Lhob Mate Corona (2): Masyarakat “Batat”, Pemimpin “Top Klo”

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Ahmad Humam Hamid

Lodi adalah kota kecil di Propinsi Lombardi, Italia. Tidak ada arti dalam hal ukuran dibandingkan dengan saudara se propinsinya, kota Milan. Namun kasus pertama corona di Italia terjadi di Lodi dengan kematian pertama tanggal 22 Februari 2020. Pada awal Maret, corona telah menyebar ke seluruh Italia.

Seperti dirangkum surat kabar The Daily Mail, pasien pertama Italia bernama Mattia, seorang pelari marathon. Dia dianggap sumber pertama dan utama menjadi “titipan kilat” virus corona dari Cina. Mattia baru saja pulang dari Tiongkok pada awal Februari 2020; mulai merasakan gejala pada 14 Februari, dan baru ke rumah sakit enam hari kemudian. Sebelum ada gejala dia ikut acara makan malam tiga kali, bermain bola, dan menjalani kehidupan sosial seperti biasa. Rekam interaksi sosial Mattia, menunjukkan antara masa kepulangannya dan masuk rumah sakit ia telah menularkan ke 13 orang lainnya, para teman dan keluarganya. Atas “prestasi” tersebut, Matia menyandang gelar “super spreader” – penyebar super-pertama corona Italia.


Baca juga: Lhob Mate, Sekot, dan Corona

Pemerintah dan elit Italia pada awalnya tidak begitu peduli dengan epidemi ini. Ketika 400 kasus positif terlapor dan angka kematian sudah mencapai belasan, ketua Partai Demokrat Italia -partai yang berkuasa- mengirimkan gambar dan pesannya kepada apretivo-pengunjung cafe &restoran, seperti pengopi di Aceh- di Milan, untuk “not to change our habits”. Tepatnya dalam bahasa Aceh “Geutanyoe lagee biasa mantong”. Seperti dicatat oleh harian The New York Times, sepuluh hari kemudian kasus positif telah mencapai 5.883, dengan kematian 233. Sang ketua Demokrat itu, Nicola Zingerati kemudian mengirim videonya kepada publik mengakui kesalahannya: “Saya juga positif corona,” pengakuan yang jujur, namun sudah terlambat.

Tidak hanya Zingerati, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte, yang walaupun akhir-akhir ini sangat serius dalam menangani pandemi, pada awalnya tidak menunjukkan tanda-tanda peduli, dan bahkan cenderung menganggap enteng. Ketika kematian di Lombardi sudah mencapai angka 11 jiwa dan kasus positif telah naik menjadi 309 pada 25 Februari 2020, Conte masih berani memberikan keterangan pers bahwa Italia “aman” dan bahkan lebih aman dari negara lain dalam hal corona.

Tidak hanya Perdana Menteri dan ketua Partai Demokrat Italia, para elit, secara “berjemaah” juga meremehkan ancaman virus corona. Walikota Milan Beppe Sala, pada Bulan Februari awal masih mendengungkan “Milan sangat aman”, dan Menteri Luar Negeri Italia mengecam pemberitaan corona, dan bahkan menyebutkan berita tentang corona jauh lebih bahaya dari corona itu sendiri.

Samimawon dengan elitnya,publik Italia juga terkenal “batat”, mungkin agak “mirip” dengan publik di tempat kita, di Aceh. Di restoran dan cafe misalnya diperkenalkan nama pizza baru “carbonaravirus”, yang sesungguhnya hanya carbonara biasa. Berbagai humor, lawak dan meme tentang kematian akibat corona bermunculan dalam perbincangan dan media sosial. Mungkin, sekali lagi mirip dengan Aceh. Memang keseriusan kehidupan di Italia juga tidak membuat mereka sepi dari canda dan tawa.

Kehidupan normal di Lambordi dan Italia secara umum berubah drastis pada 8 Maret 2020, ketika angka kematian meningkat 50 persen .Pada hari itu Conte menerapkan lhob mate untuk propinsi Lombardi dan 14 propinsi lain. Pada tanggal 10 Maret 2020, seluruh Italia dinyatakan lhob mate, dan dilaksanakan dengan sangat serius dan juga tegas. 40.000 orang yang berkeliaran di luar pada minggu pertama ditangkap dan didenda. Ketika lhob mate Italia dimulai, jumlah kematian meningkat 50 persen dalam sehari, dari 233 menjadi 366.

Lhob mate Italia sangat terlambat, dan kematian terus meningkat, walaupun dalam beberapa pekan kemudian mulai menurun. Pada awal bulan Mei, lhob mate kemudian dikendurkan, akan tetapi jumlah kematian tetap saja tinggi. Sampai saat ini jumlah kematian akibat corona di Italia lebih dari 28.000, dengan kecendrungan menurun yang lumayan. Italia secara teoritis telah berhasil menurunkan angka kematian, walaupun tidak sehebat Cina, namun keterlambatan bertindak pemerintah dan sejumlah faktor lain telah membuat Italia menjadi kasus terburuk penanganan awal corona.

