Ponsel, Ibadah Ramadan, dan Gaya Hidup

Salah satu teknologi komunikasi yang perkembangan dan inovasinya luar biasa pesat dewasa ini ialah telepon seluler atau ponsel. Perkembangannya dari tahun ke tahun, tidak saja bentuk fisiknya yang  semakin memukau, cantik, apik, elagan, dan menarik, tetapi aplikasi, fitur, cara akses, sampai fasilitas yang ditawarkannya luar biasa beragam dan maju.

Alhasil, sekarang ponsel– apalagi sudah bermutasi kepada smartphone android–tidak hanya berfungsi sekadar sebagai media komunikasi semata, tetapi,sudah bisa digunakan untuk apa saja alias multimedia.

Kemampuan ponsel smartphone, sesuai artinya telepon pintar. Keberadaannya seperti komputer. Ia telah didukung berbagai sistem dan bermacam fitur. Apalagi sekarang smartphone telah dilengkapi pula berbagai macam perangkat dan fungsi. Ada film, kamera, video, GPS, aplikasi hiburan, dan berbagai permainan atau game.

Ada pula aplikasi media sosial, seperti Faceebook, Twiter, WhatsApp, dan Instagram. Bisnis dan manajemen, seperti Money Manager untuk mencatat dan mengatur keuangan, Inspigo untuk mendengarkan podcast pengembangan diri, hingga Ruangguru sebagai platform bimbingan belajar online yang sedang populer sekarang.

Selain itu ada juga varian aplikasi lain untuk menunjang gaya hidup kaum urban. Sebut saja aplikasi permainan, seperti PUBG dan candy crush, aplikasi pemesanan transportasi Gojek dan Grab, hingga dating application tinder.

Karena kepintaran dan fungsi smartphone yang luar biasa, berbagai kegiatan bisa dilakukan dengan “satu genggaman” saja, membuat kaum urban terlena, semakin kesemsem dan jatuh cinta pada benda empat persegi panjang nan tipis ini.

Sehingga tak mengherankan, semua orang terutama kaum milenial umumnya selalu berselancar atau menggunakan smartphone setiap saat dan berbagai kesempatan. Baik di rumah, di tempat kerja, di sekolah, kampus atau di mana saja.

Nyaris tidak ada penghuni jagat dunia ini yang tak mengenal, memiliki, dan tak menggunakan smartphone. Apakah dia orang tua apalagi anak muda. Bahkan, banyak yang sudah teradiksi, ketergantungan atau kecanduan, terbius, dan tergila-gila dengan telepon pintar.

Hari-hari rasanya, kurang lengkap tanpa ditemani sang “belahan jiwa” itu. Ia ibarat pakaian ke mana pergi, selalu dibawa.

Di mana dan kemana ponsel, bangun tidur ponsel, mau tidur lagi ponsel, bermain ponsel, belajar ponsel, berdagang ponsel, apa saja aktivitas selalu ada ponsel.

Jika belum punya ponsel pintar, kita dianggap  sosok yang belum modern dan  kurang gaul. Malah, ada ungkapan klise dan ironis dalam sebuah iklan salah satu produk handphone, “Hari gini ndak punya smartphone android?!” Begitu menirukan bunyi iklan tersebut.

Bulan Ramadan

Kendati begitu, di bulan Ramadan ini, teknologi yang diciptakan oleh Andy Rubin itu, penggunaanya perlu dipada-padai, dikendalikan, dipilah-pilah, dan digunakan dengan bijak.

Jika smartphone android itu digunakan tanpa kendali, celakanya bisa-bisa membatalkan ibadah puasa di bulan Ramadan. Paling tidak mengurangi pahalanya. Dengan kata lain, smartphone android  di bulan penuh rahmat ini, akan bisa menimbulkan malapetaka dan kemudaratan.

Diakui atau tidak,  berselancar dan berasyik-masyuk dengan handphone akan membuat banyak kesempatan (waktu) yang terbuang, kita menjadi malas, dan membuat enggan beribadah.

Sebab, penggunaan smartphone yang berlebihan dan tanpa kendali, bisa menimbulkan efek yang membuat penggunanya terpaku untuk terus melihat, melihat, dan melihat media sosial, tanpa ada news feed yang penting. Hanya untuk hiburan belaka bahkan bisa membuat pengguna terpaku berlama-lama hingga berjam-jam.

