Banjir, Kami Malah Senang, Bagaimana Mungkin?

Zulfadhli Kawom. [Ist]

Oleh Zulfadhli Kawom

Setiap keunoeng sa, dalam kalender musim Aceh, biasanya bulan Desember, kampung kami kebanjiran, biasanya banjir kiriman dari Krueng Sawang. Tapi kami doeloe-nya tidak menganggap bencana, tapi fenomena alam biasa, karena kami memang telah siaga;panen padi telah usai, kecuali salah keuneunoeng atau di luar prediksi, misal banjir di awal tahun atau sebelum bulan Desember.

Kami cukup senang, tak pernah kelaparan, tidak ada bantuan masa itu, saat banjir beras sudah cukup stock lam teem di rumah. Padi tersimpan dalam kroung setelah bayar zakat dan bersedekah. Biasanya untuk pembangunan dayah, meunasah, masjid dan beberapa orang cacat. Masa itu para mualaf juga datang sendiri ke kampung-kampung usai panen padi.

Selain padi, di lampouh orang tua kami juga menanam ubi, jagung dan pisang;kalau gagal panen. Tapi rawa-rawa juga umumnya ditanami sagu juga sebagai makanan alternatif misal terjadi bencana atau wabah yang berkepanjangan. Masa itu musim turun ke sawah setahun sekali, tapi kami tidak kekurangan (kelaparan).

Mengapa malah kami senang, tapi kan lagi banjir?

Saat banjir ikan-ikan berlimpah, menggelepar di halaman rumah, tinggal bawa jaring, ada juga yang pakai angkoy di irigasi atau lueng. Ada juga yang menggunakan cro di kampung yang airnya payau biasanya ikan sungai dan ikab rawa, seperti sakap, kiree, mujahed, khambulan, seupat kleeng, bacee, krueng, kiree dan seungkoe. Kami tidak kekurangan ikan, malah kami bisa menjualnya.

Sebelum datang museem keunoeng sa, semua barang-barang penting sudah diamankan ketempat yang lebih tinggi dalam lemari rumah misalnya dokumen penting (rapor, ijazah, surat tanah, album photo dan lain-lain yang dianggap penting.

Lantas setelah air surut, paska banjir?
Kalau bunyi katak sudah mulai ramai sekali, biasanya air sudah mulai surut, frekwensi hujan mulai menurun. Secara alamiah air mulai berkurang debitnya, biasanya di halaman rumah tinggal setumit. Oya, saya hampir lupa, masa itu umumnya di kampung, rumah berkontruksi kayu dan berupa rumôh manyang (panggung).

Cerita di atas adalah kejadian tahun 90-an. Lantas kini bagaimana?

Kini irigasi sudah semakin canggih, begitu juga teknologi pertanian-musim tanam bisa tiga kali setahun, jalan-jalan dan saluran desa sudah dibeton. Tapi ada kesalahan menurut saya.
Pertama, pembangunan tanpa berspektif bencana saat perencanaan malah menciptakan bencana, misalnya jalan mulai tinggi hingga air terperangkap, tahun 2000 malah kampung antara Bungkaih dan Krueng Mane kami terkurung banjir karena air tidak bisa keluar, tertahan pematang irigasi yang tinggi.

Kedua, rawa-rawa sebagai sumur resapan alami telah berubah fungsi (pemukiman dan sawah) hingga tidak ada lagi wilayah resapan air dan tempat hidup ikan yang tadi saya cerita di atas. Pohon sagu mulai langka.

Ketiga, praktek pertanian dengan menggunakan pupuk kimia dan aplikasi pestisida berlebihan telah mematikan bibit ikan rawa dan beberapa habitat lain seperti, meunoum, bubruek, hee, cani, beureukiek;sejenis unggas yang bisa dimakan (halal) yang hidup di persawahan dan rawa-rawa kini tinggal kenangan.

Keempat, pola distribusi bantuan ala “Sinterklass” telah memanjakan penduduk kampung, dan menimbulkan kecurigaan dan konflik antara pemerintah dan masyarakat, sering dianggap bantuan politik atau politik bantuan, misalnya di ada kampung yang caleg tidak menang tidak ada bantuan. Dulunya kami tidak cengeng, malah orang tua kami membakar pisang putiek dan ubi dan eungkhui sudah bisa bikin tareek pruet (kenyang) tanpa berharap.

Penulis Zulfadli Kawom, anak kampung yang gemar wét-wét.