[Ruang Semangat]: Mudik VS Pulang Kampung

Oleh Ita Listiyaningsih*

Mudik merupakan tradisi rutin yang dilakukan para perantau setiap tahunnya menjelang Lebaran. Rasanya kurang afdhal jika tidak melakukan mudik. Jutaan orang berbondong bondong mudik Lebaran dari perantauan agar bisa kumpul dengan keluarga di hari Idulfitri. Saking banyaknya pemudik, tak heran kalau jalanan sesak dengan kendaraan. Mudik identik dengan macet. Bayangkan saja, berjuta-juta kendaraan tumpah ruah di jalanan menyebabkan kemacetan yang cukup panjang. Tapi hal ini tidak memadamkan semangat para pemudik untuk tetap mudik Lebaran tiap tahun.

Saya sendiri sudah tiga kali Ramadan tidak mudik Lebaran. Merasa kayak jadi Bang Toyib nggak pulang pulang. Bukannya saya tidak kangen dengan orang tua di kampung, tapi mergo kahanan (sesuatu yang lain). Saya kuliah di calon ibu kota, tepatnya di kota Balikpapan, Kalimantan Timur dan LDR dengan orang tua di Blora, Jawa Tengah. Untuk sekali mudik saya harus merogoh koceh yang cukup besar sekitarRp5 jutaan untuk tiket PP Semarang-Balikpapan. Ini baru tiket pesawat belum naik kendaraan lain dan segala printilan jajan lainnya. Didukung dengan cuma mendapatkan libur kuliah cuma seminggu, dengan ini saya memutuskan untuk TIDAK MUDIK (adegan ketok palu).


Ada yang unik dari mudik Lebaran tahun ini, pemudik dilarang melakukan mudik. Bagaimana mungkin tradisi tiap tahun menjelang Lebaran ini dilarang. Saya tahu banyak hati yang patah karena hal ini. Tapi demi menyelamatkan penduduk bumi hal ini harus dilakukan demi memutuskan rantai penyebaran virus ini.

Sejak diumumkan langsung presiden tercinta kita Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2020) Indonesia menjadi salah satu negara positif virus corona (Covid-19). Kasus pertama yang terjadi di tanah air menimpa dua warga Depok, Jawa Barat. Setiap hari jumlah kasus virus ini semakin meningkat. Membuat pemerintah mengambil langkah cepat. Salah satunya larangan mudik.

Beberapa hari yang lalu bantahan Presiden Jokowi bahwa mudik berbeda dengan pulang kampung langsung ramai diperbincangkan di media sosial. Pernyataan itu muncul dalam wawancara eksklusif Najwa Shihab dengan Jokowi di acara Mata Najwa. Dari video yang saya tonton di YouTube, dapat saya sedikit paham maksud Presiden Jokowi. Kira-kira seperti ini yang saya tangkap.

Mudik adalah berkunjung ke kampung halaman dan dilakukan saat menjelang Lebaran. Pemudik sudah pindah KTP di kota dan menetap di sana. Berkunjung ke kampung halaman dengan keluarga untuk merayakan Lebaran bersama (dilarang pemerintah).

Pulang kampung adalah anak, istri, ayah, ibu, kakek, nenek, budhe, pakdhe, bulik, paklik, berada di kampung dan masih KTP di alamat kampung, orang ini hanya merantau ke kota untuk mencari nafkah, mencari ilmu, mencari jodoh (jika beruntung). Hal ini tidak dilarang pemerintah dengan syarat harus karantina di kampung selama 14 hari. Bayangkan libur kuliah atau kerja cuma tujuh hari, tapi harus dikarantina 14 hari di kampung. Ndak usah mudik ces di sini aja (ces; panggilan teman di Balikpapan).

Nah, begitu kira kira perbedaannya yang saya pahami dari penjelasan Pak Jokowi.

Saya ada beberapa tips untuk teman-teman yang tahun ini tidak bisa mudik, di antaranya:

1.     Berhubung bulan suci Ramadan alangkah baiknya kita isi dengan kegiatan yang positif, seperti tadarusan, kajian online, bersedekah, baca buku, jangan cuma baca chat doi aja yang laju.

2.     Mencoba resep makanan baru untuk buka puasa dan sahur, syukur-syukur bisa jualan takjil kan lumayan menambah pemasukan kantong.

3.     Perawatan alami di rumah supaya nanti Lebaran kulit menjadi shining, shimmering,splendid (glowing). Seperti menggunakan lulur atau masker wajah. Untuk lulur, Kalimantan punya lulur lotong dan lulur rempah rahasia cantik gadis Bugis.

4.     Bersih-bersih rumah siapa tahu Lebaran ada yang datang melamar.

5.     Olahraga di rumah bermodalkan YouTube, kalian bisa pilih trainer mana yang kalian sukai dan gerakannya tidak terlalu sulit.

Apa yang terjadi apabila nekat pulang kampung?

Saya tahu momen Lebaran seharusnya dihabiskan dengan orang tercinta, setelah sekian lama di perantauan kita sangat merindukan tempat yang paling nyaman yang kita biasa sebut dengan rumah. Akan tetapi, apakah kita berpikir dampaknya seperti apa di kala pulang kampung dengan keadaan seperti atau kita bebal dan bodo amat seperti orang-orang egois di luar sana yang nekat pulang kampung. Berikut gambaran hal yang terjadi apabila kita nekat pulang kampung. Cekidot!!!

1.     Dikarantina

Pemerintah mewajibkan untuk mengarantina orang-orang yang pulang kampung. Biasanya disuruh lapor ke RT. Untuk daerah saya, para pendatang akan dikarantina di balai desa selama 14 hari. Balai desa saya ini, cukup seram. Pengalaman pribadi saya waktu TK, kebetulan letaknya di sebelah kanan balai desa. Saya ingat betul di belakang balai desa ada sebuah ruangan yang terbuat dari kayu sempit sekali, waktu itu saya dan teman saya bermain petak umpet di belakang, lantas saya dan salah satu teman saya sembunyi ke dalam ruangan tersebut, tepat di depan saya ada lemari kayu dengan satu pintu, dengan santainya saya buka dan ternyata isinya hantu lontong, yups pocong, spontan saya teriak dan lari terbirit-birit. Setelah kejadian itu, banyak kejadian aneh. Teman kecil saya sebut saja namanya Agus lehernya kejepit pintu TK entah bagaimana ceritanya leher kejepit pintu haha. Satu lagi, saya lupa siapa namanya kepalanya bocor saat bermain di balai desa. Jadi bisa dibayangkan dikarantina di tempat berhantu bagaimana rasanya wkwk rasain lu ngeyel sih.

2.     Menulari orang-orang tercinta

Pulang kampung yang seharusnya Lebaran makan opor ayam, makan rengginang di toples Khong Khuan, silaturahmi, tebar pesona cari jodoh semua berubah jadi malapetaka. Di rumah ada kedua orang tua, adik, kakak, nenek, kakek kita berpotensi besar menularkan virus ini ke mereka. Kita tidak tahu selama perjalanan aman atau tidak dari virus kampret ini, apabila virus ini menempel di kita otomatis akan menularkan.

orang-orang yang di rumah, apalagi virus ini rentan sekali menyerang dengan lanjut usia bukan berarti yang segar bugar tidak kena, ya. Liat aktris FTV Mbak Andrea Dian, olahraga rutin, sehat tanpa ada keluhan lainnya, bisa dihampiri virus ini, apalagi kita ini yang kerjaannya rebahan terus hmmm.

3.     Menambah kerjaan aparat  setempat

Kalian semua pada susah diatur, membuat aparat pusing ngadepin kalian, cukup doi saja yang ribet kalian jangan. Apa perlu aparat kita meniru aparat di India. You know lah wkwk. Keluar rumah digebuk pakai kayu.

Kita doakan saja untuk bumi semoga lekas membaik. Saya rasa semua merasakan dampaknya. Banyak para pekerja yang dirumahkan bahkan di-PHK. Terima kasih untuk para pengusaha dan perusahaan yang tetap bertahan di kondisi seperti ini, berkat kalian dapur masih bisa mengepul. Satu-satunya cara selain berdoa kepada Tuhan, kita harus menaati pemerintah. Bantu pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 dengan d irumah saja dan tidak melakukan mudik. Stay safe.

#DiRumahAja

*Penulis adalah mahasiswi semester 6 Manajemen Keuangan STIE Balikpapan dan berasal dari Blora, Jawa Tengah. Ketua Kelompok Studi Pasar Modal STIEPAN 2018-2019.

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent