[Ruang Semangat]: Belajar Bersyukur di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh Salsabila Husnul Khuluq*

Assalamualaikum teman-teman, gimana kabarnya selama pandemi Covid-19 ini? Semoga semua dari kita tetap sehat dan melakukan hal-hal positif juga mengisi waktu dengan produktif tentunya ya. Oh ya, beberapa hari belakangan ini cuaca saat sore hari langit tampak mengabu tertutup awan mendung. Pada kesempatan kali ini aku ingin bercerita sedikit mengenai pengalamanku selama Covid-19. 

Sore kemarin aku dapat dengan jelas menatap langit kelabu di balik jendela kamarku, langit yang menyelimuti bumi bagian Aceh, Darussalam, lebih tepatnya Kota Pelajar Mahasiswa dan saat itu langit berkabut kelabu dan semilir angin berkaloborasi menciptakan hawa dingin. Sore seperti ini aku biasa menemani ibuku keluar sebentar ikut membeli makanan untuk berbuka puasa, setiap perjalanan yang kami telusuri ada saja bermacam-macam makanan dan aneka minuman yang disuguhkan oleh para penjual di sepanjang jalan.


Selama dalam perjalanan aku memperhatikan berbagai macam ekspresi dan gaya para penjual di masing-masing lapak mereka, ada yang termenung-menung menunggu pelanggan, ada yang cukup sibuk melayani ramainya pelanggan yang datang. Aku hanya mengikuti saja ke mana ibuku membawaku dengan mengendarai motor biru sore itu, rencananya ibuku ingin membeli siomay untuk hidangan buka puasa di rumah, akhirnya setiba kami di tempat penjual siomay, ibuku memesan tiga bungkus siomay dan harus menunggu beberapa menit agar siomaynya matang. Kurasa kami pelanggan pertama sore itu, sambil menunggu siomay matang, ibu mengajakku membeli beberapa kue camilan di toko yang juga dekat  dengan penjual siomay tersebut.

Selang beberapa menit saja, tak terasa tiba-tiba hujan turun dengan derasnya membasahi tanah, para pedagang kecil di sepanjang jalan diguyur hujan yang dengan semangatnya mengucuri setiap sudut penghuni bumi. Saat itu aku teringat sesuatu dan sambil merenungi sesuatu di balik derasnya hujan dan panorama para pedagang di sekelilingku. Batin dan pikiranku ikut berpikir dan berkata-kata, mungkin bagi sebagian orang saat ini sedang bersantai dan menyibukkan diri dan mendapatkan kehangatan di rumahnya masing-masing dengan hanya di rumah saja. Sedangkan sebagian yang lain harus menahan dingin maupun panas di luar, sembari mengais rezeki tak kenal cuaca panas maupun dingin, tak pandang usia dari yang tua, anak muda hingga anak-anak yang ikut berjualan di pinggir jalan. Aku melihat ke sekeliling sambil berteduh menghindari butiran hujan di depan toko kue.

Aku menatap sembari membayangkan, bagaimana kalau aku berada di posisi mereka yang kesusahan dan hanya salah satu pekerjaan yang bisa dilakukan adalah berjualan. Hal itu juga pastinya mengharuskan aku untuk bekerja keras hingga rela menyuguhkan bermacam-macam aneka macam takjilan atau minuman segar untuk menarik minat pelanggan. Satu hal lagi, sebagian dari mereka mungkin juga ada yang bekerja lebih keras bahkan tak kenal waktu dan lelahnya pekerjaan tersebut.

Saat itu hujan mengguyur tubuh dan barang dagangan mereka dengan sangat deras, aku dapat merasakan bagaimana butiran-butiran air hujan jatuh menyerbu dan mengenaiku tanpa ampun saat aku berlari kecil menuju kembali tempat penjual siomay setelah membeli beberapa kue. Sampai aku berpikir saat itu, kurasa tak ada yang ingin kebasahan dan merasakan bagaimana dinginnya air hujan menerpa tubuh mereka, bahkan kucing kecil pun akan lari mencari tempat untuk berteduh pada saat hujan tiba. Dan yah, tak ada yang lebih diperhatikan dari diri mereka sendiri dibanding menjaga barang dagangannya agar tetap terjaga dan tidak basah terkena hujan.

