Cerita Corona dari Kacamata Dayah

@ist

Oleh Abuna Muchlis Abdullah*

Virus corona telah membuat banyak perubahan di muka bumi. Hal-hal yang dulunya dianggap aneh sebelum adanya corona, lantas menjadi biasa saja ketika corona menyerang. Tentu tidak terbayangkan oleh kita sebelumnya bakal ada penutupan masjid, sekolah, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat keramaian lainnya. Tentu juga tidak terbayangkan oleh kita ketika orang-orang tidak boleh keluar rumah dalam jangka waktu tertentu. Kota-kota di lockdown. Pun dengan penggunaan masker yang biasanya hanya digunakan oleh segelintir orang namun sekarang digunakan oleh kebanyakan orang.

Tentu banyak lagi imbas dari corona yang tidak mungkin kita paparkan semua. Melihat dari sisi dayah, corona telah membuat beberapa dayah terpaksa meliburkan santri lebih awal ketimbang jatah libur sebenarnya. Sehingga ada dayah yang tengah melaksanakan ujian terpaksa harus menghentikan di tengah jalan dan segera memulangkan santrinya. Biasanya santri dayah baru libur H-10 menjelang puasa, dan kembali ke dayah H+10 Lebaran.

Jika tidak ada aral melintang dan corona sudah menghilang total, berarti santri baru kembali ke dayah untuk proses belajar mengajar pada hari ke sepuluh Lebaran Idulfitri.

Ada yang unik dari santri dibandingkan dengan pelajar di sekolah umum. Berhubung santri baru libur total ketika puasa, banyak dari kalangan santri berinisiatif untuk melakukan safari dakwah. Melakukan ceramah-ceramah singkat setelah pelaksanaan Tarawih ke gampong-gampong. Kebanyakan santri ketika libur dayah mereka akan berkumpul di dayah-dayah gampong tempat mereka menimba ilmu sebelum melanjutkan ke dayah yang lebih besar. Nah, di dayah gampong inilah biasanya mereka membentuk dan mengaktifkan kegiatan safari dakwah. Kegiatan ini bertujuan selain melatih mental santri di samping sebagai ajang aplikasi ilmu yang selama ini sudah di dapatkan di dayah.

Namun, kegiatan yang sudah berlangsung tiap tahun ini menjadi beda ketika terjadi wabah corona. Jika safari sebelumnya lebih semarak dengan jangkauan gampong yang lebih banyak, safari dakwah kali ini hanya menjangkau beberapa gampong seputaran dayah.

Di dayah, seorang santri diajari dan dituntut untuk siap tampil di tengah-tengah masyarakat. Apakah untuk berceramah atau sekadar pidato di hadapan mayat, makanya di dayah ada waktu khusus untuk latihan muhazarah (latihan pidato). Apakah seminggu sekali atau seminggu dua kali sekali tergantung kebijakan pengurus dayah.

Peluang dan keterampilan santri ini seharusnya juga menjadi perhatian khusus dari pemerintah, sehingga kelak lahir kader-kader penceramah andal yang siap tampil di tingkat nasional dan global untuk mensyiarkan dakwah.

Imbas lain dari corona adalah pembangunan fisik dayah menjadi terganggu. Beberapa pembangunan seperti bilik atau asrama, musala menjadi mandek karena corona. Padahal pembangunan ini perlu dikebut mengingat jatah santri kembali ke dayah tinggal hitungan hari. Ditambah lagi sekarang musim hujan, beberapa lokasi tergenang banjir.

Di tengah wabah corona ini semoga perhatian pemerintah untuk dayah juga lebih besar, tidak membedakan antara sekolah formal dengan dayah. Karena pada hakikatnya semua yang belajar adalah pelajar. Sudah sepantasnya apa yang didapatkan oleh pelajar sekolah formal juga turut dirasakan oleh santri dayah. Semoga.[]

*Penulis Pimpinan Yayasan Dayah Mulia Blang Bintang Aceh Besar/ Ketua HUDA Wilayah Aceh Besar

Editor : Ihan Nurdin