Guru yang Kian Dirindukan

Ikhwanul Muslim

Oleh Ikhwanul Muslim, S.Pd, M.Pd.*

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa
Kita jadi pintar dibimbing pak guru
Kita bisa pandai dibimbing bu guru
Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara…

Demikian sebuah bait lagu dengan judul Jasamu Guru yang diputar oleh stasiun TVRI pada tahun 90-an. Lirik dan irama lagu ini sangat menyentuh dan diputar secara berulang ke hadapan pemirsa. Secara tidak langsung lagu tersebut memberikan penghargaan kepada para guru. Meskipun secara pendapatan dan tunjungan, guru saat itu tidak sesejahtera sekarang. Dari lagu tersebut mempertegas peran dan kehadiran guru dalam mencerdaskan bangsa merupakan hal yang urgen dalam pembangunan.


Pada Desember 2019 dunia dihebohkan dengan adanya virus Covid- 19. Tak pelak, negara kita akhirnya juga menderita wabah yang mendunia tersebut. Negara mengambil langkah strategis untuk menghambat dan mengatasi pandemi tersebut. Salah satu dampak dari pencegahan tersebut berefek pada dunia pendidikan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melaksanakan program belajar dari rumah. Bahkan pemerintah melalui Kemdikbud akhirnya meniadakan ujian nasional (UN) 2020 dengan pertimbangan virus Covid-19.

Mendikbud Nadiem Makarim pun mengubah tata cara belajar SMP, SMA, dan SD dengan konsep belajar jarak jauh. Kebijakan tersebut dituangkan dalam surat edaran (SE) Nomor 4 tahun 2020 yang diteken tanggal 24 Maret 2020. Aturan ini berisi tentang bagaimana memprioritaskan kesehatan para siswa, guru, dan seluruh warga sekolah. Belajar dilaksanakan secara jarak jauh atau daring, dan juga melalui siaran TVRI.

Belajar di rumah dilakukan dalam rangka penerapan protokol kesehatan untuk Covid-19 yang salah satunya melakukan social distancing yang kemudian berubah menjadi physical distancing. Siswa tidak lagi bertatap muka langsung dengan guru. Pembelajaran dilakukan secara daring maupun pengumpulan tugas melalui media sosial. Namun, kenyataan di lapangan tidak seindah yang dibayangkan. Kendala masih banyak dihadapi. Siswa kebanyakan mengakses melalui perangkat ponsel dan  tidak semua siswa mempunyai ponsel. Kemudian jikapun mempunyai ponsel, tidak semua siswa mampu membeli kuota.

Hal ini senada seperti yang diungkapkan Robertus Robet, Sosiolog UNJ yang dimuat dalam Tempo edisi 2 Mei 2020 dengan judul “Pendidikan Kita Setelah Pandemi” yang mengatakan, “Sementara itu, survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan, selama pandemi, 95,4 persen responden menyatakan mengikuti proses pembelajaran memakai ponsel, 23,9 persen memanfaatkan komputer jinjing, dan 2,4 persen memakai komputer.” Robertus juga melanjutkan, “Survei KPAI pada 13-20 April 2020 menemukan bahwa 76,7 persen siswa menyatakan tidak senang mengikuti pembelajaran jarak jauh. Keluhan siswa di antaranya pembelajaran jarak jauh hanya menumpuk tugas dari guru, ketiadaan komputer dan internet, serta hilangnya kesempatan bermain bersama teman. Dari survei itu terlihat jelas bahwa belajar jarak jauh menegaskan dan mereproduksi ketaksetaraan dan keterbelakangan sosial sebelumnya telah berakar dalam masyarakat kita.”

Pembelajaran secara online memang sangat berbeda dengan pembelajaran offline di dalam kelas. Pembelajaran ini membutuhkan disiplin pribadi dari peserta didik untuk mengikuti secara tertib pembelajaran yang diberikan. Ketidakhadiran guru di dalam kelas, tentu secara psikologis sangat berpengaruh kepada minat belajar siswa. Artinya, meskipun teknologi sudah dapat menghadirkan kelas secara virtual, tetapi kebutuhan akan kehadiran guru sangat dibutuhkan di dalam kelas. Guru dengan kompetensi yang melekat padanya dapat meningkatkan minat siswa untuk belajar, menjadi fasilitator dan mendorong siswa untuk mempelajari pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuannya.

