[Ruang Semangat]: Semangat Belajar di Tengah Corona

Oleh Riska Pristiani, S.Sosio.*

Menuntut ilmu tidak mengenal waktu dan tempat. Meskipun belajar mengajar dipindahkan ke rumah masing-masing, ternyata tidak menyurutkan semangat belajar bagi generasi bangsa yang ada di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Saya adalah seorang guru mata pelajaran PPKn. Suatu hari di awal bulan April, untuk yang pertama kali saya mengajar secara online di kelas XI IPA.

Pembelajaran dimulai pukul 10.00 WIB. Namun, di luar dugaan, anak-anak sudah standby di ruang kelas. Tentu saja, ruang kelas maya. Tanpa dinding, tanpa papan tulis, tanpa meja kursi. Anak-anak duluan yang menyapa saya, ada yang mengatakan “Hadir Bu,” “Siap belajar Bu,” “Bu, saya sudah ada ya,” ada juga yang mengucapkan salam dan menyapa kawan-kawannya yang lain. Terharu dengan semangat belajarnya mereka di tengah pandemi Covid-19 ini.


Menurut saya, ada sesuatu yang tidak biasa belajar mengajar di tengah corona ini. Belajar mengajar secara santuy (bahasa anak ABG sekarang) alias santai, tidak ribet, tidak banyak aturan, enggak perlu izin ke kamar mandi, sambil ngemil atau tiduran karena anak-anak bisa bebas sambil ngapain aja, yang penting mereka tetap fokus dengan gadget atau laptop mereka. Bahkan, belajar mengajar online membuat saya lebih bisa mengontrol emosi, enggak perlu marah-marah jika ada siswa yang tidak respect atau tidur di kelas.

Ada keunikan tersendiri dengan situasi dan kondisi saat ini—tentu saja berdampak positif dan negatif. Stay at home berdampak positif bagi banyak orang karena akhirnya punya banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga, yang biasanya itu sangat jarang terjadi. Anak-anak juga bisa membantu orang tua dalam  mengerjakan pekerjaan rumah, seperti masak bareng di rumah. Kondisi ini juga bagus untuk melatih rasa; adalah rasa rindu untuk ke sekolah, bertemu teman-teman, bertemu guru, bertemu, dan berinteraksi dengan siapa saja warga sekolah.

Namun, ada juga dampak negatif seperti timbulnya rasa bosan karena terlalu lama di rumah, tidak bisa keluar bersama teman, ngumpul bareng atau sekadar ngopi bareng. Jalanan yang biasanya padat akan segudang aktivitas, jadi sepi. Angkutan umum yang biasanya ramai penumpang, jadi tidak ada penumpang lagi. Pandemi telah mengubah semuanya.

Tepat pukul 10.00 WIB, kelas dimulai dengan sebuah senam otak menggunakan tangan. Anak-anak pun berkomentar, “Bu, kita senam jari ya?” “Bu, otak saya udah panas Bu gegara banyak tugas,” ada juga yang udah gak sabar nanya, “Bu, kita siap senam ini ngapain Bu?” Belajar apa kita? Setelah saya jelaskan materi yang sudah saya bagikan, saya mengajak mereka berdiskusi. Seperti biasanya, kelas yang mempunyai sebutan Costa Rica Boommm ini langsung bersemangat memulai diskusi.

Mereka memang sangat suka berdiskusi. Tidak hanya di kelas, di google classroom pun mereka berlomba-lomba memberikan pendapat terkait pengamanan pencegahan virus corona ini. Ada yang mengatakan “pengamanan di tempat kita udah bagus Bu, udah berlakunya jam malam. Yang keluar di atas jam yang telah tentukan ditangkap Bu,” ada juga yang memberikan pendapat, Indonesia ini belum siap menerima virus corona. “Pemerintah belum mampu mengambil kebijakan yang adil dan bijak,” “Kashian Bu orang miskin dituduh yang nyebarin virus corona,” “Kemarin orang berjualan di kampung saya ditangkap Bu, kasihan rakyat miskin jadi korban”. Waah, diskusinya semakin seru, anak-anak saling memberikan pendapatnya. Notifikasi di google classroom sampai ratusan.

Setelah saya menjelaskan problema virus corona ini, saya meminta anak-anak untuk mengerjakan tugas individu. Mereka langsung mengeluh. “Bu, kami banyak kali tugas, belum lagi harus beresin rumah, nyapu, masak, ditambah lagi tugas yang menumpuk, Bu kasihanilah kami. “Tolong berikan waktu lebih dalam mengumpulkan tugas.” Anak-anak langsung panik ketika ada tugas.

Namun, setelah mereka melihat isi tugasnya, mereka langsung mengerjakan tugas. Bahkan dua orang siswa, yaitu Hafiz dan Aji sudah selesai di saat yang lainnya masih mengeluh meminta dispensasi waktu. Diskusi selesai, beberapa siswa telah mengirimkan tugas sebelum jam pelajaran selesai. Ada yang mengirimkan melalui email dikarenakan gagal mengirimkan melalui gogole classroom.

Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, kelas online pun berakhir. Kelas ditutup dengan refleksi pembelajaran dan manfaat yang didapatkan dalam materi ini. Hampir semua anak-anak mengumpulkan tugas tepat pada waktunya. Kalau soal disiplin waktu, mereka sudah tidak diragukan lagi. The best lah. Kelas pun saya tutup dengan salam. Kegiatan pembelajaran online hari ini sangat menyenangkan.

Beginilah pengalaman saya mengajar selama pandemi corona ini, “Bagaimana pun keadaan yang sedang terjadi, harus tetap selalu bersyukur, insyaalllah akan ada hikmahnya.” Kalimat tersebut sering menjadi kalimat motivasi saya untuk generasi bangsa yang tengah berjuang mendapatkan ilmu. Segala sesuatu yang kita lakukan dengan ikhlas akan diberkahi oleh Allah Swt. Tetap menjalin komunikasi yang baik dengan sesama, walaupun harus menjaga jarak, karena jarak dan waktu bukan penghalang untuk kita menggali ilmu dan berkomunikasi.

Dunia ini sudah canggih karena mampu mendekatkan yang jauh, dan bisa bertatap muka dengan segudang aplikasi yang dapat kita gunakan di kala pandemi corona ini. Jangan jadikan pandemi corona sebagai salah satu penghalang untuk bermalas-malasan dalam beraktivtias. Terlebih kita sebagai guru yang mempunyai kewajiban mencerdaskan anak bangsa, bagaimana pun rintangan yang harus kita lewati, tetap kita jalani dengan penuh ikhlas.[]

Riska Pristiani, S.Sosio., adalah guru SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent