Orang Singkel Bukan Monyet, Melainkan Manusia Belaka

Peta Wilayah Singkil

Oleh Zulfikar RH Pohan*

Apakah kebudayaan sifatnya statis, menetap, pasti, dan begitu-begitu saja, atau justru merupakan konstruksi dari proses-proses struktural, historis, terjadi melalui identitas yang melembaga dan terus-menerus berubah? Perdebatan yang masih menjadi topik panas dalam ilmu-ilmu sosial ini masih relavan untuk membedah contoh nyata. Di sini, saya akan menggambarkan Singkel sebagai contoh konkret dari dampak dekolonialisasi, dan hasil narasi yang diobok-obok oleh akademia, birokrasi pemerintahan, dan opini lepas sampai pada tatanan masyarakat apa yang dihasilkan kini.

Singkel digempuri dengan tuduhan, klasifikasi-analitis dangkal, dan stigma. Alhasil, Singkel tidak mampu menerjemahkan realitasnya sendiri, Singkel lebih teridentifikasi oleh imajinasi penjajah, atau ditafsirkan secara banal oleh dari pola pikir hasil konstruksi yang terpengaruh dengan paradigma superior penjajah. Konstruksi yang dibangun penjajah masih kerap diikuti dan dipahami sebagai sesuatu yang natural dan tanpa kritik dari Singkel sendiri. Sadar atau tidak, mentalitas kaum terjajah setelah masa penjajahan masih menyisakan sisa-sisa merasa rendah (inferior) terhadap wacana-wacana superior, begitulah pandangan Frantz Fanon dalam The Wretched of The Earth (2004) mengenai inferiotitas yang terjadi akibat kolonialisasi, eksploitasi, dan penundukan yang berdampak pada konteks tatatan masyarakat Singkel.

Definisi yang diberikan Barat dan paradigma dekolonialisasi ialah tuduhan pada subjek inferior, memberikan definisi menjadi sebuah upaya bahwa selamanya yang didefinisikan takkan bisa lebih baik dari yang mendefinisikan. Singkel amat seksi untuk didefiniskan, dan diteropong dari jauh. Tome Pires bukan hanya sekali menuduh Singkel sebagai tempat orang-orang kanibal (2014, 193), tuduhan yang sama dilontarkan oleh Sadri Ondang Jaya dalam bukunya ‘Singkil dalam Konstelasi Sejarah Aceh’ sebagai ‘…masyarakat yang tidak beragama’ (2015,131) pada masa dahulu, dilengkapi dengan kategorisasi yang diciptakan oleh Muhajir al-Fairusy ‘Singkel: Sejarah, Etnisitas, dan Dinamika Sosial’  mengenai Singkel yang terpecah menjadi ‘kade-kade’ dan ‘ba’apo’.

Singkel: Kanibal dan Tak Beragama?

Kerancuan dari argumen-argumen di atas mengenai Singkel adalah sebuah posisi yang tidak berpihak pada realitas yang dimiliki oleh objek yang dibicarakan. Dengan kata lain, imajinasi Pires, Sadri Ondang, dan Muhajir mengenai Singkel adalah imajinasi kalangan ‘superior’ untuk menentukan posisi golongan inferior. Belakangan, diketahui tuduhan Pires erat hubungannya dengan politik dagang Portugis dengan kerajaan Singkel yang tak mesra, di samping itu misionarisme Kristen tidak berhasil di Singkel, kemudian muncullah istilah pagan, pagan sendiri kini memiliki makna yang pejoratif, pagan sebagaimana definisi awalnya menurut James C Scott dalam buku ‘Perlawanan Kaum Tani’ (1993) adalah masyarakat petani (paganus) lalu dituduh gereja sebagai corak masyarakat yang barbar dan tak beradab.

Setelah itu, Sadri Ondang gagal menakar sejarah sosial masyarakat, terlebih mengenai sistem religi masyarakat Singkel, paradigma agama dunia yang digunakan Sadri Ondang membuat uraiannya pincang. Sehingga menganggap di luar enam agama yang diakui oleh negara bukanlah agama sama sekali, tentu saja ini keliru dan patut disayangkan melihat paradigma agama leluhur (Indigenous religion) melalui kacamata agama global (world religion). Memahami agama, terlepas dari batasan atau standar yang dibuat oleh negara melalui Undang-undang PNPS tahun 1965 ialah sistem kepercayaan pada masyarakat, meskipun ia disebut kepecayaan para leluhur, ia tetap dipandang sebagai agama. Agama Buddha tidak memiliki konsep Tuhan akan tetapi masih dianggap sebagai agama. Alasannya sederhana, agama Buddha masih memiliki ajaran spiritual. Elemen spiritual adalah hal paling mendasar dalam kehidupan kelompok maupun individu, kepercayaan akan hari akhir, dan adanya roh, spirit, dzat dan lain-lain adalah bentuk agama (Durkheim: 1965, Spradley: 1975).

Di sini, bentuk tafsir Sadri Ondang pada sejarah Singkel bersinggungan dengan apa yang dituliskan oleh Tome Pires, kurang lebih berdasarkan pada fondasi keyakinan yang sama, yakni: Singkel aslinya adalah orang-orang tak beradab, terbelakang, dan amoral (karena tak punya agama).

Menggugat Segregasi Ba’apo dan Kade-kade

Di sisi lain, Muhajir membagi kategori pada orang Singkel antara kade-kade dan ba’apo, berdasarkan amatan empiris yang ia lakukan. Dapatkah diterima? Tentu tidak. Wilard Van Qrman Quine, filsuf neopragmatisme, dalam Philosophy of logic (1970) menunjukkan bahwa proposisi saja kerap tidak cukup untuk menjelaskan kebenaran, ketika sang pembuat proposisi mengabaikan perbedaan antarbahasa serta perbedaan formulasi di dalam suatu bahasa maka yang didapat adalah kesalahan makna. Artinya, pengamatan empiris bukan berarti kebenaran, sebab hal yang tampak dan berulang belum tentu memiliki makna dan arti yang sama. Dan, penyebutan kade-kade dan ba’apo di Singkel oleh orang Singkel bukanlah bentuk segregasi, sebagaimana orang Singkel menyebut bahasanya sebagai ‘bahasa kampong’ bukannya ‘bahasa Singkel’. Memang, untuk memahami penempatan istilah ‘kade-kade’ dan ‘baapo’ harus memahami bahasa Singkel. Hanya tahu kade-kade dan apo-apo tidaklah cukup, Muhajir juga harusnya paham kaidah dasar bahasa Singkel seperti: ‘dikenai, lako mike, bue kidah khembah kekade, tah lako mi jehe, tah lako mi julu, mahan ateku tekise’.

Kategori identitas yang dicomot dari bahasa oleh Muhajir secara mentah-mentah menyisakan banyak kerancuan alih-alih sebagai jawaban segregasi kelompok dan identitas di Singkel. Yang ditakutkan adalah, kodifikasi baku yang ditulis Muhajir yang tidak dikritisi nantinya akan dipercaya anak cucu kita kalau orang kade-kade dan ba’apo itu berbeda. Padahal, pada faktanya antara orang ‘baapo’ dan ‘kade-kade’ adalah hubungan pertukaran identitas yang cair, sebagian besar mempunyai garis keturunan yang sama, pertukaran corak kesenian dan kebudayaan dsb.

Miskinnya Imajinasi Singkel Era Dekolonialisasi

Kalutnya identitas orang Singkel, membuat ketimpangan pada imajinasi dan kemampuan mendefinisikan realitas bagi orang Singkel sendiri. Karena itu, upaya untuk kembali melacak identitas riil orang Singkel dari orang Singkel sendiri masih terpengaruh oleh pandangan-pandangan yang tak jauh-jauh dari konstruksi yang telah dibangun oleh golongan superioritas awal, yakni penjajah.