Guru harus menjadi sosok yang dirindui oleh siswa ketika pembelajaran dimulai. Guru harus hadir dalam memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi siswa. Bukan malah sebaliknya, kehadiran guru menjadi masalah bagi siswa. Seorang guru dengan segala kompetensi yang wajib dimiliki harus mampu menghadirkan pembelajaran yang profesional. Sehingga pembelajaran yang dihasilkan setara seperti pembelajaran di negara mana pun dalam konten dan penyajiannya. Ilmu mengajar, ataupun pedagogik juga harus dipunyai oleh guru. Guru yang dirindukan oleh siswanya akan sangat memahami bagaimana teori belajar, pendekatan belajar, strategi mengajar, model, teknik, dan metode dalam mengajar. Selain itu, guru juga harus bisa mengajak siswanya menjadi teman tanpa menghilangkan karismanya sebagai guru. Sehingga siswa mempunyai hubungan emosional yang dekat dengan sang guru. Penguasaan psikologi peserta didik juga hal yang mutlak harus dikuasai oleh guru.

Dalam pradigma pembelajaran dewasa ini teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence) menawarkan model bertindak yaitu semua anak memiliki kelebihan. Ini harus sangat dipahami oleh tenaga pendidik. Dengan memahami berbagai macam kecerdasan yang dimiliki siswa, maka guru tidak akan memvonis siswa terlalu bodoh untuk mata pelajaran yang diajarkannya. Setiap individu memiliki kecerdasan yang unik. Maka guru harus mempunyai terobosan dalam melihat kemampuan beragam yang dimiliki siswa. Selain itu pemahaman bagaimana otak bekerja dalam mengolah informasi juga sebuah pengetahuan harus dipahami oleh guru. Karena ini akan berimplikasi terhadap serangkaian tindakan pembelajaran yang akan diterapkan.

Pendidikan selama ini kurang membangun kepercayaan diri pada peserta didik. Hal ini terutama terjadi pada sekolah yang jauh dari perkotaan dan bukan sekolah favorit. Seharusnya kehadiran guru dapat membangun kepercayaan diri siswa, sehingga siswa tersebut dengan berani dapat menentukan masa depannya mau jadi apa? Selain itu, guru juga harus terus membantu siswa membangun harapannya tentang masa depan. Guru yang dirindui siswa harus dapat meyakinkan bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama dalam mewujudkan cita-citanya dimasa depan. Cita-cita menjadi sesuatu harus terus digelorakan agar setiap siswa mempunyai tujuan untuk hidup.

Di samping itu, era 4.0 yang merupakan era yang yang sedang kita hadapi saat ini membutuhkan cara belajar yang berbeda dengan sebelumnya. Penggunaan IT dalam pembelajaran mutlak mendorong guru dan siswa untuk terampil dalam memanfaatkannya dalam pembelajaran. Ketersedian bahan belajar yang dapat diakses di seluruh dunia menggunakan internet, menghapus jarak dan waktu dalam menyajikan pelajaran yang bermakna.

Ada beberapa solusi agar bisa menjadikan guru yang dirindukan oleh siswa. Pertama, guru dapat meng-up grade kemampuannya dengan mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh pemerintah, ataupun dengan meng-up grade diri sendiri secara mandiri. Kedua, guru harus terus berkreasi secara konsisten, sehingga tidak tertinggal oleh  perkembangan zaman. Dan yang terakhir, guru harus menumbuhkan jiwa penggerak dalam dirinya. Dengan begitu bisa berbuat lebih dari pada kewajiban yang dituntut kepadanya.

Semoga pandemi Covid 19 ini cepat berakhir. Dan siswa tetap merindukan kehadiran sosok guru di kelas, meski berbagai teknologi telah memungkinkan kita belajar tanpa kehadiran secara fisik. Pandemi ini banyak mengajarkan kita bagaimana membangun pembelajar yang mandiri, tetapi di sisi lain juga mengajarkan kerinduan terhadap guru yang patut digugu dan ditiru. Guru, kami rindu![]

*Penulis adalah pemerhati pendidikan dan anggota Komunitas Menulis Ababil Aceh. Berdomisili di Aceh Barat Daya

Editor : Ihan Nurdin