[Ruang Semangat]: Belajar dari Rumah ala Finlandia

Azwar Anas

Oleh Azwar Anas*

Sejak pertama kali diberlakukan secara resmi sekitar sebulan yang lalu, kebijakan belajar dari rumah (learn from home) yang digagas pemerintah nyatanya menyisakan problem lain yang perlu menjadi perhatian. Belajar dari rumah yang merupakan imbauan bersama dari pemerintah sebagai bentuk aksi nyata dari social distancing untuk memutuskan mata rantai penularan Covid-19, faktanya memberatkan banyak pihak. Sebut saja salah satunya orang tua siswa yang merupakan elemen penggerak juga penentu keberhasilan pendidikan yang ikut melayangkan rasa keberatan dalam mendampingi siswa selama belajar dari rumah. Hal ini saya rasakan betul ketika ada beberapa orang tua siswa menyampaikan keluhannya di tengah kesibukan mereka sebagai pekerja yang juga melakukan aksi kerja dari rumah (work from home).

Tak kalah mencengangkan adalah fakta yang dirilis oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) baru-baru ini. KPAI menyebutkan setidaknya terdapat 213 kasus pengaduan online terkait pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah dalam tiga pekan terakhir. Pengaduan siswa berasal dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari SD hingga SMA dan dari berbagai wilayah di Indonesia. Rata-rata pengaduan yang dilayangkan terkait belajar dari rumah yang dinilai memberatkan dengan sejumlah laporan seperti jumlah soal yang diberikan guru terlalu banyak sementara waktu pengumpulan dinilai tidak sesuai. Misalnya, berdasarkan pengaduan orang tua terdapat siswa SD yang harus mengerjakan soal sebanyak 40-50 butir setiap harinya. Ada pula siswa SMP yang harus mengerjakan sebanyak 255 butir soal dari pukul 07.00-17.00 Laporan lain yang diterima KPAI ialah terkait minimnya fasilitas pendukung proses belajar dari rumah. Bahkan ada siswa yang harus mendatangi rumah siswa lain untuk mendapatkan akses internet yang memadai, hal ini sangat berseberangan dengan tujuan belajar dari rumah untuk melakukan social distancing (Kompas.com, 20/3/2020).


Dampak dan Hambatan

Menjadi menarik untuk dibahas setelah pemberlakuan lockdown sekolah yang ditandai dengan belajar dari rumah masing-masing, setidaknya menyeruak berbagai hal yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama, baik pemerintah maupun stakeholder lain. Sebut saja hasil laporan yang diterima KPAI di atas. Menurut hemat penulis, berdasarkan laporan tersebut terlihat beberapa hal tentang pendidikan kita yang selama ini belum berjalan dengan baik. Pertama, masih adanya ketidaksiapan kita khususnya para pendidik dalam melaksanakan proses dan mengelola pendidikan. Fenomena pemberian soal dan tugas yang harus diselesaikan peserta didik secara berlebihan merupakan bukti nyata ketidaksiapan kita dalam mengelola pendidikan saat ini. Pemberian soal atau tugas yang semata-mata hanya fokus pada pemenuhan pengembangan kognitif semata merupakan aksi tidak langsung dalam mencederakan pendidikan. Hal ini disebabkan terjadinya ketidakseimbangan dan menjadi berat sebelah dalam pemenuhan kebutuhan pengembangan kognitif peserta didik, dibandingkan dengan dua elemen pengembangan lain, yaitu afektif dan psikomorik. Pada dasarnya tujuan utama pendidikan kita tidak melulu hanya pada pengetahuan dan pemahaman kognitif, namun juga harus diimbangi dengan dua unsur lain, yaitu afektif dan psikomotorik.

Kedua, kurikulum pendidikan kita yang masih stagnan dan terkesan kaku. Fenomena pandemi dan belajar dari rumah seakan menunjukkan bahwa para pengelola dan pelaku pendidikan kita masih kurang siap siaga dalam mengawal pendidikan. Kurikulum pendidikan yang masih kaku dan seakan hanya mengikuti runtut yang telah diatur dan didesain oleh pemerintah membuat pendidik sebagai pelaku utama pendidikan tak dapat berbuat banyak dalam memuluskan aksinya, terlebih ditengah situasi seperti ini. Pendidik seakan berada dalam cengkeraman aturan kurikulum yang harus dipenuhi dan tidak leluasa menyesuaikan proses pendidikan dengan keadaan dan situasi di lapangan. Padahal situasi dan kondisi saat ini sangat membatasi ruang gerak pelaku pendidikan untuk mencapai tujuan utama pendidikan sesuai dengan tuntutan kurikulum, seperti pemenuhan penguasaan materi atau konsep pelajaran, ketercapaian pengetahuan dan keterampilan antar materi dan berbagai hal lain yang membatasi lingkup ketercapaian tujuan pendidikan sesuai amanat kurikulum.

Ketiga, laporan dari KPAI di atas juga mengindikasikan bahwa masih minimnya fasilitas pendukung belajar kita saat ini. Tak pelak minimnya fasilitas pendukung belajar seperti terbatasnya akses internet menjadi hambatan tersendiri bagi segelintir siswa. Kondisi di tengah pandemi yang menuntut peserta didik belajar secara daring, tetapi tidak difasilitasi dengan fasilitas internet yang memadai merupakan sebuah isu yang kiranya perlu menjadi perhatian. Terlebih bila peserta didik dituntut memahami dan menguasai berbagai hal terkait pembelajaran yang dilakukan, tapi di lain sisi fasilitas pendukung tidak dicukupkan, maka yang terjadi hanyalah kesia-siaan.

Belajar dari Finlandia

Berbagai fenomena di atas tak terjadi pada peserta didik di Finlandia. Hasil diskusi daring yang dilaksanakan oleh Sekolah Sukma Bangsa Aceh dengan Satia P. Zain (mahasiswa doktoral di Tampere University, Finlandia) dan Naylan (siswa di Finnish International School of Tampere, Fista) pekan lalu membeberkan dengan gamblang, bagaimana pendidikan dijalankan oleh bangsa tersebut. Selama masa lockdown peserta didik di Finlandia juga melaksanakan aksi belajar dari rumah seperti kita, hanya saja yang membedakannya adalah para guru tidak melulu memberikan tugas untuk peserta didik yang hanya merangsang aspek kognitif semata, melainkan juga fokus pada pembentukan ranah afektif dan psikomotorik mereka secara menyeluruh. Naylan mencontohkan bagaimana gurunya memberikan tugas merapikan pakaian dalam lemari atau membuat barang bernilai seni (craft) sebagai tugas dalam sebuah pembelajaran daring. Hal ini dilakukan pendidik dengan tujuan untuk merangsang peserta didik agar melakukan hal baik sehingga akan ikut tertanam menjadi karakter baik pula.

Finlandia juga memiliki kurikulum pendidikan yang sangat terbuka dan dapat disesuaikan sendiri oleh pendidik dengan kebutuhan yang ada. Sehingga meski di tengah himpitan pandemi seperti ini, para pendidik beserta kelompok guru dapat dengan leluasa merumuskan dan merevisi ulang materi atau topik untuk diajarkan, tentunya dengan pertimbangan fasilitas belajar dari rumah ditengah serangan wabah.

Selain itu keberhasilan pendidikan di Finlandia juga ikut didorong oleh tersedianya fasilitas belajar yang sangat lengkap. Isu permasalahan terbatasnya akses internet sama sekali tidak terjadi di sana. Pemerintah memfasilitasi jaringan internet dengan baik sehingga dapat dinikmati dengan mudah oleh peserta didik. Tampaknya, kita harus belajar banyak dari mereka. Ketika sebuah ketercapaian pendidikan merupakan keharusan, maka penyediaan fasilitas merupakan sebuah keniscayaan. Sehingga yang terjadi hanyalah ketercapaian pendidikan, bukan kesia-siaan. Semoga![]

Penulis adalah guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Penulis buku Suara Sang Guru

Editor : Ihan Nurdin