Singkel dan Konstruksi Akademik, Can the Insider Speak?

Peta Wilayah Singkil

Oleh Zulfikar RH Pohan*
(Tanggapan untuk tulisan Muhajir al-Fairusy)

Dari judul artikel yang ditulis oleh Muhajir al-Fairusy “Terjebak Tafsir Insider & Konsep Self-Interpretation” yang menjawab tulisan saya (sebagaimana yang saya harapkan), arah tulisan Muhajir jelas, tak menyentuh logika epistemik yang saya ajukan dan ia tetap pada berada dalam kubangan teks-konteks. ‘Tafsir Insider’ sebagaimana dalam judulnya merupakan kecongkakan seorang antropolog kepada hamba yang dhaif ini. Insider (pemilik ‘rumah’) seolah dituduh Muhajir terlalu subjektif, sensitif, atau fanatik. Pertanyaannya ialah, apakah outsider (tamu) seperti Muhajir tidak dihinggapi kecenderungan yang sama, apakah lantas outsider melampiaskan tafsirnya maka ia bebas nilai dan netral, seolah-olah hanya outsider yang bebas menginterpretasi Singkel? ‘boleh gak sih insider ngomong?’

Baca: Terjebak Tafsir Insider & Konsep Self-Interpretation

Kritik saya mengenai paradigma berpikir tak digubris oleh Muhajir, bahkan ditanggapi terlalu emosional karena sebutan saya padanya mengenai terpengaruhnya ia pada paradigma kolonial. Maka, perlu pemahaman pada perbedaan kolonialisme dan imprealisme di sini, kolonialisme adalah bentuk ‘invasi’ pandangan dan nilai terhadap korbannya baik negara, kelompok, atau wilayah. Edward Said menyebutnya ‘implanting of settlement on a distant territory’, dan imprealisme ialah bentuk langsung, kontan, mendominasi korbannya dan berbentuk fisik.

Jika kita tempatkan Tome Pires sebagai etnografer Barat yang menulis sesuai apa yang ia amati, apakah itu artinya penelaahannya dapat diterima begitu saja, lalu menganggap tak adanya bias kepentingan? Sekadar info, intelektualisme itu tak pernah netral lho. Maka haruskah kita menelan argumen Tome Pires mentah-mentah? Padahal, di sisi lain William Marsden (1754-1836) atau Edwin M Loeb (sejarah pada tahun 1860) tidak mengungkapkan hal yang sama dengan apa yang dikemukakan Pires dalam konteks Singkel. Di sini kerancuannya, tetapi diterima Muhajir begitu saja sembari mengiyakan bahwa Singkel memang kanibal.

Bagaimana logika tersebut diterima jika pada fakta sejarahnya dalam kemajuan farmasi misalnya, agama-agama nusantara dapat diterima di Barus-Singkel sebagaimana tuturan Rusmin Tumanggor (2017) jauh sebelum menerima Islam ala Bandar Aceh Darussalam, menunjukkan pergaulan global dengan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda yang menjadi sebab pemikiran mistisisme Islam seperti Hamzah Fansuri mudah diterima. Penulis Barat banyak yang melakukan logika yang sama, seperti Marcopolo yang menyatakan masyarakat Batak kanibal, padahal Batak mempunyai aksara sendiri yang menunjukkan mereka mempunyai nilai dan norma peradaban dan tuduhan tersebut dibantah oleh insider Batak Sitor Situmorang dalam ‘Toba na Sae’. Tidakkah Muhajir melihat sisi kolonialisme di sana, dan sampai sekarang stereotip itu masih dipakai. Sekali lagi, ia terjebak pada teks-konteks, sedangkan yang saya bicarakan adalah paradigma berpikir dekolonialisasi yang ia pakai.

Di tulisannya, Muhajir menempatkan dirinya setara dengan Snouck Hurgronje, sayangnya tak ada yang membandingkannya dengan Snouck, beda konteks, Bung. Namun, jika Muhajir ingin benar-benar disama-samakan dengan orang-orang terkenal lainnya, baiklah. Katakanlah Muhajir mewarisi gaya berpikir dari Cornelis van Vollenhoven yang menyusun kodifikasi baku dari hukum adat Indonseia, yang pada awalnya tidak memberikan dampak tendensius pada ‘siapa’ yang dituliskannya. Belakangan, kajian van Vollenhoven dilirik kembali menjadi sumber acuan hukum adat di Indonesia. Apakah ini dapat diterima? Ini yang saya bicarakan mengenai dekolonialisasi keilmuan, kenapa toh kita harus melangkahi van Vollenhoven untuk mendirikan hukum adat kita sendiri? Hal yang sama bagi Muhajir, di bagian yang saya kritik: mengapa kita harus mendengarkan pemisahan segregasi yang diciptakan Muhajir untuk Singkel, edangkan Muhajir tak menguasai bahasa daerah, yang artinya pengalamannya menggunakan bahasa Singkel dan peletakan kata kade-kade dan baapo digunakan di masyarakat? ini yang belum Muhajir jawab.

Sesuatu yang Luput: Diskontinuitas

Di sisi lain, Muhajir lupa dengan jalannya sejarah sama-sekali tidaklah merupakan garis lurus, tetapi bercabang yang disebut dalam tradisi filsafat sebagai genealogi. Singkel saya tempatkan sebagai diskursus yang harus dilihat melampaui simbol, melampaui empirisme yang ia lakukan dengan meneliti dan mewawancarai orang-orang yang ia kenal saja. Sejarah tidak tunggal, ada diskontinuitas yaitu keretakan dalam sejarah, ia cabang sejarah akan tetapi tak terlihat karena ditutupi sejarah yang dianggap ‘besar’ di dalamnya. Sekali lagi ini persoalan epistemik, diskontinuitas sejarah melawan strukturalisme yang dipakai Muhajir dan kalangan antropolog lainnya. Muhajir sibuk membela diri agar tak kehilangan panggung sebagai antropolog satu-satunya yang mendefinisikan Singkel, padahal sejarah dan identitas bukanlah monopoli siapa pun. Definisi dan kategorisasi untuk menggambarkan Singkel oleh Muhajir tidak menyentuh kawasan paradigma jalannya sejarah dan diskontinuitas yang ada di dalamnya.

Permasalahan selanjutnya, saya mengangkat gaya SM Kartosewiryo sebagai lahan kritik bagi tatanan kolonial dan bagaimana perampasan hak milik pribumi diserobot penjajah. Tentunya, tak asal serobot. Strategi awalnya dengan cara memberikan citra buruk pada orang Lampung, sebagaimana citra buruk yang dituduh Pires (dan disetujui oleh Muhajir sebagai kajian sejarah), oleh karena itu Kartosuwiryo mengatakan ‘bukan monyet’ untuk mematahkan stigma kotor kolonial, dan memang gaya berpikir Kartosuwiryo cocok dengan jurus kolonial yang sama setiap abad.

Mengebiri Islam Singkel

Ke tulisan Sadri Ondang Jaya, yang salah dari tulisan beliau adalah lagi-lagi paradigmanya, sama sekali tidak berimbang. Sadri mengobok-obok paradigma agama leluhur dengan gaya berpikir Islam puritanisme. Narasi kejayaan Islam yang diangkatnya dengan pura-pura tak mengindahkan Islam Singkel yang ‘animistik’ dengan adanya ulama-ulama Tanjung Mas bergelar ‘Malim’ seperti Malim Pokekh, Malim Sogek (periode sebelum ‘Abuya’) dan lain-lain bukanlah perkara sepele, itu sama saja mengebiri sejarah keislaman Singkel seolah Islam Singkel hanya berasal dari Kesultanan Aceh.

Baca: Orang Singkel Bukan Monyet, Melainkan Manusia Belaka

Sadri Ondang saya kira tak hanya mengungkapkan Islam Singkel pesisir (seperti pembelaan Muhajir), ia juga menyebut alm Abuya Baihaqi Batu Korong, yang tinggal di Singkel bagian Soraya-Cinendang. Kalau Sadri Ondang hanya ‘bermain-main dengan narasi kejayaan Islam’ kenapa tidak menuliskan kategori bukunya fiksi saja, alih-alih membuatnya jadi genre ‘buku sejarah’?

