Curah Hujan Pada Dasarian I Mei Tertinggi di Aceh Selama 10 Tahun Terakhir

Oleh Muhajir

Banjir pada awal bulan Mei tahun 2020 yang terjadi di Ibu kota Provinsi Aceh, Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya dikarenakan curah hujan ekstrim yang terjadi pada Kamis tanggal 07 hingga Jum’at 08 Mei 2020. Dari hasil pengamatan curah hujan pos-pos hujan kerjasama Stasiun Klimatologi Aceh Besar, curah hujan dengan intensitas ekstrim (curah hujan >100 mm perhari) tercatat di Banda Aceh Kec. Lueng bata 152 mm, Ulee Kareng 152 mm, Meuraxa 107 mm, Jaya Baru 125 mm dan Aceh Besar Kec. Lhoong 130 mm, Pulo Aceh 287 mm, Stamet SIM 108 mm, Krueng Barona Jaya 213 mm.

Dalam perhitungan ini, satu milimeter hujan berarti air turun di wilayah seluas satu meter persegi akan memiliki ketinggian satu milimeter jika air tidak meresap, mengalir, atau menguap. Angka 0 mm per hari mengindikasikan cuaca berawan; 0.5–20 mm hujan ringan; 20–50 mm hujan sedang; 50–100 mm hujan lebat; 100–150 mm hujan sangat lebat (Ekstrim). Curah hujan yang turun terpantau sangat lebat dan merata di Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya.

Pengkajian data historis curah hujan harian BMKG Stasiun Klimatologi Aceh Besar selama lebih kurang 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa curah hujan kumulatif yang terjadi di Banda Aceh dan beberapa kecamatan di Aceh Besar pada dasarian I(tanggal 1 s.d 10) Mei 2020 ini tergolong cukup tinggi dan belum pernah tercatat di data BMKG sebelumnya. Kondisi dengan curah hujan lebat pada Mei dasarian I pernah terjadi tahun 2013 di Banda Aceh dan Aceh Besar, namun secara kumulatif curah hujan Mei 1 tahun 2020 masih tetap lebih tinggi dibanding tahun 2013. Bila di tinjau dari curah hujan rata-rata, curah hujan yang terjadi ini jauh di atas normalnya.

Seperti diketahui banjir, longsor dan curah hujan ekstrim tak hanya terjadi di Banda Aceh dan Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya hal yang sama juga terjadi, tercatat hujan di Kecamatan Panga 135 mm, Teunom 149 mm dan Pasie Raya 92 mm. Pantauan satelit cuaca BMKG pun menunjukkan tutupan awan-awan konvektif atau awan-awan hujan lainnya yang cukup tebal terjadi merata di Kota Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Pidie hingga Bireuen dan masih akan berpotensi terjadi hingga beberapa hari ke depan di sebagian wilayah tersebut dan sekitarnya.

Analisis meteorologis menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas sangat lebat ini terjadi akibat adanya fenomena lokal berupa wilayah tekanan rendah di Selat Malaka bagian utara dan tekanan rendah di Samudera Hindia dekat wilayah Aceh, sehingga terjadinya pembelokan angin dan konvergensi masa udara di atmosfer wilayah Aceh. Dengan adanya belokan angin dan konvergensi di atmosfer Aceh sehingga uap air yang terbawa oleh pergerakan masa udara berkumpul di atmosfer Aceh. Kondisi atmosfer berupa tekanan rendah diprediksi akan berakhir dalam dua hingga tiga hari kedepan dan cuaca akan kembali normal.

Ditinjau dari pola curah hujan di wilayah Sabang, Banda Aceh, sebagian Aceh Besar, Aceh Jaya hingga pantai Barat Selatan Aceh. Berdasarkan data rata-rata curah hujan 10 tahun terakhir dapat dianalisis bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki pola curah hujan equatorial. Tipe hujan ini memiliki dua kali puncak curah hujan, yang mana puncak tertinggi pertama jatuh di bulan November hingga Desember dan puncak kedua di bulan April hingga Mei, dan akan mengalami curah hujan terendah di bulan Juni hingga Juli.

Penulis Muhajir, S.Si, seorang Forecaster Senior BMKG Aceh Besar.