[Ruang Semangat]: Mendampingi Buah Hati di Masa Karantina

Oleh Jauhari, S. Pd.

Saya adalah seorang guru di salah satu sekolah menengah pertama yang ada di Aceh. Sama seperti guru-guru pada umumnya yang berangkat ke sekolah di pagi hari dan baru pulang ke rumah di siang hari. Namun, sejak mewabahnya virus corona atau Covid-19, semua sekolah diliburkan untuk memutuskan mata rantai dari virus tersebut. Sekolah mulai diliburkan pada 16 Maret 2020.

Semenjak sekolah diliburkan saya di rumah saja, sesuai dengan anjuran pemerintah untuk stay at home atau di rumah saja. Pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah. Selama masa karantina ini saya mengerjakan berbagai macam hal, seperti melakukan pemantauan belajar jarak jauh terhadap siswa-siswa saya dan membuat laporan kegiatan pemantauan untuk diserahkan kepada kepala sekolah. Saya juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh ibu rumah tangga pada umumnya. Selain sebagai seorang guru, saya juga seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki dua anak. Anak pertama saya perempuan bernama Hasri Ainun Bestari, biasa kami panggil Bestari yang berumur lima tahun. Bestari masih sekolah taman kanak-kanak (TK) dan anak kedua saya laki-laki bernama Daffa Haidar Musyaffa, biasa kami panggil Haidar  yang baru berumur tiga tahun.


Masa karantina ini membuat saya lebih banyak waktu untuk mengurus anak-anak saya. Bestari juga libur sekolah sama seperti saya, sehingga Bestari belajar di rumah bersama saya. Di pagi hari setelah sarapan, Bestari yang masih TK itu mulai mewarnai gambar yang ada di buku calistung (membaca, menulis, dan berhitung) sambil sesekali dia bertanya kepada saya tentang warna apa yang cocok untuk gambarnya.

Kadang-kadang Bestari membuat gambar sendiri di buku gambar dan mewarnainya, sesekali dia bertanya kepada saya apakah gambarnya bagus atau tidak. Kalau gambarnya sulit dia buat, biasanya dia akan meminta saya untuk membantunya membuat gambar tersebut. Bestari juga sering membuat gambar di papan tulis magnetik, sampai gambar anak perempuan yang rambutnya dikucir yang ada dalam komik Jepang sudah dapat dia gambar di papan tulis magnetik tersebut, dan gambarnya saya foto dan saya kirimkan kepada guru Bestari.

Di hari yang lain setelah menggambar sebentar, Bestari juga belajar menulis angka, huruf dan belajar berhitung. Kalau belajar berhitung dari angka 1 (satu) sampai 100(seratus), alhamdulillah Bestari sudah mampu menghafalnya tapi kalau berhitung seperti penjumlahan dan pengurangan, ini harus saya ajarkan karena masih kurang paham. Bestari juga belajar berhitung mundur, saya juga mengajari Bestari cara mengurutkan angka-angka dari angka yang besar ke angka yang kecil atau pun sebaliknya dan alhamdulillah Bestari cepat memahaminya. Selain belajar berhitung, sesekali saya mengajarinya membaca, Bestari suka belajar membaca karena Bestari mudah memahaminya.

Di hari-hari selanjutnya saya menyuruh Bestari menghafal surah-surah pendek yang ada pada juz 30, seperti surah An-Naas, Al-Lahab, dan surah-surah pendek yang lain. Alhamdulillah sudah 10 surah pendek yang sudah dapat dihafal oleh Bestari. Kebiasaan pada malam hari setelah saya mengaji, Bestari mengulang lagi hafalannya dan menghafal surah-surah lainnya. Setelah menghafal surah-surah pendek, Bestari belajar mengaji Iqra’, Bestari sudah Iqra’ 3 tiga saat ini.

Bestari kadang-kadang saya suruh mengulang  doa sehari-hari pada hari-hari yang lain, seperti doa sebelum dan sesudah makan, doa keluar rumah, dan doa-do’ lainnya yang sudah dia hafal sejak masih di PAUD dulu. Adiknya yang baru tiga tahun sudah dapat menghafal doa sebelum makan dan doa bercermin karena sering mendengar kakaknya menghafal doa-do’ tersebut. Ketika masih di PAUD, Bestari sudah pernah ikut lomba baca doa sehari-hari, alhamdulilah Bestari dapat juara dua tingkat kecamatan. Selain doa sehari-hari, Bestari juga saya ajarkan doa salat, kadang abinya juga ikut mengajarinya. Bestari juga sering ikut salat bersama saya atau pun kadang-kadang Bestari salat sendiri dan alhamdulillah Bestari sudah tahu gerakan-gerakan salat.

Kalau sudah bosan belajar, kadang Bestari bernyanyi ataupun berdiri di pintu bersama adiknya melihat anak-anak tetangga bermain di halaman rumah tetangga. Sesekali Bestari pada waktu sore saya izinkan pergi bermain dengan anak-anak tetangga yang jarak rumahnya memang cukup dekat dengan rumah saya. Kadang-kadang Bestari pergi bermain ke rumah abang sepupunya bersama abinya.

Hari-hari berikutnya setelah menggambar atau mewarnai, Bestari kadang-kadang meminta saya untuk bercerita tentang kisah para nabi seperti kisah Nabi Adam ‘alaihissalam, Nabi Idris ‘alaihissalam, dan kisah-kisah nabi yang lain atau pun kisah orang saleh lainnya. Di lain waktu Bestari menyuruh saya mendongeng seperti dongeng “Kancil dengan Harimau”, “Batu Belah”, dan dongeng-dongeng lainnya yang ada nilai pelajaran di dalam  dongeng-dongeng  tersebut. Biasanya kalau Bestari sudah minta diceritakan suatu cerita, dia akan minta diceritakan dua atau tiga cerita yang kadang-kadang sudah berulang-ulang kali saya ceritakan. Begitulah anak-anak kalau sudah suka dengan suatu cerita, mereka akan menyuruh kita menceritakan kembali di saat-saat yang lain. Sesekali Bestari juga mendengar cerita anak di radio pada hari Minggu. Selain mendengar cerita, Bestari juga sudah dapat menceritakan kembali cerita-cerita atau kisah-kisah yang pernah saya ceritakan padanya, saya mendengarkan ceritanya dengan saksama dan mengoreksi kembali kalau ada kesalahan atau lupa dia ceritakan.

Memasuki bulan Ramadhan wabah Covid-19 masih belum berakhir. Ibu guru Bestari memberi tugas membuat gambar bertemakan Ramadan, membantu orang tua dan aktivitas bermain anak-anak. Tugas anak-anak difoto atau pun direkam dalam bentuk video dan dikirim kepada ibu guru. Bestari membuat gambar orang yang sedang pergi shlat Tarawih ke masjid. Setelah gambarnya selesai dibuat, Bestari menjelaskan tentang gambarnya tersebut sambil saya rekam dalam bentuk video, sebelum saya rekam tentunya saya mengajari dia cara menjelaskan hasil karyanya itu seperti orang sedang mempresentasikan tugasnya. Video tersebut saya kirimkan kepada ibu gurunya. 

Inilah sekelumit kisah saya tentang memanfaatkan masa karantina dengan mendampingi anak-anak saya dalam belajar di rumah dan semoga tulisan saya ini ada manfaatnya. Semoga Allah Swt mengangkat wabah Covid-19 ini dari muka bumi, sehingga kita semua dapat  kembali ke keadaan normal dan kembali beraktivitas secara normal. Amin ya Rabbal ‘Alamin.[]

Penulis adalah Guru SMP Swasta Darul Abrar

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent