Lhob Mate Corona(3) Vietnam : “Hana Teungeut” dan “ Thei Droe”

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Ahmad Humam Hamid

Dunia akan mengingat Vietnam sebagai negara yang mampu mengalahkan dan mempermalukan negara adidaya global, Amerika Serikat pada tahun 1975; setelah berperang cukup lama. Kali ini dunia juga akan mengingat kembali Vietnam dengan prestasi puncak. Sebuah negara tidak kaya, dengan penduduk kurang dari 100 juta orang, namun mampu memenangkan perang besar dengan musuh yang tidak nampak- Convid 19, musuh yang membuat banyak negara besar dan kaya, kucar kacir.

Vietnam berhubungan baik dan berkongsi batas dengan Cina sekitar 1500 km, dan anehnya, walaupun berbatas dengan negara sumber awal corona, Vietnam sampai dengan hari ini tidak mempunyai kasus kematian karena corona, walau hanya seorang. Ketika jumlah kasus global corona mencapai lebih 3,5 juta jiwa, dengan jumlah kematian 240,000 orang pada minggu yang lalu, Vietnam hanya mempunyai 271 kasus. Para Epidemiologist sering meaghubungkan angka itu dengan jumlah penduduk sebuah negara, dan itu artinya hanya 2,8 jiwa per sejuta masyarakat Vietnam yang menjadi pasien corona.


Apa sesungguhnya resep Vietnam dalam mengatasi masalah dan berbagai tantangan mendadak seperti virus corona ini? Sadar diri sebagai negara dengan pengalaman pandemi SARS beberapa tabun yang lalu, Vietnam sama dengan Taiwan mempunyai memori yang sangat kuat tentang wabah dadakan yang berbahaya. Mungkin istilah Aceh “thei droe”, -tahu diri sangat cocok dilengketkan kepada Vietnam. Sebagai negara yang sedang membangun dan tidak kaya, fasilitas kesehatan publik yang pas-pasan, kepadatan penduduk yang relatif tinggi, dan tingkat sosial ekonomi masyarakat yang belum memadai, agaknya disadari dengan benar dan sungguh-sungguh oleh pemimpinnya.

Baca juga: Lhob Mate Corona (2): Masyarakat “Batat”, Pemimpin “Top Klo”

Lhob Mate, Sekot, dan Corona

Vietnam telah mendeteksi corona, jauh sebelum nama corona ditabalkan oleh WHO kepada masyarakat global. Ketika banyak negara -negara lain “tidur” dan menganggap Corona sebagai wabah biasa, Vietnam telah mulai menggerakan mesin besar pengedali wabah itu. Media Internasional Asia Pasific berpengaruh,The Diplomat mencatat pada tanggal 14 Januari 2020, Menteri Kesehatan Vietnam telah memerintahkan langkah-langkah pencegahan kepada seluruh komponen organisasi kesehatan Vietnam. Kehebatan dan kecermatan petugas kesehatan Vietnam dimulai ketika dua pasien pertama pada tanggal 23 Januari mulai dilayani di Rumah Sakit Ho Chi Minh City. Kedua pasien itu adalah warga negara Cina yang datang dari kota Wuhan yang masuk ke Vietnam pada tanggal 13 Januari, dan semenjak itu mereka telah melanglang buana ke mana-mana di Vietnam. Seluruh jejak rekam perjalanan mereka ditelusuri, dan orang-orang yang terekam berinteraksi dengan mereka diperiksa secara intensif.

Tak lama setelah kedua pasien itu masuk rumah sakit-tepatnya seminggu- setelah itu, pemerintah segera membentuk Komite Nasional Pencegah Pandemi. Hebatnya, bersamaan dengan pembentukan komite itu, WHO mengumumkan status “siaga awal” untuk penyakit yang namanya belum ditabalkan. Ketika jumlah penderita corona mencapai 6 orang pada tanggal 1 Februari 2020, Pemerintah Vietnam segera menerapkan status “darurat nasional” -phase satu, untuk sebuah penyakit yang nama resmi internasionalnya belum diumumkan. Baru 10 hari kemudian, tepatnya pada tanggal 11 Februari 2020, WHO mengumumkan nama resmi novel coronavirus disease-19 (COVID-19) . Vietnam telah melangkah cepat melebihi kecepatan WHO. Inilah yang membuat Vietnam layak disebut sebagai negara yang pemimpinnya tidak tidur nyenyak- hana teungeut– dalam mengurus negara dan rakyatnya.

Sejumlah langkah cepat dan strategis dilakukan. 16 kasus pasien corona pada minggu kedua Februari,berhasil disembuhkan pada akhir bulan itu juga. Dalam masa itu tidak ada pasien baru yang masuk. Prestasi itu diakui Amerika Serikat, terbukti ketika Pusat Pengendalian Penyakit Menular AS tidak memasukkan Vietnam dalam daftar negara berisiko tinggi virus corona.

Monitoring pandemi berjalan dengan sungguh sungguh dan ketat, terbukti ketika rekam jejak dilacak seorang pasien baru, yang tiba pada 2 Maret, setelah mengunjungi tiga negara biang corona Eropa: Italia, Perancis dan Inggris. Rusaknya, setelah pulang pasien ini tidak mengikuti protokol karantina dua minggu dan tentu saja telah “berkelana “ kemana-mana. Segera setelah itu dengan mengandalkan kepada laporan dan observasi lapangan, dan “otak” para ahli, pemerintah segera mengumumkan kepada publik, Vietnam kini memasuki phase dua corona. Phase kedua ini adalah fase yang secara teorítis ledakan jumlah kasus, yang direspons oleh pemerintah dengan penguatan,pengerahan, dan kerja besar “tidak biasa”.

Vietnam juga cermat dalam mengantisipasi pandemi. Ketika negara lain sedang “tidur”, Vietnam telah siap dengan produksi “baju hazmat”-pakaian pelindung yang digunakan petugas kesehatan dalam menangani pasien penyakit menular. Sejumlah perusahaan juga memproduksi jutaan masker pada masa awal fase satu corona. Tidak hanya itu, Vietnam juga cepat dan mampu membuat instrument test cepat corona (rapid test yang murah, dan mendapat pengakuan dari WHO, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Hebatnya, dengan berbagai alat yang dimiliki, Vietnam mampu melakukan “diplomasi corona” dengan menghibahkan jutaan masker dan menjual sejumlah perangkat alat perlakuan corona ke seluruh dunia, termasuk ke AS dan Eropa.

Menyadari kurangnya anggaran, Vietnam melakukan beberapa inovasi yang mungkin kecil namun sangat berarti nilainya bagi negara itu dalam memerangi corona. Baik pada phase satu ataupun dua pengawasan ketat dilakukan dengan sungguh sungguh. Kata karantina menjadi biasa di telinga dan di mata publik. Semua orang yang bersentuhan dengan corona dilacak dan diawasi.

Mobilisasi besar-besaran pekerja kesehatan, petugas keamanan, tentara, dan ASN telah mampu melacak dengan baik jejak corona di seluruh negari, baik status terinfeksi, dugaan terinfeksi, maupun mereka yang terekspose dengan corona. (Laporan Asia Pacific Foundation of Canada 2020)Intel partai komunis di desa-desa menjadi instrumen penting pengawasan corona. Kepada aparat dan publik “dipropagandakan” mental perang menghadapi corona-persis seperti perang menghadapi Amerika Serikat tahun enampuluhan- dan itu dilaksanakan dengan sangat serius.

Vietnam juga menggunakan jurus murah lainnya melalui teknologi digital.

Dengan tingginya pemakain handphone di Vietnam, pemerintah dengan cepat membanguan aplikasi pemantauan yang murah dan mudah menjangkau hampir seluruh warganya. Pemerintah bekerjasama dengan provider telekomunikasi melancarkan dua aplikasi pemantauan corona, untuk warga, dan untuk orang asing yang mengunjungi atau tinggal di Vietnam.

NCOVI adalah aplikasi yang ditujukan kepada warga, sebuah aplikasi yang sederhana, yang memungkinkan setiap warga via handphone-nya dapat melaporkan status kesehatan hariannya, terutama gejala-gejala yang berkaitan dengan Corona. Aplikasi NCOVI juga membuat warga dapat melaporkan kejadian-kejadian lokal tetangga atau kampung yang terkait dengan perkembangan corona. Aplikasi lain yang prinsipnya sama juga dibuat untuk warga asing yang berada di Vietnam.

Di kota besar seperti Hanoi,pelaksanaan karantina dan lhob mate, juga dimudahkan dengan menggunakan aplikasi digital. Setiap warga akan tahu setiap saat keadaan kawasan tertentu berikut dengan status kesiagaan hanya dengan menggunakan handphone. Sebaliknya Pusat Pengedali Corona Vietnam juga dapat melakukan pemantauan kawasan dan individu terutama dalam hal perkembangan dan pelanggaran ketentuan pengendalian yang telah ditetapkan.

Banyak media besar, para ahli, dan tokoh internasional tidak hanya memuji Vietnam secara biasa, namun juga memuji karena metode dan strategi Vietnam sangat murah dalam memerangi corona. Apa sesungguhnya rahasia keberhasilan Vietnam dalam memerangi Corona? Jawabannya adalah pemimpin. Pemimpinnya bersinergi dengan baik dengan seluruh pemangku kepentingan, membuat keputusan secara cepat dan tepat, berinovasi dengan fasilitas yang sederhana, dan menggunakan prinsip “mental perang” dalam menghadapi corona. Lihatlah, negeri ini berbatasan 1500 km dengan negara biang corona, Cina. Korbannya? Nol. lihatlah negari lain yang jaraknya puluhan ribu kilometer dari Cina seperti AS dan negara-negara Eropa. Korbannya? puluhan ribu dan mungkin akan ratusan ribu.

Ketika corona Vietnam ini saya ceritakan via handphone pada seorang sepuh Aceh yang suka mengikuti petkembangan dan tinggal di pedalaman beberapa cari yang lalu, diakhir percakapan kami di membuat kesimpulan. “Vietnam nyan hak nyak jithei droe, Awaknyan hana teunguet,” katanya. Saya segera menutup telepon genggam untuk menghindari diskusi lanjutan yang kita semua tahu apa isinya .”Kesimpulan yang valid”, saya bergumam dalam hati.

Penulis adalah sosiolog. Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KOMENTAR FACEBOOK