Cuaca Ekstrem, Indikasi Perubahan Iklim?

Dr. Yopi Ilhamsyah.

Dr.Yopi Ilhamsyah

BMKG Aceh Besar menyebutkan hujan pada 07-08 Mei menjadi yang tertinggi di Aceh selama 10 tahun terakhir, seperti diberitakan aceHTrend (https://www.acehtrend.com/2020/05/09/curah-hujan-pada-dasarian-i-mei-tertinggi-di-aceh-selama-10-tahun-terakhir/). Curah hujan (CH) yang turun tergolong ekstrem karena bernilai lebih dari 100 milimeter (mm). Di Kotamadya Banda Aceh, beberapa kecamatan seperti Ulee Kareng, Meuraxa, Jaya Baru, Lueng Bata, CH masing-masing sebesar 152, 107, 125, 152 mm. Di Aceh Besar, Lhoong, Pulo Aceh, Krueng Barona Jaya dan Blang Bintang masing-masing dengan CH bernilai 130, 287, 213, 108 mm. CH ekstrem ditengarai sebagai penyebab banjir di sejumlah wilayah Aceh.

Hujan seberapapun volumenya sejatinya rahmat apalagi di tengah pandemi corona yang belum diketahui kapan berakhir. Hujan membuat ketersediaan air di dalam tanah tercukupi. Kebutuhan air bersih sangat diperlukan seiring intensifnya aktivitas mencuci tangan sembari bersabun. Hujan mencuci udara lewat pembersihan debu dan partikel kotor yang melayang di angkasa. Kurangnya aktivitas berkendaraan, hujan justru menjadikan kualitas udara lebih baik lagi. Hujan menumbuhkan tanaman. Tanaman melepas oksigen. Oksigen dari udara segar yang kita hirup menjaga kesehatan tubuh kita. Tubuh yang sehat memperkuat imunitas yang bermanfaat melawan virus yang menyerang kita. Volume air dalam jumlah besar yang turun lewat hujan menyiram droplet (percikan cairan) yang mengandung corona yang menempel di lingkungan luar rumah.


Saat musim hujan April-Mei, sejatinya air hujan kita kelola dengan baik. Tempat penyimpanan air seperti waduk, embung dan sumur kita isi. Selepas musim hujan, Aceh segera memasuki musim kemarau pada Juni-Agustus. Lewat cadangan air, pasokan air saluran irigasi menjadi memadai dalam mengairi sawah. Tata kelola air yang baik mampu menjaga ketahanan pangan Aceh di tengah ketidakpastian ekses corona. Demikian pula kebutuhan air rumah tangga.

Namun, minggu pertama Mei kita terhenyak kala mendapati cuaca yang tidak bersahabat. Hujan deras turun selama beberapa hari berturut-turut. Air hujan merendam pemukiman warga, menggenangi sawah dan ladang. Tidak ada yang salah dengan hujan, peristiwa ini terjadi karena kita sendiri yang tidak mampu mengelola lingkungan dengan baik.

Tahukah kita kalau hujan ekstrem timbul sebagai respons perubahan bentang alam? Transformasi lanskap akibat alih fungsi lahan menjadi bangunan berikut halaman berpaving blok dan jalan raya berdampak tumbuhnya awan hujan. Semakin ekstensif transformasi di permukaan, semakin besar pula awan hujan yang tumbuh di angkasa. Mengapa demikian?, pada daerah yang didominasi material batu, semen, beton dan jalan aspal, cuaca menjadi cepat panas. Dalam ilmu cuaca, daerah seperti ini menjadi pusat konveksi udara. Pancaran sinar matahari memanaskan permukaan, mengakibatkan udara naik. Udara sendiri mengandung uap air. Karena panas, udara yang naik menjadi cepat labil di dekat permukaan.

Semakin panas semakin labil udara. Panas turut mendorong udara labil untuk terus naik. Masih dekat permukaan, udara labil ini mengalami perubahan wujud dari uap air menjadi air yang dikenal dengan kondensasi. Awan terbentuk lewat proses ini. Semakin panas semakin tinggi awan yang tumbuh di langit bahkan mencapai ketinggian 12 ribu meter di atas permukaan. Ibaratnya seperti kita sedang membakar. Semakin panas semakin membumbung asap yang dihasilkan.

Karena udara sudah jenuh ditandai kelembaban besar, awan tinggi ini menumpahkan air dari langit. Awan tinggi ini kita sebut awan Cumulonimbus (CB). Sementara air dari langit disebut hujan. Di langit awan CB ini bersuhu sangat dingin sementara di permukaan bersuhu panas. Kita dapat merasakan udara yang gerah dan mendadak panas menjelang atau ketika hujan. Hal ini karena awan CB melepas panas laten di tengah pembentukannya. Ada indikator jika malam hari udara terasa gerah, dapat dipastikan bahwa esok akan ada badai besar.

Selanjutnya, suhu dingin di langit menciptakan daerah bertekanan tinggi sementara suhu panas di permukaan bertekanan rendah. Akibatnya, angin bertiup menuju permukaan. Inilah kenapa pada awan CB yang masif, angin kencang dapat muncul seiring turunnya hujan. Selanjutnya, kemana angin dan hujan ini turun? Kedua proses cuaca ini turun pada daerah bertekanan lebih rendah. Semakin rendah tekanan udara di suatu wilayah maka semakin lebat hujan yang turun serta kencang pula hembusan angin.

Mengapa terbentuk tekanan begitu rendah pada suatu daerah? Ini terkait dengan perubahan iklim. Secara umum, definisi perubahan iklim adalah iklim yang berubah dari kondisi rata-ratanya (normal) akibat faktor antropogenik (aktivitas manusia). Penggunaan bahan bakar fosil memperburuk kualitas udara akibat tingginya konsentrasi gas-gas rumah kaca di angkasa. Di atmosfer lapisan ini menebal, imbasnya permukaan bumi menjadi sangat panas.

Alih fungsi lahan besar-besaran meliputi pembangunan infrastruktur dan penebangan hutan berdampak perubahan iklim secara makro di permukaan. Suhu menjadi lebih panas. Jika setiap wilayah mengalami perubahan ini maka dinamakan pemanasan global.

Dalam skala kecamatan dapat berupa pembangunan kawasan permukiman, pertokoan dan fasilitas jalan aspal. Perubahan ini berimbas berubahnya iklim di kecamatan tersebut. Parahnya daerah bantaran sungai, dalam istilah hidrologi disebut floodplain (daerah pinggir sungai dengan frekuensi tergenangnya air sungai adalah sering) turut pula bertransformasi. Iklim yang lebih panas memicu terbentuknya pusat konvektif dengan awan CB masif menggantung di atasnya sekaligus tekanan sangat rendah di bawahnya. Ketika hujan ekstrem turun, kecamatan ini langsung terdampak. Sungai yang meluap mencapai bantaran yang sejatinya tempat air yang kini beralih menjadi hunian warga ikut terendam. Minimnya daerah resapan air dan vegetasi menjadikan daerah tersebut terdampak sangat parah.

Untuk menurunkan suhu, kondisi iklim yang kadung berubah harus kita pulihkan. Untuk menciptakan lingkungan sejuk maka kita tanam pohon. Untuk dapat menyerap emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar sejenis pohon trembesi dirasa tepat untuk ditanami. Tumbuhan ini dapat menjadi vegetasi kota, ditanam di pinggir jalan selain berfungsi peneduh jalan. Pohon trembesi ditanam juga di setiap kecamatan. Ruang-ruang hijau diperbanyak dan ditanami pepohonan berakar tunggang semacam beringin yang dapat berfungsi sebagai pengendali banjir sekaligus pengikat air. Konsep naturalisasi ini bermanfaat selain memiliki cadangan air dapat pula mereduksi polusi udara kala musim kemarau tiba. Di bantaran sungai, tanam kembali pohon bambu yang mampu menyerap karbon dalam jumlah besar sekaligus pengendali banjir alami dalam fungsinya mengikat air dan tanah.

Untuk wilayah muara dan pesisir, hijaukan kembali dengan vegetasi bakau. Bakau berperan sebagai rosot karbon terbesar, tercatat lima kali lebih besar dari hutan alam. Hutan kembali direstorasi. Regulasi dijalankan dengan ketat. Dengan demikian, iklim dapat kembali pulih dengan cepat dan cuaca ekstrem berimbas banjir dapat segera kita hindari. Ayo ciptakan lingkungan kita yang lebih hijau.

Laboratorium Meteorologi-Laut, Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsyiah.