KIA Ladong & Politik Meukat Mi Lam Eumpang

Muhajir Juli.

Oleh Muhajir Juli

Saya awalnya yakin bahwa Aceh sedang serius menggarap investasi di Aceh demi membuka lapangan kerja seluas-luasnya, yang dengan sendirinya akan membangkitkan ekonomi Aceh yang telah sekian lama tertidur di lembah kegelapan. Tapi keyakinan yang saya paksa tumbuh di awal 2017 itu, satu persatu rontok setelah melihat kondisi Aceh kontemporer.

Sebelum rontok berkeping, akhir 2018 saya berkenalan dengan Ismail Rasyid yang merupakan CEO PT Trans Continent. Dia berbeda dengan orang kebanyakan. Di matanya Aceh sangat seksi. Dari beberapa diskusi nyata dan virtual, Ismail Rasyid mengatakan akan mampu mengubah mimpi buruk yang selama ini mengganggu tidur, menjadi mimpi indah. Dalam bahasanya, lelaki asal Matangkuli itu mengatakan Aceh butuh manager yang andal.

Keyakinan Ismail diwujudkan dengan mendaftarkan diri sebagai salah satu calon Kepala BPKS. Dengan segudang pengalamannya di berbagai belahan dunia, dia yakin akan mampu membawa kapal besar itu (BPKS) menuju kawasan yang maju.

Tapi tiba-tiba Ismail mundur dari bursa pencalonan. Aceh geger. Sejumlah pihak tertawa. Tidak sedikit yang kecewa. Termasuk saya ikut kecewa. Tapi Ismail mengatakan bahwa dia mundur dari bursa Kepala BPKS karena ingin fokus membangunan Pusat Logistik Berikat (PLB) di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar. KIA Ladong adalah salah satu dari beberapa mega proyek mercusuar [virtual] yang sedang digalakkan oleh Pemerintah Aceh di samping KEK Arun Lhokseumawe, KEK agroindustri wilayah tengah, serta KEK Halal Barsela yang setengah hati digarap oleh pemerintah.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi obat penenang bagi sebagian rakyat yang semakin tidak optimis melihat perencanaan pembangunan Pemerintah Aceh yang dari tahun ke tahun orientasinya tidak berubah bahwa APBA adalah ghanimah yang harus dibagi sesama elit, dan rakyat hanya ketiban sialnya saja. Perencanaan pembangunan Aceh semakin hari semakin tak terarah. Setiap kegiatan hanya sebagai legalitas menarik uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai kehidupan mewah sebagian elit birokrat, elit politik, serta kroco-kroconya. Di sisi lain, penegakan hukum semakin tidak menjanjikan harapan.

Belum pulih dari kekecewaan bahwa Ismail mundur dari BPKS, tiba-tiba ia juga mundur dari KIA Ladong. Pada Jumat lalu, alumnus Universitas Syiah Kuala itu menarik seluruh alat berat dan fasilitas lainnya dari Kawasan Industri Abunawas yang oleh Pemerintah Aceh hanya dibangun pagar dan gerbang bagian depan saja. Ismail sudah tidak tahan. Setiap bulan dia merugi Rp600 juta dan investasi yang sudah dia curahkan ke sana sudah mencapai Rp30 miliar. Bukan angka sedikit.

Ismail marah. Dari bahasanya dia ingin mengatakan Pemerintah Aceh bukan hanya tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang investasi, tentang Kawasan Industri (KI), tapi juga tidak memiliki niat baik. Pemerintah hanya memberikan janji kosong yang tidak kunjung direalisasi. Saya menerjemahkan dalam bahasa lebih sederhana, bahwa seluruh perangkat yang diberikan mandat mengurus KIA Ladong, adalah kumpulan penipu ber SK!

***
Tak penting mengulas bila Trans Continent bukan investor pertama yang hengkang dari Aceh. Hal terpenting yang harus diketahui publik adalah, pemerintah kali ini sama saja dengan yang sudah-sudah. Hanya bisa berbual. Hanya bisa beretorika. Hanya bisa mencitrakan diri hebat dengan pariwara yang menghisap dana APBA.

Bila boleh saya tafsirkan, KIA Ladong tidak lebih seperti hadih maja Aceh: Meukat mi lam eumpang. Dicitrakan begitu luar biasa –tentu dengan menghisap sebanyak mungkin APBA– akan tetapi hasilnya tidak jelas. Pemerintah Aceh tidak memiliki target apapun di sana. Karena target utama adalah menyelamatkan orang-orang seayun selangkah yang dititipkan di berbagai lembaga yang dibentuk untuk menghisap sebanyak mungkin APBA. Pemerintah Aceh butuh banyak kerbau-kerbau virtual untuk menempatkan lintah-lintahnya, yang secara diam-diam diberikan stok darah lain, agar terus bisa hidup tanpa terlihat sebagai benalu di dalam cita-cita mulia jutaan rakyat yang bermimpi Aceh akan maju pada suatu hari. []

Penulis adalah penanggung jawab media online aceHTrend.