga guru dan siswa dapat saling berhubungan secara interaktif. Penulis pun memanfaatkan aplikasi Whatsapp dalam melakukan pembelajaran daring ini.

Kreativitas dari guru pun sangat diharapkan sebagai kunci suksesnya pembelajaran daring ini. Terlebih, siswa yang diayomi oleh penulis adalah anak SD yang berusia 7-12 tahun. Walaupun tidak seefektif yang diharapkan, tetapi penulis berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menjalankan amanah sebagai guru, dengan tetap mendidik dan memberikan ilmu kepada siswa-siswanya seefektif dan semenarik mungkin. Kegiatan mengajar daring ini rutin saya lakukan dari Senin hingga Sabtu. Bahkan terkadang hari Minggu masih pula disibukkan dengan mencari bahan mengajar untuk keesokan harinya.

Namun, penulis sangat bahagia masih bisa menjalankan amanah sebagai guru di tengan kondisi pandemi ini. Walaupun setiap harinya harus disibukkan dengan laptop dan ponsel untuk memantau kelas daring sampai menunggu siswa mengirim tugas hingga malam hari. Penulis juga harus pintar dalam membagi waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ujian akhir nasional untuk siswa akhir pun ditiadakan karena kondisi Covid-19 ini. Namun, mereka tetap harus mengikuti ujian akhir sekolah (UAS) secara daring.

Penulis berusaha agar ujian tetap menyenangkan dan seefektif mungkin agar siswa tidak merasa tertekan. Di tengah situasi belajar mengajar daring ini pula, peran orang tua untuk bekerja sama dengan guru sangat diharapkan. Orang tua diharapkan selalu bersemangat dalam mendampingi anandanya dalam proses belajar daring.

Terakhir, salah satu hikmah pandemi ini pula bahwa kehadiran guru tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi. Anak-anak banyak yang mengeluh bosan dan terasa seperti jenuh dan membosankan karena belum pernah mengenal dan terbiasa dengan pembelajaran daring ini. Lagi-lagi, kehadiran guru tetap saja selalu dirindukan oleh siswanya. Tak henti-hentinya mereka menanyakan kapan sekolah akan aktif kembali. Yang terpenting adalah guru harus tetap memberikan semangat serta motivasi agar siswanya selalu semangat dalam belajar, walau dalam ruang gerak terbatas ini seraya berdoa agar pandemi Covid-19 segera berakhir dan situasi dapat normal kembali.

Salam semangat dari penulis untuk semua guru yang masih tetap berjuang dan berkontribusi dalam mendidik generasi bangsa di tengah situasi Covid-19 ini.[]  

Penulis adalah putri keempat almarhum M. Nasir Abdussamad, M.Si. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry. Berdomisili di Dusun Timur Kopelma Darussalam.

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent