[Ruang Semangat]: Perjuangan Menjadi Pembelajar di Tengah Pandemi

Oleh Dewi Puspita Sari S.Pd.*

Sudah beberapa pekan masa swakarantina dilakukan. Rasa jenuh pun perlahan mulai kita rasakan. Rasanya hari-hari memaksa kita untuk berpikir hal apa lagi yang harus dilakukan untuk melepas rasa jenuh tersebut. Namun, sebagai warga negara yang baik, sudah semestinya kita mengikuti imbauan pemerintah untuk tetap berada di rumah saja dan menjalankan kerja dari rumah (KDR) secara maksimal. Meski terlihat sepele, tapi upaya untuk tetap di rumah saja ini sudah cukup membantu saudara-saudara kita yang berada di garda terdepan.

Beberapa bulan menikmati tahun 2020, seluruh umat dunia sudah dihebohkan dengan hadirnya wabah Covid-19. Bermula dari Negeri Tirai Bambu, lalu kini juga tengah merambah ke Indonesia. Peristiwa ini tentunya membuat sebagian besar dari kita dilanda rasa cemas. Tiap hari kita melihat perkembangan berita di media massa tentang jumlah korban jiwa yang kian hari kian bertambah.


 Sudah cemas ditambah rasa jenuh pula. Pikiran dan aura-aura negatif rasanya kini erat menemani hari-hari kita. Akan tetapi, di balik itu semua rasanya kita juga perlu melihat sisi positif yang dihadirkan dari pandemi ini. Sebagai contoh yang baru saja terjadi di Jakarta. Ramai menjadi perbincangan di sosial media tentang fenomena langit cerah yang jauh dari selimut asap kendaraan dan polusi. Untuk kita yang berada di Aceh, mungkin fenomena ini terlihat biasa saja. Akan tetapi, hal itu merupakan fenomena yang cukup langka dan istimewa bagi saudara kita yang berada di ibu kota.

Pembatasan sosial yang terjadi juga mau tak mau memaksa beberapa perkantoran dan sekolah untuk membatasi kegiatan dan mengalihkannya di rumah. Kegiatan pembelajaran sendiri masih tetap berlangsung, meski saat ini statusnya anak-anak “diliburkan” dari bersekolah. Memang pada hakikatnya pembelajaran itu dapat berlangsung di mana saja. Tidak hanya dibatasi oleh sepetak ruang kelas. Sepertinya ini merupakan saat yang tepat pula bagi para akademika untuk membuktikan hakikat pembelajaran tersebut.

Berbekal gawai dan kuota internet, para siswa dan guru melanjutkan kegiatan belajar mengajarnya di rumah. Kini rumah memiliki fungsi yang tak hanya sebagai tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga sebagai ruang kelas yang nyaman. Kembali lagi tentang melihat dari sisi positifnya, kegiatan belajar via daring (dalam jaringan) juga secara tidak langsung memaksa para guru untuk melek teknologi dan mahir menggunakan beberapa perangkat pembelajaran daring. Beberapa perangkat pembelajaran daring yang populer digunakan, misalnya Google Classroom, Quizizz, Kahoot, dan sejenisnya yang dapat mendukung proses belajar daring dari rumah.

Perihal pemakaian perangkat pembelajaran daring mungkin tidak menjadi tantangan yang besar bagi siswa. Mereka beruntung karena sudah terlahir sebagai generasi digital native. Generasi yang sejak lahir sudah sangat akrab dengan teknologi dan kawan-kawannya. Bermain internet, sosial media, dan menjalankan perangkat-perangakat pembelajaran daring sudah menjadi teman sehari-hari bagi mereka.

Namun di samping itu, ada pengalaman berbeda yang dirasakan oleh siswa selama proses pembelajaran daring di rumah. Apabila sebelumnya proses pembelajaran difasilitasi langsung oleh guru di ruang kelas, kini proses pembelajaran tersebut berlangsung jarak jauh dan diperantarai oleh gawai saja. Di sinilah peran dan kerja sama dari orang tua sangat dibutuhkan. Orang tua diharapkan mampu menggantikan guru untuk “berperan” sebagai pendidik dan pengajar selama anak-anak belajar di rumah.

Tentu demi kelancaran proses pembelajaran daring tersebut, diperlukan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua. Guru menjalin komunikasi kepada orang tua untuk menanyakan perkembangan proses belajar siswa. Begitu pun orang tua yang menjalin komunikasi kepada guru untuk mendiskusikan hal-hal apa saja yang menjadi kendala atau hambatan selama siswa belajar dari rumah. Fenomena ini secara tidak langsung membuat kita semua belajar tentang banyak hal. Baik guru, siswa, maupun orang tua memiliki tantangan yang berbeda-beda.

Kita mengetahui bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan sebagai makhluk pembelajar sepanjang hayat. Kehidupan juga tentunya tidak lepas dari berbagai dinamika yang ada. Akan ada perubahan-perubahan yang tidak dapat kita duga sebelumnya, tetapi terjadi dan juga mau tak mau tidak dapat kita elakkan. Menghadapi fenomena bersejarah ini, Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe juga memiliki caranya sendiri untuk tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) dari rumah. Kenyataan pahit dengan hadirnya pandemi ini tidak lantas menyurutkan semangat belajar dari para siswa. Ditambah lagi Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe sudah membiasakan para guru dan siswanya untuk belajar mengajar menggunakan fasilitas e-learning, yakni media belajar mengajar dan evaluasi yang berbasis teknologi informasi.

Tak hanya menjalankan tugas sebagai seorang pengajar, guru-guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe juga tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik selama bekerja dari rumah. Meski statusnya saat ini guru dan siswa sedang “diliburkan” dari bersekolah, tetapi tidak lantas sepenuhnya memutuskan interaksi dan komunikasi yang ada. Para wali kelas saja misalnya, setiap pagi pada pukul 08.00 WIB akan menyapa para siswanya melalui sebuah grup WhatsApp. Kegiatan ini dinamakan dengan conditioning class. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan paling awal yang dilalui oleh siswa untuk mempersiapkan diri sebelum memulai belajar. Dalam kegiatan conditioning class, wali kelas mendata kehadiran siswa yang sudah siap untuk mengikuti kegiatan pembelajaran daring selanjutnya. Agar suasana lebih berwarna dan dinanti-nantikan setiap paginya, para wali kelas juga memiliki cara yang unik nan kreatif dalam mendata kehadiran siswanya, seperti mengajak siswa membuat sebuah harapan untuk dirinya sendiri, membuat satu bait puisi, ataupun pantun.

Selain itu, tiap minggunya para wali kelas juga mengirimkan laporan perkembangan siswa kepada orang tua selama mengikuti pembelajaran daring. Laporan tersebut memuat data kehadiran dan laporan deskriptif kondisi siswa. Pada laporan tersebut wali kelas mendeskripsikan antusias yang dimunculkan siswa selama mengikuti kegiatan belajar daring, sikap disiplin, dan tanggung jawab terhadap penugasan yang diberikan. Melalui ini sikap belajar mandiri siswa secara tidak langsung dapat terukur. Untuk beberapa siswa yang membutuhkan perhatian lebih, guru juga menghubungi langsung orang tua guna mencari solusi terbaik. Hal tersebut merupakan upaya-upaya yang dilakukan oleh guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe untuk tetap menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan orang tua, maupun siswa itu sendiri. Dengan demikian, sikap belajar mandiri dapat ditumbuhkan dalam benak kita semua, meski dalam masa pandemi seperti ini sekalipun.[]

*Penulis adalah guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent