Terjebak Tafsir Insider & Konsep Self-Interpretation

Respon untuk Makna Singkel Pascakolonial

Muhajir Al-Fairusy, antropolog Aceh.

Oleh Muhajir Al-Fairusy

Sebuah pesan lengkap dengan linktulisan masuk ke whatsapp saya; ada pesan tulisan opini Zulfikar Pohan yang mengkritisi penulisan tentang Singkel tidak mewakili objek realitas. Kian tragis dengan imajinasi liarnya menuduh para penulis wajah Singkel adalah turunan dari pola kolonial menggambarkan wajah kebudayaan masyarakat di luar kebudayaannya. Padahal, dari paragraf awal, penulis telah terjebak dengan alur sengkarut berpikirnya, dengan memberi amunisi narasi jika memang kebudayaan akan terus dinamis. Jadi, apa yang dilihat dan dikritisi oleh ZP adalah bagian dari kritikan itu sendiri dalam konteks kebudayaan. Apalagi, sebuah karya sosial (sejarah dan kebudayaan) itu akan terus berubah, sesuai perubahan masyarakat (tidak statis).

Kondisi masyarakat yang dilihat oleh Tom Pires, seorang diplomat Portugis mengenai masyarakat Asia Tenggara dalam bukunya “Suma Oriental” pada tahun 1512-1515 adalah tulisan dan informasi awal mengenai kehidupan masyarakat di kawasan Asia Timur dan Tenggara pada abad ke-16 (pada saat itu). Artinya, kondisi kebudayaan mayarakat yang dilihat oleh Tom Pires masih ditemui masyarakat Kanibal yang hidup di sebagian kawasan pedalaman Sumatera adalah gambaran sepotong kebudayaan sekelompok masyarakat yang memang ada.

Kecenderungan penulis Barat dan etnografi biasanya menulis apa adanya yang dilihat, dirasakan dan didengar. Bukankah ia juga telah menggambarkan bagaimana transaksi kapur barus sebagai simbol peradaban di kawasan Singkil dan Barus yang pesat. Pun, bagaimana kesibukan Bandar Aceh Darussalam yang sedang merengkuh peradaban. Kebudayaan terus berkembang dan berubah, beratus tahun kemudian, masyarakat yang menetap di kawasan inipun akan berubah dari posisi masyarakat yang pernah digambarkan Pires saat itu. Jadi, amat sesat menafsirkan dan memberi tuduhan pada penulis seperti Tom Pires adalah bagian dari cara kolonial memperlakukan wajah identitas masyarakat.

Penggambaran tersebut tidak dapat digeneral ke seluruh segmen struktur masyarakat yang hidup di sana. Jadi jika mencopot salah satu diksi dari beberapa karya, selanjutnya menuduh bahkan men-judge sepihak disertai menyeret segudang konsep sosial dengan mencopot sana sini, jika karya dan tulisan Tom Pires adalah culas dalam rangka mendefinisikan masyarakat di sana adalah kegagalan membaca sejarah. Termasuk, mencopot diksi-diksi kecil yang menyempil dari rentetan karya berikutnya (Sadri, Muhajir Al Fairusy, dan bahkan Iskandar Norman yang pernah menulis identitas etnis Singkil pada sebuah rubric lama), dan tetap berada pada posisi menuduh karya tersebut gagal membaca realitas sosial menjadi sikap keliru berpikir yang dipaksakan sebagai insider pemilik kebudayaan. Sama seperti orang-orang Aceh sebagian besar tidak sepakat dengan Snouck Hurgronje saat ia menggambarkan orang Aceh, tak sedikit yang masyarakat menuduh Snouck mengada-ngada bahkan terlalu liar membaca Aceh, tapi secara realitas sosial justru mempraktikkan apa yang pernah ditulis oleh Snouck.

Meluruskan Cara Berpikir Warisan Kolonial

Postcolonial sebagai turunan dari pascamodernisme yang digunakan ZP sebagai alat analisis menempatkan tulisan-tulisan pihak luar di luar kebudayaannya bagian dari warisan budaya kolonial terkesan terlalu dipaksakan untuk membenarkan imajinasinya mengenai kekeliruan penulis luar keliru memahami Singkel secara realitas sosial.

