[Cerpen]: Cempala Naila

Ilustrasi

Oleh Teuku Hendra Keumala*

“Akbar, kau tau kenapa aku bisa berada di tempatmu ini? tanya Naila suatu hari kepada lelaki di sampingnya.

“Tentu saja aku tidak tau jika kau tidak menjelaskannya kepadaku, sepertinya aku tertarik mendengar ceritamu, mengapa kau bisa terdampar di sini?” jawab Akbar.

“Jauh sebelum kita berjumpa dan berkenalan sampai menjadi akrab, aku telah mendatangi tempat ini, sampai aku menjadi sering mengunjungi tempat ini dan mempertemukan kita.”

“Kala itu aku sendiri memastikan tempat yang baru saja aku samperi, ini tempat benar-benar baru bagiku, bahkan aku tidak pernah terpikir jika aku berasal dari sini. Di persimpangan empat, terdapat pohon beringin besar nan rimbun. Persis seperti petunjuk yang disampaikan ibu dan ayah angkatku dari Negeri Kanguru.”

“Di bawah pohon besar berjejer rapi kursi-kursi dari kayu yang sudah termakan usia, kursi yang sedang kita duduki ini. Seperti yang kau lihat Akbar, kursi ini bersih dan mulus karena tempat ini merupakan sebagai persinggahan orang-orang yang melakukan perjalanan. Kecuali kita yang hanya mengunjungi tempat ini seminggu sekali sekadar duduk bercengkerama.”

“Kala itu aku mendekat, sembari memilih duduk di salah satu kursi di sana. Kau tau aku sudah sangat lama ingin mendatangi tempat ini, bisik hatiku kala itu. Setelah bertanya ke sana-kemari, menempuh jarak berpuluh-puluh mil, naik turun pesawat, gonta-ģanti mobil sampailah di negeri para raja tempat di mana saya dilahirkan, 20 tahun silam.”

“Akbar, aku datang untuk sebuah pencarian, dari tempat ini cerita getir itu berawal. Aku terpisah dengan ibu biologisku. Saat kecil aku yang masih terbalut bedong abu-abu tertidur pulas di atas kursi itu, tiada orang yang menemani, lantas kedua orang tua angkat aku kala itu sebagai wisatawan melihat, karena merasa iba dan membawanya ke Negeri Kanguru tempat mereka berasal.”

“Lantas aku hidup dan dibesarkan di negeri terasing itu, keseharian dan budayanya lebih ke barat-baratan, meskipun postur tubuh mereka masih melekat dengan ketimuran. Setelah puluhan tahun, kini aku pulang menjemput harapan, berjumpa dengan kedua orang tua. Namun harapan itu pupus, tiada siapa yang bisa aku temui di sini, selain orang gila itu, iya orang gila. Dan kemudian bertemu dengan kamu.”

“Bagaimana kau tau jika orang itu gila,” tanya Akbar, sambil menatap Naila.

“Memang,” kata Naila, “aku tidak mengetahui riwayat asal muasal orang gila itu. Tapi semenjak itu kami selalu bertemu di sini.”

“Tidak perlu banyak bertanya, aku memastikan jika orang itu benar-benar tidak waras karena terlihat dari cara ia berpakaian, rambut berantakan persis nenek lampir, dipelukannya terdapat sebuah boneka lusuh, kedua matanya sudah copot, boneka itu dipakaikan bedong kain warna abu-abu, dan terbungkus kain panjang lusuh yang selalu dililitkan di lehernya, sesekali ia meracau, menyodorkan dodot ke mulut boneka itu.”

“Namun, saat kami berjumpa ia selalu sodorkan ayaman burung cempala yang terbuat dari daun kelapa muda, berwarna putih, kekuning-kuningan seperti ketupat Lebaran, aku selalu meraih sodoran itu dari tangan keriput ibu tua itu, untuk kemudian berlalu meninggalkan aku sendiri.”

Naila kembali mengisahkan kepada Akbar, “Selang beberapa bulan kemudian, aku kembali mengunjungi tempat ini, karena masih sangat yakin jika tempat inilah terakhir aku berpisah dengan kedua orang tuaku. Namun, keyakinan itu belum pula aku buktikan, aku sulit mencari tempat untuk menggali jejak mereka paling tidak mencari informasi tentang dirinya dan asal muasal mereka.”

“Kau tau, setiap sampai di tempat ini, tiada siapa yang aku dapati, selain hanya nenek tua gila itu. Pernah suatu ketika ia duduk persis di sudut jalan sana,” kata Naila sambil menunjuk salah satu sudut jalan di depan mereka.

“Dari jauh ia melemparkan senyum padaku, kemudian mendekat seraya menjulurkan ayaman cempala dari daun kelapa yang masih hijau muda, tanpa sepatah kata kemudian ia pergi meninggalkan aku untuk kemudian hilang di persimpangan.”

Berbilang minggu, berganti bulan dan tahun, Naila masih larut dalam pencarian, berbagai sudut kota itu sudah ia datangi, upayanya belum juga membuahkan hasil.

“Seperti pagi itu, aku pergi dengan menumpangi bus kota menelusuri jalan protokol, kembali mendatangi persimpangan empat, terdapat pohon beringin besar yang rindang.”

“Seseorang telah menunggu di sana, tanpa sepatah kata, saat aku mendekat dari dalam bedongan boneka miliknya, perempuan gila itu kembali mengeluarkan burung cempala, yang terbuat dari anyaman daun kelapa kering, warna cokelat keabu-abuan, disodorkannya kepadaku seperti biasa sodoran itu aku sambut.”

“Kemudian aku raih dan kumasukkan ke dalam tas kecil yang tergantung di pinggang. Aku selalu berupaya mengajak bicara perempuan itu, tapi selalu saja usaha itu gagal, perempuan itu kembali menghindar kemudian pergi, hilang ditelan persimpangan jalan. Sejak itu aku putuskan tidak lagi mengunjungi persimpangan ini, sampai aku pulang ke Australia dan kembali setelah setahun kemudian dan tanpa sengaja berjumpa dengan kamu.”

“Hari itu hujan gerimis mengawali pagi di tempatku, anyaman burung cempala yang digantung di langit – langit kamar kian beterbangan mengikuti embusan angin. Rasa bosan mematahkan suasana dingin pagi itu. Aku kembali berkunjung ke persimpangan empat, tak ada yang membuat aku bertahan selain rasa rindu yang begitu kuat.”

“Dua jam lebih aku duduk di tempat ini setelah sekian lama tidak berkunjung, seperti biasa orang lalu-lalang, namun tidak kutemukan orang gila itu, sampai kemudian seorang lelaki datang menjulurkan anyaman cempala dari daun kelapa.”

“Sudah lama aku menunggu kedatanganmu di sini,” kata lelaki itu, “seorang perempuan tua menitipkan ini kepadaku, untuk diberikan kepadamu, perempuan tua itu telah meninggal lima bulan lalu, setelah mengalami pendarahan hebat di kepalanya karena ditabrak kendaraan saat melintasi jalan.”

“Sebelum ia melanjutkan pembicaraan, aku raih anyaman cempala itu. Akbar, kau tau apa yang paling membuat aku sangat terpukul, setelah mendengar penjelasan lelaki itu. Jiwa perempuan tua itu tergoncang setelah mendapati anak perempuannya hilang di kursi persimpangan jalan ini.”[]

Editor : Ihan Nurdin