Bireuen, Kota Kebal Corona

Salah satu ruas Kota Bireuen yang padat pada Kamis malam (14/5/2020). [Muhajir Juli/aceHTrend]

Laporan Muhajir Juli

Bireuen adalah kota yang luar biasa. Setidaknya dalam hal antisipasi penyebaran corona virus diesese -19 (Covid-19). Di ruang publik, pengguna masker seperti populasi yang hampir punah. Bukan lagi minoritas. Tapi sub kelas minoritas. Demikian juga dalam hal pembatasan sosial. Di semua tempat, lelaku manusianya seperti biasa. Seperti sebelum virus corona menyerang.

Demikian hasil pandangan mata yang saya lakukan sejak tiba di Bireuen, Rabu siang (13/5/2020) hingga Kamis malam (14/5/2020) pukul 23.21 WIB.


Pulang ke Bireuen dalam rangka urusan bisnis yang tidak mungkin saya tinggalkan, banyak hal yang kemudian menjadi tanda tanya. Apakah pembatasan sosial seperti jaga jarak antar individu tidak diberlakukan oleh pemerintah? Bila ada, mengapa pula di warung kopi, pasar, dan ruang publik lainnya, semua protokol Covid-19 seperti tidak berlaku?

Saya sempat mewawancarai beberapa orang. Dari pengakuan mereka, di Bireuen penggunaan masker di ruang publik, jaga jarak, apalagi stay at home merupakan sesuatu yang tidak dipraktikkan.

“Di sini mana ada. Coba keliling, berapa orang yang pakai masker? Berapa warung kopi yang menerapkan standar keamanan penanggulangan covid-19? Tidak ada. Kami di sini melihat justru Anda yang aneh. Kemana-mana pakai masker,” ujar Nawi, warga Bireuen yang saya temui, Rabu malam.

Pengakuan Nawi dan sejumlah sumber lainnya, bukan asbun. Dapat dipertanggungjawabkan. Karena demikianlah fakta di lapangan.

Kamis sore (14/5/2020) saya keliling Kota Bireuen dan Matangglumpangdua. Saya masuki lorong kota, jalan-jalan tempat takjil berbuka puasa digelar oleh pedagang. Saya perhatikan dengan saksama. Hasilnya, pedagang takjil, pembeli takjil, nyaris tidak ada yang pakai masker.

Demikian juga ketika pada Kamis Siang saya keliling tempat pedagang menjual pakaian. Penjual dan pembeli sama-sama tidak menggunakan masker. Di pasar tradisional juga demikian.

Setali tiga uang ketika malam tiba. Seusai tarawih saya juga keliling. Hasilnya sama saja. Warung-warung kopi penuh sesak. Tidak ada penjarakan antar individu. Mereka tidak memakai masker. Petugas warkop juga sama.

Bagaimana dengan hand sanitizer? Sepertinya juga tidak digunakan ketika berinteraksi di ruang publik. Salam-salaman tetap seperti biasa.

Terkait fenomena ini, saya coba hubungi Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Bireuen Husaini,SH. Mantan Sekretaris DPRK Bireuen itu tidak mengangkat telepon. Pesan yang saya kirim melalui aplikasi WA juga belum dibaca. []

Laporan pandangan mata.