Anomalinya, ZP belum memiliki tulisan utuh dan komprehensif realitas sosial yang diagung-agungkannya untuk melihat masyarakat Singkel versinya. Ia terjebak pada beberapa potongan diksi yang mengganggu alur berpikirnya dari karya-karya sebelumnya (Pires, Sadri, Muhajir) tanpa membaca utuh dan komprehensif karya tersebut secara konstektual.

Selanjutnya, terlalu tergopoh-gopoh menunjuk karya di luar alur berpikirnya sebagai serpihan kolonial. Ia kian gamang saat membangun narasi semiotik antara kasus yang dilihat oleh S.M Kartosiwiryo dengan menyamakannya dengan kasus Singkel.

Tulisan Sadri misalnya, Singkil dalam Konstelasi Sejarah Aceh merupakan karya menggambarkan kehidupan masyarakat Singkil pesisir. Jadi, bukan Singkel keseluruhan seperti yang dibayangkan oleh ZP. Sadri dengan gaya menulis sejarahnya, hanya ingin menarasikan peran dan jejak Islam yang pernah eksis di sana-khususnya di kawasan pesisir, pun ia tak masuk dalam studi perubahan sosial yang terkesan menafikan keberadaan agama lain di Singkel. Jadi, dia hanya bermain-main dengan narasi kejayaan Islam di Aceh dan Singkel. Jadi, ZP perlu melacak kembali metodologi dan asumsi awal yang digunakan oleh penulis Sadri ketika menelurkan karyanya. Apalagi, ia telah menulis jika karya ini masih perlu pembenahan ke depan.

Term “baapo” dan”kade-kade” yang digunakan Muhajir dalam buku Singkel, Sejarah, Identitas… adalah amatan awal yang dituangkannya ketika menulis kebudayaan di luar dirinya. Pun itu, secara realitas sosial hidup di tengah sebagian masyarakat Singkel dalam rangka mendefenisikan diri mereka. Istilah ini tak bisa dibaca dalam konteks segregasi, apalagi pengentalan identitas secara politis-seperti pemahaman pembaca ala ZP, melainkan klasifikasi territorial antara pesisir dan hulu dengan memakai bahasa sebagai simbol identitas diri.

Jika menyebut dua term tersebut sifatnya mencair, ZP keliru, karena definisi diri berdasar identitas antara kedua kelompok kian mengental jika diselami. Sebagai orang yang menetap di hulu, ZP mungkin merasa mengalir lancar saja kedua identitas (berkelindan dan saling mempengaruhi). Realitasnya, kondisi dualisme term tersebut amat terasa dalam kelompok pelajar di Banda Aceh, dan saat dilakukan indept interview. Pun, dalam karya Muhajir, pembahasan term baapo dan kade-kade, hanya secuil dari narasi berikutnya yang telah dijelaskan secara kompleks bagaimana identitas Singkel itu dinamis dengan upaya-upaya konstruksi dan achieved. Kondisi ini hampir sama seperti Geertz menggambarkan Islam Jawa dengan kategori (abangan, santri dan priyayi) apakah term dapat dikatakan bagian dari mata-mata kolonial? Ia menggambarkan realitas sosial masyarakat Jawa di Mujokuto dengan cara thick description.

Tulisan singkat yang ditulis dalam hitungan 60 menit ini, hanya upaya standar tanpa tedeng aling-aling teori dan paradigma sosial yang ketat untuk memberi gambaran awal dari kerancuan berpikir insider ala ZP dengan menuduh karya sebelumnya dan di balik nalar berpikirnya sebagai tulisan yang masih beraroma kolonial. Siapapun, punya kapasitas menterjemahkan masyarakat dan kebudayaan dalam konteks sosial.

Apalagi, setiap karya selalu beranjak dari amatan dan metodologi tersendiri. Pun, sembari menunggu karya ZP dalam rangka menggambarkan Singkel dalam wajah realitas sosial tanpa mata-mata kolonial sebagaimana yang dipersepsi dan diimajinisikan olehnya.

Penulis adalah antropolog.