10 Keisengan Generasi Aceh yang Tidur di Meunasah

Zulfadhli Kawom. [Ist]

Oleh Zulfadhli Kawom

Bagi orang Aceh zaman dulu, meunasah aka meulasah, bukan sekedar tempat berkumpul menggelar muasyawarah dan salat berjamaah–biasanya salat Magrib dan Isya– tapi juga sebagai salah satu wahana pembentuk kebudayaan. Di masa lalu, meulasah sekaligus berfungsi sebagai madrasah cum penginapan bagi remaja dan pemuda serta bujang lapuk, dan siapa saja yang sedang bermasalah dengan istrinya di rumah.

Meulasah yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya tiga golongan yang saya sebutkan di atas, ketika malam tiba, maka di bulan Ramadan, ada satu golongan lagi yang ikut meramaikan, yaitu kelompok anak laki-laki yang belum akil balig. Mereka baru pulang ke rumah ketika sahur tiba.


Walaupun aktivitas berkumpul di meunasah di malam bulan Ramadan masih tetap lestari sampai sekarang di Aceh. Tapi ada perubahan perilaku di kalangan anak-anak dan remaja. Hal klasik tetap ada seperti tadarus, bermain silat, bermain kejar-kejaran, bermain sepeda di jalanan, bermain sepakbola di halaman. Tapi juga ada yang baru yaitu sibuk memainkan telepon genggam masing-masing. Tenggelam dalam ragam game dan media sosial.

Dulu, siapa saja yang cepat tarik selimut akan menjadi sasaran keisengan teman-temannya yang belum tidur. mereka yang terlebih dahulu terlelap akan menjadi “mainan” sorang-orang yang masih terjaga.

Penulis merangkum 10 keisengan yang dilakukan oleh “penghuni meunasah” di malam hari, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.

1. Bôh sira lam babah ngön teungeut.
Memasukkan garam ke mulut teman yang tertidur. Biasanya target dan sasaran yang tidur telentang dengan mulut agak terbuka.

2. Som silop ngön.
Menyembunyikan sandal teman.
Saat teman sedang tadarus atau tertidur, yang pulang cepat biasanya mengerjai teman yang pulang sahur terlambat;menyembunyikan sandalnya, begitu turun dari meunasah dia bingung, sandalnya hilang. Malam besok ditaruh lagi di tangga dan dia menemukannya kembali.

3. Rhéng taloe silop.
Memelintir tali sandal, biasanya yang dipelintir jenis sandal jepit.

4. ‘Ku sagoe ija ngön ija laen (sambông).
Menyambung kain dengan kain dengan cara mengikat antar sudut kain, biasanya jenis kain batik. Saat teman terjaga dari tidurnya sangat terkejut, kainnya telah saling terikat dengan lain, hingga membuat teman lainnya terjaga juga saat menarik-narik kain.

6.Tumpang aneuk kèeh lam ruweung aneuk gaki.
Memasang batang korek api di antara ibu kaki dan telunjuk hingga terbuka lebar. Lama-lama terasa sakit dan [korban] mulai menghentak-hentakkan kaki untuk mencoba melepaskan benda yang tidak diketahui tersangkut di antara ibu kaki.

7.Bôh ie lam plastik bah binèeh ngön éh.
Membungkus air dalam plastik isi satu atau setengah kilogram, lalu menaruhnya di samping teman yang lagi tidur nyenyak. Biasanya sasarannya teman yang tidur menyamping. Begitu dia merubah posisi tidur misalnya telentang atau telungkungkup, saat itulah air dalam bungkusan plastik tadi tertimpa badan dan plastiknya pecah. Air yang tumpah akan membasahi badan. Atraksi ini agak ekstrem, kalau tidak hati-hati, dan si korban tersinggung, maka bisa berujung ke perkelahian.

8. Bôh adang bak muka ngön.
Mengecat muka teman dengan arang dapur. Saat bangun teman lain menertawakannnya, padahal yang menertawakan tadi juga, mukanya telah dicat arang, hingga saling tertawa sambil menunjuk.

9. Pinah ngön teungeut lam tambô.
Ini lumayan ekstrem, sasaran harus dipilih teman yang agak susah bangun kalau sudah tidur. Butuh teman profesional untuk mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam badan beduk bersama tikar dan bantal.

10. Gom ngön teungöh teungeut ngön beulangoeng beuso.
Menelungkup belanga besi besar saat teman tidur.
Ini yang paling ekstrem, bisa-bisa teman kita sangat kepanasan dam sulit bernafas. Salah-salah mati di bawah belanga besi, kalau terlalu lama dibiarkan.

Itulah keisengan generasi yang tidur di meunasah. Tentu masih banyak keisengan lain yang belum sempat saya rangkum. Pun demikian, apa yangs aya tulis tersebut bukan untuk ditiru. Hanya berbagi pengetahuan tentang orang Aceh di masa lampau.

Penulis adalah peminat kajian budaya. Seorang traveller dan penikmat diskusi apapun.