Perlu Piknik

Jika baapo dan kade-kade adalah klasifikasi teritorial, Muhajir perlu piknik di Sekhasah. Sebab, orang Singkel menyebut klasifikasi teritorial dengan sebutan jehe dan julu. Lucunya, saya tak pernah mendengar orang Singkel ngomong, “Saya mau ke kade-kade/baapo dulu ya!” Identitas diri tak hanya dinilai dari pengamatan empiris, itu sebabnya paradigma Muhajir dalam hal ini harus dibahas dalam kerangka genealogi, bukannya hanya adopsi dari perkataan yang ia tak pahami. Lebih jauh Muhajir dapat memahami sistem bahasa, atau istilah filsafatnya, langue dan parole. Langue adalah penjelasan bahasa sebagai sistem yang membedakan bahasa sebagai praktik, dan parole ialah praktik penggunaan bahasa dan sistemnya secara konkret di masyarakat. Makna mengikuti sistem bahasa.

Jika pun Muhajir menemukan term baapo dan kade-kade tampak dualis di antara pelajar di Banda Aceh atau dalam kancah politik kekuasaan, itu hanya satu teks di antara banyak kejadian, inilah pentingnya memberikan pemahaman diskursif (sumber pengetahuan, praktiknya, subjektivitasnya, dan relasi kekuasaannya) soal identitas orang Singkel, tak hanya sekadar contoh sampel yang diketahui secara empiris oleh Muhajir sendiri. Duh!

Geertz sebagai Tameng?

Saya sudah duga Muhajir menggunakan Geertz sebagai acuan berpikirknya. Maka, saya perlu mengangkat Talal Asad, terlebih buku Asad yang berjudul Genealogy of Religion. Jika menyangkut mengenai Islam di Mojokunto, apakah Muhajir tidak memahami bagaimana penelitian Geertz ke Maroko dan memandang Islam Maroko lebih Islam ketimbang Islam di Indonesia? Masalahnya, Geertz hanya terpatok pada simbol, kalau Islam tentu saja pakai sorban dan gamis seperti di Maroko bukannya pakai blangkon dan sarungan. Sederhananya, begitulah kritik Asad dalam tulisan Geertz.

Nah, klasifikasi Geertz mengenai abangan, santri, dan priyayi sangat problematik, sayang sekali Muhajir masih menggunakan analisis itu sebagai tameng, kritik Woodward dan Marshall Hodgson misalnya mengatakan bahwa seandainya Geertz mampu memahami kitab-kitab Jawa kuno, mistik Jawa, tentu ia tidak akan memberikan kategorisasi abangan, santri. Kenapa? Karena kategori tersebut memahami Islam dalam pemahamannya masing-masing, dengan kata lain mereka menggunakan Islam sebagai landasan dasar baik itu abangan maupun santri, sehingga abangan tak serta-merta menjadi Kejawen yang terpisah dari Islam. Kesalahan Geertz dan kesalahan Muhajir sama-sama terjebak pada simbol dan sistem bahasa yang ia tak pahami betul.

Sejarah, kebudayaan, keagamaan lebih luas ketimbang thick description a la Geertz. Oleh karena itu, Asad menolak gaya berpikir yang senang mendefiniskan, berikut penuturan Asad yang amat terkenal menonjok Geertz: “…I criticize the concept and the definition of ‘religion’-as I said in genealogies”, buat apa mendefinisikan apa itu agama, sebab semua orang dan kebudayaan punyai genealogi masing-masing mengenai agama. Begitu pula identitas yang cair, buat apa sih memberikan definisi mengenainya, hal ini ditengarai punya kepentingan memberikan kodifikasi baku seperti paradigma kolonial?

Maka, yang saya tekankan dalam tulisan adalah paradigma yang membebaskan Singkel dari benaman definisi dan kategorisasi, serta usaha-usaha mendirikan kodifikasi baku yang monopolistik mengenai Singkel agar Singkel lepas dari dekolonialisasi ide. Jadi, memang kebudayaan itu dinamis, bercabang, bergerak, bukan strukturalistik seperti yang dibayangkan Muhajir dan paradigma dekolonialisasi ide lainnya agar gampang dan mudah memetakan Singkel suka-suka. Jika Muhajir butuh 60 menit untuk membalas artikel, kalau saya perlu waktu lama (120 menit) dan perhitungan serius karena saya sedang membicarakan kaum saya, ada tanggung jawab moral sebagai insider. Sekian dari hamba yang dhaif, fana, nan faqir ini.[]

*Zulfikar RH Pohan, putra daerah Singkel, lahir di Cingkam kini menjalani Master di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) UGM

Editor : Ihan Nurdin