Lhob Mate, Sekot, dan Corona

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Ahmad Humam Hamid

Ada kesukaran tersendiri dalam menjelaskan kepada publik tentang sejumlah kata yang berasosiasi dengan musibah besar yang tengah melanda dunia saat ini. Tidak hanya nama penyakit Covid-19 yang sama sekali tidak familiar dengan kuping dan mata kita, sejumlah kata lain yang menyertai penyakit itu juga membuat lidah kita – terutama lidah Aceh-jadi berputar dua tiga kali, persis seperti ketika makan pisang goreng panas.

Sejumlah kosakata seperti lockdown, coronavirus, ventilator, tidak hanya ganjil dan aneh bagi awam, bagi pekerja kesehatan tingkat menengah ke bawah pun kata itu jarang didengar. Kata itu tak ada dalam buku kuliah, dan bahkan sama sekali asing. Namun dari sejumlah kata itu, kata lockdown merupakan kata paling populer di masyarakat.Tiba-tiba saja muncul kata kuncitara dalam bahasa Indonesia sebagai padanan kata lockdown bahasa Inggris. Kata baru Indonesia ini bukannya menerangkan arti lockdown bagi publik, bahkan merumitkan,sama asing dan rumitnya dengan kata lockdown itu sendiri.

Di Aceh, kata lockdown tersebar bahkan sampai ke pelosok desa pedalaman seperti Kelitu Sintep, Bintang ,Aceh Tengah, ataupun desa pesisir Matang Lada di Seneudon Aceh Utara. Pemahaman kata lockdown di pedesaan nampaknya lebih mudah dimengerti oleh petani dan petambak dibandingkan orang sekolahan kelas menengah perkotaan. Menerangkan sebuah kata asing kepada publik, apalagi kepada masyarakat desa memerlukan sentuhan pengalaman sosial yang mereka alami dalam kehidupan mereka sehari hari.Kata lhob mate, adalah padanan kata lockdown yang paling sesuai, paling kurang untuk masyarakat Aceh pesisir. Tidak kurang penting, Dataran Tinggi Gayo juga punya padanan kata ,sekot, yang bersaudara kandung dengan lhob mate.

Lhob mate misalnya adalah kata yang digunakan untuk sebuah kompleksitas strategi mengeringkan sawah dari aliran air, dilakukan menjelang panen, yaitu dengan membendung hulu alur atau kali, sekaligus mengalirkan air ke tempat lain, termasuk bangunan irigasi untuk memastikan tidak ada setetes air pun yang masuk ke sawah, sehingga proses pematangan padi akan sempurna.

Di tambak yang agak jauh dari kuala, lhob mate juga dilakukan untuk proses pengeringan tambak untuk beberapa waktu tertentu dan untuk keperluan tertentu. Bedanya jika lhob mate sawah dilakukan di hulu, lhob mate tambak dilakukan di hilir untuk membendung air pasang. Di Dataran Tinggi Gayo, padanan Lhob mate adalah sekot, digunakan untuk membendung tali air di musim kemarau dan digunakan untuk menangkap ikan. Intinya, apakah lhob mate atau sekot adalah memutuskan mata rantai hubungan fisik dengan cara isolasi dari sekelilingnya. Dalam konteks lockdown Covid-19, yang dimaksud adalah pembatasan mobilitas manusia, pembatasan kerumunan, dan pembatasan gerakan, yang kesemua itu ditujukan untuk keselamatan manusia secara bersama.

Lhob Mate :Wuhan, Tapei, Lodi, New York, Mong Cai dan Stockholm.

Lima kota dan satu propinsi di berbagai belahan bumi ini barangkali ikon global yang dapat mewakili variasi ukuran hantaman corona, derajat kebijakan dan keputusan pemerintah, serta dimensi sosial kesiapan dan kepatuhan rakyat. Di sisi lain enam tempat itu juga membuktikan tidak ada pengaruh sistem dan ideologi yang sangat berarti dalam mengerem berkembangnya Corona.

Wuhan adalah ikon global epidemic abad 21 yang akan dicatat sebagai pelatuk perubahan besar kemanusian saat ini dan pasca corona. Seperti dicatat oleh harian Wall Street Journal, pasien pertama adalah Wei Guixian, seorang pedagang udang di pasar ikan Wuhan dan masuk ke rumah sakit pada 16 Desember 2019. Sejak saat itu, -dan bahkan mungkin sebelumnya, corona terus berbiak dari Wuhan-Hubei ke seluruh Cina dan pada 7 April 2020, Cina telah mencacat 82,718 kasus dengan jumlah kematian 3,335 orang.Tidak hanya itu, corona juga telah menyebar ke 212 negara, dan sampai hari ini 3,9 juta jiwa kasus positif, dan angka kematian 270,312 jiwa.

Tentu saja Cina tidak main-main dengan corona. Dengan segala cara mereka tempuh untuk menjinakkan corona, mulai dari membangun RS khusus yang siap dalam tempo 10 hari, kapasitas 1000 ranjang, lhob mate di kota Wuhan, Hubei, dan lima propinsi berdekatan lainnya pada tanggal 23 Januari 2020, deteksi awal, karantina awal, dan pengobatan dini. Semua itu dilakukan dengan cara-cara “non demokratis” dan “cara Cina ”, dan bahkan ancaman hukuman keras bagi pelanggarnya. Mental negara dan aparaturnya adalah “mental perang”. Hasilnya, pada tanggal 8 April, ketelah 76 hari terkurung, lhob mate dipulihkan secara perlahan, namun tetap dengan pengawasan dan kehati-hatian yang ketat. Hasilnya, sampai hari ini hanya 4,633 kematian, bandingkan dengan AS yang sudah mencapai lebih 75,000 kematian.

Cerita Wuhan sangat berbeda jauh dari saudara kandungnya yang berpisah di Pulau Taiwan. Menurut penilaian WHO dan banyak lembaga internasional,Taiwan dianggap sebagai salah satu negara yang paling berhasil dalam mengatasi pandemi corona. Bayangkan di tengah ledakan global pandemi corona, Taiwan yang dibatasi laut 110 mil dari daratan Cina, sampai dengan Mei 2020, hanya mempunyai 440 kasus positif dan enam orang meninggal.

Apa rahasia keberhasilannya? Dalam artikel yang ditulis sendiri oleh Presiden Taiwan Tsai Ing Wen di majalah Time, dibeberkan bahwa rahasia keberhasilan Taiwan terletak pada kekompakan yang sangat luar biasa dari berbagai pemangku kepentingan, pemerintah, profesional kesehatan, sektor swasta, dan masyarakat luas. Memori publik terhadap ledakan flu SARS pada tahun 2003 yang memakan korban dua ratusan jiwa, membuat mereka menjadi sangat siaga ketika mendengar apa saja yang menyangkut dengan potensi wabah di manapun di dunia.

Pada bulan desember 2019,ketika bisik bisik berita tentang wabah baru yang “aneh” di Wuhan, pemerintah Taiwan segera memonitor secara ketat setiap penumpang pesawat yang mendarat dari Wuhan. Pada bulan Januari segera didirikan Posko Corona yang menjadi otoritas pengendali wabah corona. Langkah-langkah penting segera diambil seperti pembatasan perjalanan umum, dan karantina ketat untuk pelintas yang berisiko tinggi. Hanya dalam tempo lima minggu Taiwan telah melakukan 124 tindakan nyata dan strategis untuk melindungi kesehatan publik (Journal of the American Medical Association, Maret 2020) Mulai dari larangan warga Wuhan datang ke Taiwan, produksi dan penyediaan masker secara besar besaran dengan harga terjangkau, sampai dengan denda 150 juta bagi pasangan warga yang membandel keluar rumah dalam masa 14 hari karantina .

Memang salah satu kelebihan Taiwan adalah sistem pelayanan kesehatan publik yang paripurna, tetapi itu belum cukup,karena kompleksitas wabah corona masih menjadi misteri besar, bahkan sampai dengan hari ini. Inilah yang membuat instruksi pemerintah kepada sektor swasta yang memproduksi alat kesehatan dan larangan ekspor -terutama yang berhubungan dengan corona- diikuti dan ditaati dengan baik. Masyarakat sipil berperan dalam memastikan distribusi masker kepada publik, memeriksa dan membetulkan berbagai berita yang tidak benar tentang corona,dan mengkampanyekan tentang corona kepada publik.

Sekalipun RRC dianggap berhasil mengatasi corona dengan jumlah korban yang “terkendali”, tetapi Taiwan jauh lebih berhasil dari Cina Daratan. Apakah kemudian relevan membandingkan ideologi dan sistem yang berbeda dalam menghadapi amukan pandemi seperti corona ?Terlalu awal untuk menjawab pertanyaan “nakal” ini.

Penulis adalah guru besar di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.