Lhob Mate Corona (5): Gubernur Cuomo, Anies, dan “Pulitek Meuparikah”

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Ahmad Humam Hamid

Secara etimologi kata meuparikah dalam basa Aceh berasal dari bahasa Arab mufarraqah yang berarti memisahkan diri,terutama digunakan dalam fikih salat. Dalam pengajian fikih salat sang ustaz menjelaskan ketika sembahyang dan imam dianggap sudah melanggar ketentuan yang ada, maka sang makmum memisahkan diri, keluar dan dia mufaraqah.

Kata mufarraqah menjadi sangat viral pada tahun 80an, ketika KH. Yusuf Hasyim berbeda pandangan dengan ketua NU- keponakannya KH. Abdurrahman Wahid. Dengan terang benderang dia menyatakan kepada publik via media “ saya mufarraqah tengan Durrahman- panggilannya kepada Gus Dur. Kata meuparikah dalam basa Aceh sehari-hari lebih sering sama arti dan konteksnya dengan ucapan KH,Yusuf Hasyim- berselisih, berbeda pendapat, dan bahkan bertengkar tentang suatu hal tertentu.


Apa hubungan antara Andrea Cuomo dan Anis Baswedan dengan meuparikah, tepatnya pulitek meuparikah? Kedua mereka adalah penguasa daerah terpenting untuk negaranya. Yang satu New York, ibu kota ekonomi Amerika Serikat, dan yang satu lagi, Jakarta,ibukota pemerintahan Indonesia.

Tentang meuparikah? Ya, kedua mereka sedang berbeda, mungkin juga bertengkar dengan atasannya, Pemerintah Pusat, tentang penanganan covid 19. Bedanya, Cuomo lansung bertengkar dengan Presiden Trump di berbagai media secara terbuka, sedangkan Anies bertengkar dengan “barisan” pembantu presiden secara ,juga terbuka, yang tampil di berbagai media.

Perbedaan lainnya adalah, meuparikah Cuomo langsung tersebar secara mondial via berbagai media mainstream internasional, sedangkan Anies, awalnya lokal dan nasional, baru global setelah Harian berpenengaruh Australia Sidney Morning Herald, dan koran Hongkong, South China Morning Post menulis tentang Anies, menyamakan dengan Cuomo. dan bahkan memberi gelar Cuomo-nya Indonesia.

Secara umum, banyak sekali persamaan antara Cuomo dan Anies, terutama dalam DNA politik dan kemasyarakatan. Mereka berdua sama-sama berasal dari keluarga yang berurusan dengan politik dan kehidupan publik. Kakek Anies adalah AR Baswedan- pahlawan nasional yang mempunyai peran besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Cuomo adalah anak kandung Gubernur legendaris New York, Mario Cuomo, yang pernah menjadi pengeritik keras sejumlah kebijakan Presiden Ronald Reagan. Secara akademik mereka juga sama-sama menamatkan pendidikan strata tiga,Anies memperoleh gelar Doktor Politik dari Nothern Illinois University, AS, Cuomo memperoleh gelar Doktor hukum dari Albany Law School. Kedua mereka juga sama-sama berstatus sebagai pengajar Universitas yang kemudian terjun ke dunia politik kehidupan publik.

Mereka pernah menjadi menteri sebelum gubernur- Cuomo Menteri Perumahan AS, dan Anies Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Uniknya kementerian yang mereka jalani sangat berhubungan erat dengan kegiatan gerakan besar yang mereka lakukan, menyangkut dengan persoalan dasar bangsanya, Anies dengan kegiatan non-profit “Indonesia Mengajar” dan Cuomo dengan kegiatan non profit HELP yang ditujukan untuk perumahan untuk orang miskin AS. Di samping kapasitas individu yang dimiliki oleh keduanya, agaknya kegiatan yang mereka lakukan itu, juga menjadi ukuran komitmen pribadi untuk masuk dan berhadapan langsung dengan persoalan besar bangsanya. Persamaan lainnya, yang layak disebutkan adalah tentang potensi kedua mereka untuk maju sebagai calon presiden, dan kedua mereka menghindar, tidak mau berkomentar, dan bahkan Cuomo jelas mengatakan tidak.