Alih-alih memberikan pencerahan pada definisi yang mengikat, sebagian gerakan yang menamakan diri sebagai ‘Pemerhati Budaya’ di Singkel justru menjawabnya dengan pembelaan yang menggelikan, untuk tidak dikatakan naif dan polos. Yaitu sebuah upaya untuk mengelus-elus masa lalu, dan nostalgia berkelompok merindukan zaman yang konon ‘maju’. Dalam sebuah pendekatan kritis, Frantz Fanon mengungkapkan strategi kolonial untuk membodohi daerah jajahannya dengan cara mengampanyekan daerah jajahannya sebagai bangsa-bangsa yang adiluhung, sabar, baik, dan patuh. Tujuannya adalah melanggengkan tatanan masyarakat kolonial di mana bangsa terjajah didesain untuk patuh, sabar, dan lain-lain.

Cek fakta, pada beberapa daerah jajahan Belanda di Singkel, Pembantu Pemerintahan kolonial di Singkel (orang Singkel menyebutnya Kontellekh) mendukung pesta-pesta adat Singkel, kesenian Singkel dan lain-lain untuk menjaga stabilitas masyarakat kolonial. Sebagai pengingat, dalam ulasan Bennedict Anderson mengungkapkan bahwa apabila ada sekelompok orang yang memberikan penjelasan bahwa kamu punya kebudayaan yang kaya, sejarah yang gemilang, “hati-hatilah! Karena kekayaan alammu akan dicurinya!” tandas Bennedict Anderson (2015). Jauh sebelum kita mempunyai ide mengangkat tarian lokal di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), penjajah lebih dulu mempunyai inisitif ini rupanya.

Lagi-lagi apa yang kita pikir sebagai usaha untuk memahami Singkel atau mengangkat-harkat-martabat-Singkel, ternyata tidak jauh-jauh dari konstruksi kolonial. Dampaknya adalah, masyarakat Singkel secara garis besar kehilangan haluan dalam pergerakan massa, ironis melihat bagaimana respons masyarakat Singkel kebanyakan mengenai pemilihan umum kepala daerah Kabupaten Aceh Singkil yang masih dua tahun lagi, akan tetapi sekumpulan golongan norak telah membicarakan siapa yang yang akan mencalonkan diri menjadi bupati untuk mencari ‘posisi strategis’ dalam kampanye, atau generasi muda yang terlalu banyak dicekoki seminar kepemimpinan telah berpose dan menampilkan diri sebagai calon bupati di masa depan. Klise. Dan memang ditanggapi dengan serius dari berbagai pihak. Seolah, kekuasaan adalah tujuan akhir dari semua orang (berduit dan punya pengaruh).

Dampak paling ironis adalah, hilang-timbul tak terselesaikannya perampasan lahan oleh perusahaan kelapa sawit, dan tak kita sadari pula bahwa hutan adat Singkel telah habis tak bersisa. Persis seperti judul tulisan S.M Kartosiwiryo ‘Orang Lampung Bukan Monyet, tetapi Ialah Manusia Belaka!’ sebagai sebuah protes untuk penjajah Belanda berupa perampasan hutan-hutan adat orang Lampung pada tahun 1929, karena menurut Kartosuwiryo, orang Lampung bukanlah monyet yang diusir dari satu pohon dan pohon lainnya, lalu dihina seenaknya oleh kolonial, diberi nama oleh kolonial, dan dicap perusak. Singkel kini menghadapi nasib yang kurang lebih sama.

Menjawab pertanyaan saya di paragraf pertama, dalam kasus Singkel sejarah berulang, bergerak dan dibentuk matang-matang orang penjajah dan orang-orang yang terlihat seperti pribumi tapi punya pikiran kolonial. Memang, pendudukan kolonial di Singkel telah berakhir, tapi tidak dengan tatanannya. Kita sebagai orang Singkel harus berani menafsirkan realitas![]

*Zulfikar RH Pohan,putra daerah Singkel, lahir di Cingkam kini menjalani Master di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) UGM

Editor : Ihan Nurdin