Walaupun tidak sama dan sebangun dengan Italia, reaksi Pemerintah Amerika Serikat juga tergolong mirip bahkan membuat banyak pihak “miris” dengan sikap Donald J. Trump. Pada awalnya ia berseloroh menyatakan corona itu seperti flu biasa, musiman, dengan angka kematian yang relatif sangat kecil. Jika banyak Presiden AS sebelumnya sangat mengandalkan ilmu pengetahuan, terutama untuk penyakit menular “policy follows science” -kebijakan mengikuti kaedah ilmu pengetahuan- Trump justru cenderung meremehkan ilmuwan dan sepertinya tidak mau “membaca”.

Ketika para ilmuwan berteriak dia mendengarkan tapi kurang menghiraukan, dan cenderung “membully” orang yang mengeritiknya. Sikap anti ilmu pengetahuan, suka mengolok olokkan orang yang berbeda dengannya, membuat ia menjadi presiden yang aneh dalam sejarah AS. Sikap keras kepala, benar sendiri, dan suka melecehkan orang lain membuat Trump mempunyai puluhan dan mungkin ratusan julukan. Salah satunya adalah “Rabble-Rousing Demagogue”, yang secara bahasa Aceh sederhana, “si gam top klo”, dalam berbagai issue, termasuk issue corona.

Berbagai statemen aneh dari Pemerintahan Trump terus menerus berdatangan. Pada awal bulan Februari 2020, Ketua Dewan Ekonomi Nasional AS, Larry Kudlow, menyampaikan pesan Trump kepada publik, bahwa corona telah dibendung dengan sangat ketat dan kuat untuk tidak masuk ke AS. Dia menggunakan istilah “pretty close to airtight”– bahasa Acehnya “han lheuh angen”. Trump dan pembantunya juga menyampaikan informasi yang menyesatkan publik,seperti corona jauh lebih enteng dari virus ebola yang mematikan, Corona segera akan berlalu seiring dengan akan datangnya musim panas, dan vaksin corona segera akan diproduksi.

Hampir seluruh pernyataan pemerintahan Trump cenderung tidak akademik, dan itu membuat beberapa ilmuwan kredibel di dalam tim corona Gedung Putih seperti Dr.Anthony Fauci-yang terkenal kapabel dan kredibel- harus mengurut dada, dan menyampaikan dalam cara dan bahasa lain kepada publik untuk mengoreksi keterangan Gedung Putih. Walaupun ia telah melayani enam Presiden dan berperan besar dalam mengatasi penyakit HIV/AIDS,ebola, dan zica, di dalam tim Trump, dia didengar, tapi usulnya banyak yang tidak dipatuhi. Kalau saja angka kematian corona di AS tidak tinggi seperti ini, kemungkinan besar dia akan dipecat oleh Trump. Kalau dipecat sekarang maka itu akan jadi musibah besar bagi Trump dalam pemilihan Presiden AS bulan Novermber tahun ini. Fauci sudah terlanjur menjadi kecintaan rakyat AS

Cara Trump menangani corona mendapat perlawanan dari para ilmuwan, politisi Partai Demokrat di Kongres, dan sejumlah gubernur negara bahagian. Salah satu yang menjadi viral adalah Gubernur New York Andrew Cuomo, tentang peringatannya bahwa New York akan menjadi negara bagian yang akan mengalami serangan keras corona. Trump tidal peduli dan dan itu kemudian terbukti. Pada akhirnya setelah corona meledak di AS, terutama di New York pada akhir April dan awal bulan Mei 2020. Angka kematian terakhir AS sudah melebihi 75,000 jiwa, dan mendekati sepertiga korban kematian corona global.

Dengan agar berat Trump menyetujui partial lockdownlhob hana that mate- di sejumlah negara bagian. Kini ia menjadi bimbang antara mencabut larangan itu atau melanjutkan. Dia bimbang, dia juga ragu, dan kematian di AS akibat corona dan juga mungkin sikap “top klo” Trump terus meningkat. Diperkirakan mencapai Agustus 2020, kematian akibat corona di AS akan mencapai sekitar 135,000 jiwa. Saat ini kebijakan Pemerintah AS, masih belum selesai, sementara itu para ilmuwan sudah memberi “warning” awal bahwa AS berpeluang besar akan mengalami serangan corona gelombang kedua pada musim dingin tahun ini mulai September.

Pertanyaan besar kita sekarang adalah bagaimana mungkin dua negara besar, maju dalam segala hal, kaya, gudang pengetahuan, demokratis, dan selalu memimpin dunia dalam saat “ kritis”-terutama AS- bisa lalai dan terpuruk dengan corona? Masyarakat Italia juga salah satu masyarakat tersehat di dunia, ranking 3 dunia untuk pelayanan kesehatan, kematian bayi sangat rendah, harapan hidup sangat tinggi, dan juara makanan sehat dunia. Apa yang salah dengan AS dan Italia dibandingkan dengan Taiwan misalnya?

Jawabannya banyak, akan tetapi, tanpa menjadi guru besar pun kita bisa menjawab. Pemimpinnya yang salah. Rakyat AS dan rakyat Italia telah memilih pemimpin yang salah, terutama ketika harus memimpin pada saat kritis. Bagaimana mungkin rakyat AS dan Italia sebodoh itu ? Demokrasi pada akhirnya hanya pintu masuk untuk kebaikan dan kesejahteraan publik. Selebihnya ? Pergumulan yang tidak pernah selesai.

Penulis adalah sosiolog. Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.