Tindakan seperti itu, adalah tindakan yang tidak produktif, mubazir, dan membuang-buang waktu. Efeknya, para pengguna smartphone menjadi malas beribadah dan terlanjur nyaman dengan hanya melakukan scroll dan scroll konten media sosialnya yang terdapat dalam smartphone.

Ironisnya, hal ini dilakukan oleh hampir kebanyakan kita apalagi di kalangan generasi milenial saat ini. Kalau sedang menatap smartphone, kita menjadi tidak peduli dengan suara azan, tidak peduli dengan orang yang beribadah dan dengan keadaan sekitarnya, bahkan saat pengajian atau ceramah agama pun kita asyik dengan diri sendiri, menggerak-gerikkan jari dan mengutak-atik tut smartphone kita.

Ini jelas akan membuat banyak durasi dan aktivitas ibadah di bulan Ramadan yang terkurangi dan tak sempat ditunaikan. Ia dianggap sesuatu tidak terlalu penting. Contoh yang paling ringan, misalnya, kita dianjurkan berdoa saat menjelang berbuka puasa dan menjelang makan sahur. Karena di waktu itu sangat mustajab untuk berdoa dan doa kita tak ditolak oleh Allah Swt. Namun, karena kita sedang berasyik-masyuk memainkan atau ber-smartphone ria, ibadah itu terlupakan.

Begitu pula halnya dengan  ibadah sunah, seperti Tarawih, tadarus, berdoa dan salat sebelum dan sesudah salat fardu, berzikir, beriktikaf, membaca Alquran, istighfar, salawat, dan ibadah lainnya.

Padahal semua amalan ibadah ini dikerjakan dengan tujuan untuk menambah keberkahan, bertobat, dan menghapus dosa nan durja, dan memperbanyak pahala, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah Swt.

Pendeknya, dalam bulan Ramadan ini, umat Islam dianjurkan oleh Allah Swt dan Rasulullah saw untuk menunaikan ibadah sebanyak-banyaknya, bertobat, dan menghapus dosa.

Keistimewaan menunaikan atau melaksanakan ibadah dan amalan di bulan Ramadan telah diungkapkan Rasulullah saw melalui sabdanya: “Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan sunah pada bulan Ramadan. Maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan amalan fardhu pada bulan lainnya. Dan barangsiapa yang melakukan amalan satu amalan fardhlu di bulan Ramadan maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan 70 amalan fardhu pada bulan lain.”

Terjadi kemalasan dan keengganan dalam beribadah dipicu karena keseringan dalam penggunaan ponsel pintar. Kalau pun ia beribadah ia selfi dulu. Saat berwudu selfi, saat salat, berzikir, berdoa, bersedekah juga begitu, dan lain-lain sebagainya. Jika ini berlangsung lama akan menimbulkan “fenomena” bahkan tragedi negatif dalam beribadah.

Solusi

Lantas, bagaimanakah cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dan mengurangi dampak penggunaan smartphone terhadap ibadah Ramadan dan bisa lebih meningkatkan ibadah kita. Supaya gairah beribadah para “penggila” smartphone kembali bangkit. Pertama, dalam bulan Ramadan ini, jangan pernah membuka handphone. Jika tidak bisa, gunakan smartphone android itu secara cerdaslah bersyariat terutama dalam memilih, memilah, dan menggunakan kontennya.

Dua, buatlah kembali perencanaan-perencanaan dan target ibadah yang bakal dilakukan. Misalnya, setiap hari habis salat harus bisa membaca Alquran, minimal dua lembar. Ketika puasa habis, bacaan Alquran tuntas 30 juz.

Tiga, mempelajari dan memahami tujuan dan fadilah-fadilah ibadah yang dikerjakan pada bulan Ramadan. Empat, melihat contoh-contoh dan merenungi sakit dan tersiksanya orang atau kaum yang telah berbuat dosa. Lima, menuliskan mimpi-mimpi atau life plan yang ingin dicapai dari ibadah Ramadan nanti dan lain-lainnya.

Smartphone seperti pisau bermata dua. Manfaatnya sangat banyak, tetapi risikonya pun tidak sedikit. Apalagi jika smartphone itu digunakan kurang bijak, tidak cermat, tidak cerdas dalam memilih, memilah, konten, aplikasi dan fitur. Bisa-bisa teknologi mobile ini menggiring kita masuk ke neraka dan kita abadi di dalamnya. Nauzubillahimindzaliq![]

Penulis adalah wartawan aceHTrend

Editor : Ihan Nurdin