aceHTrend untuk Kemanusiaan

Warga bergotong royong membuat jembatan darurat di Aceh Tengah @aceHTrend/Hendra Syahputra

ACEHTREND.COM, Takengon Bencana tidak dapat diminta datangnya lebih cepat atau lebih lambat. Namun, ikhtiar untuk mengurangi risikonya, menjadi bahagian penting bagi kita untuk hidup berdampingan di daerah yang memiliki risiko bencana. Ikhtiar pengurangan risiko bencana tersebut sangat disadari oleh aceHTrend.

Sebagai sebuah media massa online yang berada di Aceh, media ini pun terpanggil untuk turut serta membantu semampunya memberikan respons pada setiap kejadian bencana alam di Aceh, mulai dari wabah Covid-19, sampai dengan bencana banjir bandang yang baru terjadi di Aceh Tengah, melalui berbagai dukungan selain kekuatan internal media.

Salah satu kekuatan dan kebahagiaan sebuah media, adalah respons dari pembaca yang luar biasa. Dari 25.000–35.000 pembaca media ini setiap hari, Allah pun menggerakkan hati-hati mereka melalui aceHTrend untuk bisa berbagi dan berempati dengan kondisi di Aceh akibat dampak rentetan wabah dan bencana tersebut. “Bukankah kita bersaudara?” kata Teuku Ilham, salah seorang pembaca setia kepada kami.

Sejalan itu, CEO aceHTrend, Muhajir Juli mengatakan, kekuatan kebersamaan justru menjadi berkah bila tumbuh di masa sulit. Seperti kata nasihat dalam agama, “Berbagi saat kondisi kita ada (memiliki harta), itu baik, namun berbagi dalam keadaan kita terbatas, itu sangat mulia,” ungkap Muhajir.

CCO aceHTrend Hendra Syahputra menyerahkan bantuan untuk korban banjir bandang di Aceh Tengah

Muhajir pada kesempatan lain juga mengatakan, media massa online memiliki kekuatan speed (kecepatan). Modal kecepatan itu bila “dihujani” dengan informasi positif, membangun serta memberi kontribusi pengetahuan dan kearifan bagi pembaca, tentu akan menjadi modal sosial yang kuat di masyarakat. Karena pembaca kita adalah masyarakat. Masyarakat yang memiliki nilai dan kebaikan dari wisdom atau kearifan yang berasal dari informasi yang jernih, detail, dan akurat yang mereka baca setiap hari.

“Kami merasa bersyukur, kepercayaan dan dukungan pembaca adalah bagian bahan bakar yang mahal dan sangat berarti,” kata Muhajir di Bireuen (16/5/2020), sebelum Tim aceHTrend mengantarkan bantuan untuk masyarakat yang menjadi korban banjir bandang dan longsor yang terjadi di Paya Tuumpi, Kabupaten Aceh Tengah, minggu lalu.

Sebelumnya, aceHTrend juga sudah menyalurkan bantuan kepada RS, pukesmas, PMI, dan juga petugas keamanan di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Aceh Tengah berupa alat pelindung diri (APD), masker, dan juga seratusan kotak air minum mineral untuk petugas kesehatan dan PMI.

Salah satu respons yang diberikan aceHTrend sejak saat bencana wabah Covid-19 terjadi di Aceh, sejak Maret 2020 hingga sekarang termasuk bencana banjir bandang yang terjadi di Aceh Tengah, belumlah apa-apa.

Saat membagikan APD ke PMI Banda Aceh

“Mungkin ini tidak ada artinya dibandingkan pemberian pihak lain yang sangat besar. Namun, kehadiran kita di tengah-tengah masyarakat membuat kita merasa menjadi bagian dari kebahagiaan mereka,” kata Muhajir

Muhajir menyitir sebuah paragraf bacaan yang kemudian menjadi pengetahuan bersama di dalam tim aceHTrend, tentang apa yang diungkapkan sebuah pusat data tentang kebencanaan di Belgia, yang bernama EM-DAT (sebuah database dunia tentang bencana alam). Database ini mencatat lebih dari 17.000 bencana alam di dunia sejak tahun 1900 sampai sekarang, menyebutkan frekuensi kejadian dan dampak bencana di Aceh terus menerus meningkat sejak tahun 1907-2011. Kini sudah berada di tahun 2020.

Artinya, kita pun harus bisa menyikapi semua ini dengan baik dan benar. Benar dalam artian sudah sebaiknya kita menjadikan bencana tersebut sebagai “sahabat”, mengingat Aceh termasuk daerah yang memiliki kerentanan bencana paling tinggi (terancam). Mengelola kondisi Aceh yang kaya dengan pengalaman bencana dengan pola manajemen yang lebih baik, adalah sebuah pilihan bijak. Kita sejatinya harus lebih maju, setiap hari dengan membaca alam dan bersahabat dengannya.

Untuk itu, ke depan kami pun (aceHTrend) akan melakukan edukasi dan terobosan baru di media kami, untuk mengedukasi pengetahuan kebencanaan sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat pembaca, kata Muhajir.

Communications is human nature. Knowledge sharing is human nurture. Komunikasi adalah sifat manusia. Berbagi pengetahuan adalah pemeliharaan manusia, ungkap CEO Muda yang sangat responsif dan komunikatif ini.[]