Melihat keadaan tadi, aku menjadi teringat kembali pada peristiwa beberapa waktu lalu. Saat itu informasi Covid-19 masih baru-baru terdengar. Kala itu bulan Maret, aku sedang menempuh perjalanan dari Langsa menuju Banda Aceh. Dalam perjalanan malam itu aku menyaksikan sendiri dari balik kaca mobil bagaimana para polisi berpatroli melantangkan suara mereka melalui toa, mengisyaratkan kepada para pedagang yang berjualan untuk menutup toko mereka sementara waktu selama sepanjang malam. Semua ini dilakukan memang untuk kemaslahatan bersama dan saat itu berita mengenai Covid-19 sangat mengejutkan. Apalagi bagi sebagian masyarakat pada umumnya belum mengetahui secara betul dari mana penyakit tersebut bisa ditularkan, virus apa, dan bagaimana bentuknya pun belum sepenuhnya tahu.

Dan pada masa-masa pandemi Covid-19 ini, aku belajar banyak artinya rasa bersyukur, bersyukur dalam segala hal yang kita miliki saat ini. Saat kejadian itu ada sedikit rasa sedih rasanya saat melihat sebagian dari mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhannya dari berdagang, mulai dari toko kelas atas hingga toko kelas bawah. Beberapa warung makan yang berdiri di sepanjang jalan masih banyak sekali menyediakan hidangan lauk pauk tersaji dan tersusun manis menghiasi interior di balik dinding kaca tipis dalam warung makan. Dapat kulihat di balik kaca mobil di dalam warung-warung makan ada banyak makanan hangat di sana dan uap-uap hangat menyeruak di antara piring-piring makanan di sana.

Namun, hal tersebut tak berlangsung lama manakala isyarat polisi sudah menggema memperingatkan khalayak untuk kembali ke rumah dan menutup semua kedai mereka. Semua tempat yang tadinya ramai sepi, tutup. Makanan hangat yang tadinya baru dimasak langsung dieksekusi kembali ke dalam penyimpanan. Dari bapak-bapak yang jualan martabak di pinggir jalan sampai abang-abang jualan minuman, tutup. Setelah itu mengarantina diri dan juga barang perniagaan mereka.

Hal-hal kehidupan yang sudah Tuhan berikan saat ini sudah sepatutnya kita syukuri dengan semestinya, banyak pembelajaran yang harusnya dapat mengajari kita bagaimana beruntungnya kita dan sudah seharusnya kita pergunakan waktu saat ini dengan sebaik-baiknya. Tetap produktif selama pandemi Covid-19 ini, mari kita coba jalani dengan sepenuh hati dan jangan lupa selalu bersyukur untuk hal-hal yang kita punya saat ini. Dengan bersyurkur akan membuat kita cukup dan kecukupan akan membuat semuanya akan berkah.

Ingat kembali bahwa banyak di luar sana juga menginginkan apa yang kita miliki, tetapi mereka tidak bisa memiliki seperti yang kita punya. Covid-19 kali ini banyak mengajari aku sih, bagaimana mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan tak pandang dari segi apa pun. Nikmat Allah yang Mahaluas, selama kita hidup dan kita mendapatkan kecukupan itu adalah berkah, jadi tetap positive thinking apa pun masalah yang sedang kita alami saat ini. Yuk, kita doakan juga bagi mereka yang kesusahan di luar sana, semoga Allah berikan keringanan dan kelancaran rezeki bagi mereka yang saat ini sedang susah. Semoga doa kita di bulan yang penuh berkah ini dapat diijabah dan dilipatkan pahala yang melimpah dengan ibadah yang kita jalani. Semoga ceritaku ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Aamiin 😉😊.[]

Penulis adalah mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent