[Resensi]: Menyelami Perasaan Anak-Anak Penghuni LPKA

Oleh Hanifah Zain*

Judul Buku                 : Kepak Sayap yang Tertunda – Kisah-Kisah di Balik Jeruji
Kategori Buku             : Nonfiksi
Penulis                       : Koko, dkk
Editor                         : Ihan Nurdin dan Hayatullah Pasee
Penerbit                      : Syiah Kuala University Press
Tebal Buku                 : 72 halaman + viii
Harga                          : 50.000

Kepak Sayap yang Tertunda merupakan buku kumpulan cerita dan sajak yang ditulis oleh anak-anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Banda Aceh. Setiap anak memiliki cerita berbeda yang menjadi alasan kenapa mereka masuk LPKA. Namun, dari buku ini, kita bisa lihat bahwa walaupun tak sebebas dulu, mereka tetap bisa menemukan hal-hal baru yang mengubah hidup mereka.

Judul buku ini Kepak Sayap yang Tertunda diambil dari salah satu judul cerita yang ditulis oleh Koko, di antara 16 judul tulisan yang terdapat di dalam buku ini. Cerita ini di tulis oleh Koko, seorang pemuda yang sempat mengonsumsi narkoba. Dia menuliskan penyesalannya dan apa yang ada di benaknya selama berada di LPKA.

Sedikit demi sedikit ia memupuk harapan agar bisa bangkit dan berbaikan dengan masa lalu. Bukan hal yang mudah karena begitu banyak yang ia sesalkan, tetapi ia menyadari bahwa ini adalah kepak sayapnya yang tertunda. Koko harus menghentikan perjalanannya sejenak sebelum akhirnya kembali terbang. (Hal. 15)

Cerita dan sajak di dalam buku ini berisi harapan dan perjuangan untuk berbaikan dengan masa lalu. Keyakinan bahwa apa yang mereka alami bukanlah sebuah akhir, melainkan awal suatu hal yang akan lebih baik lagi.

Disajikan dengan bahasa yang sederhana dan sudut pandang mereka, membuat pembaca dapat mengerti bagaimana perasaan para penulis. Beberapa judul lain yang tak kalah menarik dari buku ini seperti Kutemukan Petunjuk di Dalam Penjara yang ditulis oleh Jon dan Bangkitnya Semangat Baru oleh Abu. Cerita mereka membuat kita terenyuh, sekaligus menyadari bahwa sedang atau pernah menempati lembaga pembinaan bukanlah akhir dari kehidupan.

Dari kisah-kisah mereka setidaknya kita bisa mempelajari satu hal: jangan pernah bermain-main dengan hukum.

Kelebihan Bbku ini membuat pembaca dapat memahami bagaimana perasaan para narapidana anak-anak yang berada di LPKA Banda Aceh. Mereka tidak merasa kehilangan harapan meskipun raganya sedang terkurung, tetapi kembali membangun serpihan harapan karena mereka memiliki jiwa-jiwa yang bebas.

Meski begitu, bukan berarti buku ini tidak punya kelemahan. Menurut penulis kelemahan buku ini ialah alur cerita terasa tidak berkesinambungan sehingga membuat sedikit bingung. Namun, hal ini dapat dimengerti karena yang menulis bukanlah penulis terlatih. Oh ya, dengan membeli buku ini kita juga sudah turut berdonasi untuk pengembangan literasi di LPKA Banda Aceh.[]

*Mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unsyiah

Editor : Ihan Nurdin

Punya buku-buku menarik yang sedang Anda baca? Kirimkan resensinya ke acehtrendmedia@gmail.com, dengan syarat panjang tulisan antara 500-800 kata, buku terbitan tahun berjalan, melampirkan foto buku yang diresensi, serta data diri penulis.