Ada sedikit perbedaan antara keduanya. Walaupun Anies bukan dari negara maju, sejumlah lembaga dan media International memberi poin lebih kepada Anies sebagai salah satu individu yang berprestasi dan diproyeksikan akan berperan dalam kehidupan global masa depan.

Majalah kajian luar negeri dan kawasan prestesius AS, Foreign Policy, pada tahun 2008 memasukkan Anies kedalam “100 intelektual publik global” bersama sama dengan Al Gore, Yusuf Qardawi, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Noam Chomsky,Thomas Friedman, Lee KuanYew dan Muhammad Yunus-pemenang Nobel asal Bangladesh. Anies merupakan orang Indonesia pertama yang masuk dalam kategori ini.

Pengakuan internasional kepada Anies berlanjut pada tahun 2009, ketika Forum Ekonomi Dunia yang berbasis di Cologny,Swiss memasukkan Anies ke dalam gugus pemimpin muda global berasama-sama tengan CEO Facebook Mark Zuckerberg, CEO YouTube, Chad Hurley dan pembalap F-1 Michael Schumacher.

Selanjutnya pada tahun 2010 Anies dimasukkan oleh majalah berbengaruh Tokyo, Jepang,ke dalam 20 orang yang perlu dipantau secara khusus, bersama dengan Vladimir Putin (Presiden Russia), mendiang Hugo Chavez ( Presiden Venezuela), David Milliband (Mantan Menlu Inggris), Rahul Gandhi (mantan ketua Partai Kongres India) dan calon presiden AS 2016, Paul Ryan.

Berbagai prediksi-kutika, Aceh- dengan menggunakan berbagai versi kitab nujum Tajul Muluk mereka, kemudian mulai terbukti . Anies mulai terlihat sebagai sosok muda Indonesia, yang terpelajar, berintegritas, santun, rendah hati, peduli dan sederhana. Ia bergabung dengan tim kampanye Jokowi dan kemudian diangkat menjadi Menteri P&K selama dua tahun untuk kemudian diberhentikan dengan alasan yang tidak jelas. Kemudian ia maju melawan Ahok dalam pemilihan Gubernur DKI, dan ia menang. Kini, banyak pihak menjagokan Anies untuk menjadi Presiden RI pasca Jokowi, namun ia sendiri belum berkomentar terhadap gagasan itu.

Sosok Anies dan Cuomo dalam konteks Covid-19 sebenarnya lebih gampang dinilai dengan menggunakan cara pandang “memimpin dalam masa krisis”. Kedua mereka dengan sangat peka dan cepat mampu menilai dan menimbang “bobot” ancaman corona pada waktu yang sangat dini. Awal bulan Januari 2020 ketika banyak pemimpin belum “melihat” Covid-19 atau bersikap “Belanda masih jauh”, Anies telah mulai memberi aba-aba tentang “sindrom wuhan,” sebuah wabah bahaya dengan nama yang belum ditabalkan.

Ada dua pemimpin dunia lain yang kepekaannya terhadap “sindrom wuhan” juga dimulai pada awal Januari 2020, Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Xuan Phuc, dan presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Beda mereka dengan Anies, hanya satu. Mereka berdua adalah pemimpin tertinggi negaranya yang dapat langsung berbuat secara optimal, sedangkan Anies hanya seorang gubernur yang terikat dengan aturan pemerintahan yang lebih tinggi, pemerintah pusat. Walaupun demikian,dalam kapasitas gubernur, komunikasi publik yang dilakukan oleh Anies tentang ancaman corona tidak kurang dari komunikasi Pemerintah Vietnam dan Taiwan.

Resep manjur ketika negara memasuki masa kritis seperti Covid-19, adalah komunikasi dan informasi yang benar dan jujur, baik di dalam pemerintahan, maupun antara pemerintah dengan publik. Kalaulah ucapan Menkes Terawan dijadikan ukuran kepekaan pemerintah terhadap Covid-19, maka dengan terang benderang ia telah mendemonstrasikan ketidaktahuan dan ketidakpekaannya terhadap ancaman. Kata kunci Terawan pada masa itu tidak banyak, “tenang, jangan panik, enjoy, dan doa” Ukuran pertama “meuparikah” dengan Pemerintah Pusat mungkin dimulai dari kontra narasi antara Gubernur DKI dan Menkes Terawan yang cenderung dibiarkan oleh pemerintah.

Dalam hal meuparikah dengan Pemerintah Pusat Cuomo dan Anies banyak pula memiliki kemiripan. Mereka berdua dianggap oleh atasannya, atau “bawahan atasannya” sebagai individu yang paling banyak tahu tentang subject Covid-19, sangat komunikatif, mempunyai visi dan narasi yang sangat jelas, jujur, dan bahkan tidak berhenti disitu , mereka juga berdua mempunyai aksi yang nyata. Akibat kekuatan narasi dan aksi, tingkat popularitas Cuomo dan Anies, meroket tajam. Di Negara bagian New York publik 70 persen lebih percaya kepada Cuomo daripada Trump yang hanya 30 persen. Di Indonesia survey ranking kepala daerah dalam penanganan corona menempatkan Anies pada posisi teratas dibandingkan dengan para koleganya.

Kalau di Indonesia, semua pernyataan dan peta jalan tentang Covid-19 yang diajukan ole Anies ditolak mentah-mentah oleh bawahan presiden, di AS permintaan Cuomo dan juga mayoritas 51 gubernur lainnya untuk perhatian dan bantuan keuangan pemerintah pusat tidak dipedulikan oleh Trump. Pada sisi lain kebijakan pengananan Corona yang dilakukan oleh kedua pemerintah cenderung tidak berbasis akademik yang sulit, sekalipun Trump mempunyai ahli seperti Anthony Fauci. Sebaliknya, visi dan narasi yang disampaikan ole Anies dan juga oleh mayoritas gubernur di AS, di bawah bayang bayang Cuomo mempunyai basis akademik yang kuat.

Hebatnya ketika diam-diam pemerintah mengadopsi ide-ide Anies dalam kebijakan corona, di AS walaupun mereka meuparikah di Twitter,komunikasi Cuomo dengan Trump tetap berjalan, dan kedua mereka sempat bertemu dan berdialog serius di Gedung Putih. Setelah pertemuan mereka saling memuji, untuk kemudian esoknya bertengkar lagi. Uniknya, nyaris tidak ada pembantu Trump yang menyerang Cuomo, sementara di Indonesia, Presiden Jokowi tidak mengomentari langsung tentang Anies, tetapi para pembantunya mengeroyok Anies beramai-ramai. Tentu saja dapat dimengerti kalau Menteri Luhut dan Terawan cenderung menegasikan Anies, akan tetapi bagaimana mungkin “orang baik” seperti Menteri Muhajir dan Sri Mulyani bicara “miring” tentang Anies, yang kemudian ketika ditelusuri tidak terbukti.

Publik Amerika yang terbiasa dengan tontonan olahraga pada setiap musim kini harus puasa nonton, karena efek karantina kota dan gedung. Namun dasar kreatif, mereka mencari objek baru tontonan, Cuomo vs Trump di saluran TV. Briefing harian Cuomo pada jam 11 pagi dan temu pers Gedung Putih pada jam 5 sore adalah yang acara yang paling dinantikan setiap hari. Pernah suatu kali, ketika Trump mengumumkan akan “membuka” status karantina sejumlah negara bagian, karena Presiden berkuasa “total”, Cuomo hanya menggunakan dua kalimat,”Dia bukan Raja,” dan “akan kita selesaikan secara konstitusi.” Di lain waktu ketika Cuomo ditanyakan oleh wartawan yang dipancarkan TV tentang statemen Trump bahwa dia “harus lebih banyak bekerja dari bicara,” dia membalas “mungkin Presiden Trump lagi nonton acara TV kita ini, bilang sama dia, suruh bangun tidur dan segera kerja.” Sebuah ungkapan yang tidak akan pernah terjadi antara Anies dan Presiden Jokowi.

Perselisihan antara Pemerintah pusat dengan kepala daerah dalam peristiwa Covid-19 ini bukan hanya monopoli Indonesia dan AS saja, tetapi juga terjadi di negara-negara lain. Di Turki misalnya, Presiden Endorgan dengan segala cara menyerang dan menuduh Walikota Istanbul dan Ankara, di tengah kesuksesan mereka menangani Corona. Tidak banyak yang tahu alasannya apa, selain dari kedua mereka itu adalah berasal dari partai oposisi. Di Brazil, presiden Bolsanero juga tidak peduli dengan berbagai himbauan kolektif para gubernurnya untuk mengambil langkah penting nasional dalam rangka penanganan Convid 19.

Observasi dari kasus-kasus debat tentang wabah Covid-19 antara para kepala negara dengan bawahanya cenderung berpunca pada dua alur. Alur pertama adalah alur yang menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai sesuatu yang asasi, dan cenderung menomorsatukan ilmu pengetahuan dalam menentukan kebijakan, dan ini terjadi di kalangan mayoritas Gubernur negara bahagian di AS, berikut tengan Gubernur Anies dan sejumlah gubernur lain di Inonesia sémisal Khofifah, Ganjar, dan Ridwan Kamil.

Alur kedua adalah yang melihat kepentingan ekonomi dan bahkan pertumbuhan ekonomi sebagai basis dalam pengambilan kebijakan menyangkut wabah corona, sehingga corona sering disamakan dengan penyakit menular biasa semacam flu, dan kematian manusia lalu dipersepsikan dalam kerangka “logika statistik”. Tanpa harus menjadi ahli kebijakan publik, bagi mereka yang membaca, nampak sekali Trump, Bolsanero di Brazil dan sejumlah pembantu Presiden Jokowi termasuk dalam ketegori ini.

Betapapun peliknya, kita harus mengakui ancaman corona terhadap bangsa kita tidak kurang bobotnya dari ancaman kehilangan teritorial kita oleh Bejing di Laut Cina Selatan, bahkan mungkin lebih dari itu. Kita sudah melihat korban yang berjatuhan di banyak negara lain, dan itu semuanya berkaitan dengan kepemimpinan, terutama dengan kepemimpinan dalam masa krisis. Ibaratnya kita berada dalam suasana “perang” seperti yang didengungkan oleh pemimpin Vietnam kepada rakyatnya pada awal wabah corona. Hanya saja musuh yang kita hadapi tidak tampak, akan tetapi terus mengincar kita 24 jam.

Dalam kehidupan nelayan di Aceh, seringkali ketika dalam keadaan “badai” persoalan sesama anak kapal, ataupun antara sang pawang dengan anak kapal tidak diselesaikan di laut. Semua persoalan akan diselesaikan di darat, walaupun itu perkelahian fisik yang dapat menyebabkan kematian. Ketika badai, semua perhatian dan energi harus dicurahkan untuk keselamatan bersama.

Apa beda Covid-19 dengan pemimpin di Indonesia? Covid-19 adalah makhluk kecil yang tidak bisa berkomunikasi sesamanya dan juga dengan manusia, tetapi mereka terus menerus mematikan manusia. Sebaliknya, manusia adalah makhluk yang bisa berkomunikasi sesamanya, dan dapat berkomunikasi buatan dan palsu dengan sang virus. Oleh karena itu, untuk menghentikan Covid-19, para makhluk non Covid-19 harus berkomunikasi. Akhirnya, betapapun rumitnya persoalan, tunggu sampai kapal ke darat baru diselesaikan.

Penulis adalah guru besar Unsyiah.