Mengapa Hujan Berubah Menjadi Bencana?

Kondisi banjir yang sebelumnya merendam wilayah KAT di Dusun Kubang Gajah, Gampong Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya @ist

Oleh Muhammad

DALAM beberapa hari ini, jagat sosial media di Aceh diwarnai dengan ramainya postingan mengenai banjir yang sempat melanda Kota Banda Aceh dan sebagian wilayah Aceh Besar. Derasnya curah hujan yang tak henti-henti membuat ibukota Serambi Mekkah ini harus terendam beberapa hari. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan bahwa hujan akan terus terjadi dua hingga tiga hari ke depan, dengan intensitas sedang hingga lebat.

Menurut data dan informasi dari BMKG Blang Bintang, hujan yang terjadi di Banda Aceh dan daerah lainnya disebabkan oleh belokan angin yang pusarannya di Selat Malaka dan konvergensi atau penyatuan massa udara yang mengakibatkan berkumpulnya uap air di atas wilayah Aceh.

Pada dasarnya hujan adalah sebuah fenomena alam yang terjadi di bumi, di mana dengan sebab munculnya akan menjadi sumber kehidupan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Qur’an dan sains. Mekanisme alam menjadi terjaga dengan adanya proses hujan. Melalui hujan pula, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk penghuni bumi.

Dalam al-Qur’an, hujan telah disebutkan sebagai sumber kehidupan dan penunjang keseimbangan habitat makhluk hidup.

“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” (Surah al-Furqan ayat 48-49).

Di dalam Islam, segala apa yang diciptakan oleh Allah pasti memiliki makna dan tujuan tersendiri yang ingin dicapai. Semua gejala alam yang ada di semesta ini Allah ciptakan bukan tanpa tujuan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Allah ciptakan angin, udara, air, dan tanah di muka bumi ini semata-mata agar manusia dapat hidup dengan baik dan beribadah hanya kepada-Nya.

Di balik terjadinya peristiwa hujan, terdapat banyak sekali sumber manfaat yang terasa. Buah-buahan dan sumber kehidupan berasal dari air. Bahkan bumi kita ini sebagian besarnya dipenuhi oleh air. Begitupun tubuh manusia yang juga 60-70% didominasi oleh air. Air menjadi kebutuhan dasar atau utama manusia. Untuk itu, adanya siklus hujan membuat kita bisa melaksanakan kehidupan di muka bumi ini dengan jumlah air yang cukup.

Hakikat hujan mengantarkan keberkahan bagi penduduk bumi, akan tetapi terkadang sebuah keberkahan itu bisa berubah menjadi sebuah teguran. Bukan dalam artian hujan sebagai pembawa bencana, tetapi hujan sebagai teguran atas kecerobohan dan keserakahan yang telah disebabkan oleh tangan-tangan manusia. Penggundulan hutan dan pertambangan secara ilegal, serta kurang baiknya tatanan kebersihan di aliran sungai menjadikan hujan seringkali dianggap sebagai musabab “pembawa bencana”.

Data tahun 2019 menunjukkan seluas 15.140 hektare tutupan hutan Aceh hilang akibat perambahan. Angka ini setara dengan 2,5 kali lipat luas Kota Banda Aceh atau 14 ribu kali lapangan bola kaki. Banyaknya kasus kejahatan atau kerusakan lingkungan yang tidak terselesaikan dengan baik. Kondisi ini menyebabkan rawan terjadinya bencana. Tanah longsor dan banjir adalah langganan yang tak terelakkan, di samping itu juga berdampak terjadinya konflik antara satwa dengan manusia.

Rusaknya ekosistem hutan di Aceh dan Indonesia umumnya tidaklah terjadi dengan begitu saja. Ada tangan kapitalis sebagai the invicible hands yang menjarah secara serakah. Bahkan tak jarang mereka masuk berkolaborasi dengan pihak-pihak yang menciptakan kebijakan itu sendiri.

Menjaga hutan adalah menjaga kehidupan, hutan merupakan napas dan paru-paru dunia. Ketika hutan rusak, manusialah yang akan menerima dampak lebih dari bencana tersebut. Sekecil apa pun kontribusi kita dalam menjaga hutan, itu akan membantu menjaga hutan kita tetap lestari, atau paling tidak kita telah membantu memperlambat kerusakan hutan. Seperti pepatah yang menyatakan, “Jika tidak mampu memberikan kebaikan, maka tidak merusak pun sudah cukup.” Artinya jika kita tidak mampu menjaga dan meningkatkan kelestarian hutan, maka tidak ikut melakukan pengrusakan pun sudah cukup.

Dengan melihat sederet fenomena di atas, maka jangan salahkan ketika hujan sebagai rahmat Tuhan turun membasahi bumi yang mestinya menjadi berkah justru berubah menjadi sebuah musibah. Hujan adalah simbol kehidupan dan kasih sayang Allah Swt bagi makhluk-Nya, tapi keserakahan manusia merubah wujud rahmat Tuhan menjadi kemurkaan bagi manusia itu sendiri. Ingat pesan al-Qur’an, “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Jaga utéun Aceh untuk aneuk cucoe !

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan juga founder instagram @habagampong.id)