[Ruang Semangat]: Mempelajari Kulit Jeruk sebagai Penangkal Covid-19

Oleh Fitri Handayani*

Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang dilanda musibah Covid-19. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 2,56 juta kasus Covid-19 telah dilaporkan di 185 negara dan wilayah, yang mengakibatkan lebih dari 177.000 kematian. Wabah yang diidentifikasi dari Wuhan, Cina ini dapat menyebar dengan sangat cepat dan mudah dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung maupun benda mati yang sudah terkontaminasi, karena seperti yang kita sudah ketahui virus ini dapat bertahan di permukaan benda hingga 72 jam.

Namun, pencengahan dapat dilakukan dengan cara mencuci tangan, memakai masker, meningkatkan imun tubuh, menjaga jarak (social distancing), dan tidak keluar rumah (stay at home). Oleh karena itu, Pemerintah mengambil kebijakan untuk menerapkan pembatasan perjalanan, penutupan fasilitas, hingga universitas maupun sekolah pun ditutup—yang artinya pembelajaran akan dipindahkan atau dilakukan di rumah masing-masing.


Saya sebagai seorang guru Kimia di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, tentu harus siap menjalani masa pendemi ini dengan cara mengajar daring (dalam jaringan) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Tak lupa pula tanggung jawab tambahan selama pandemi ini, yaitu menjadi guru tahsin Alquran. Program tahsin dan tahfiz ini merupakan program rutin sekolah yang sudah ada sebelum lahirnya Covid-19.

Selain itu, sebagai wali kelas, saya bertugas memastikan siswa siap untuk mengikuti pembelajaran di setiap harinya. Di WAG kelas yang sudah terbentuk sebelumnya, saya calling mereka, hallo hallo, dengan berbagai aktivitas pembuka, atau kami sebut dengan nama conditioning class. Di situ saya memancing mereka dengan berbagai macam aktivitas seru. Seperti menulis puisi berantai, menulis kata-kata motivasi, hingga menulis target universitas idaman.

Setelah mereka terbakar motivasinya, baru saya mengarahkan untuk mengikuti kelas online di hari tersebut, sesuai dengan roster yang telah ditentukan oleh bagian kurikulum. Saya merasa beruntung berada diantara anak-anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi. Semangat yang tak padam meski terbatas dalam belajar secara daring di rumah.

***

Saya mengajar kelas daring untuk pertama kalinya di kelas X IPA Slovenia—nama kelas. Tentunya saya merasa khawatir, apakah kegiatan belajar mengajar (KBM) ini akan berjalan sukses atau tidak? Saya membuka kelas di google classroom dengan salam dan menyapa anak-anak. Menanyakan kabarnya, dan mengatakan rindu kepada mereka. Ya, tentu perasaan itu lumrah dirasakan, perasaan seorang guru kepada siswanya yang sudah lama tidak bertemu. Tak disangka mereka merespons sapaan saya dengan sangat cepat.

Pada minggu pertama pelaksanaan KBM, kami diminta untuk mengaitkan materi pembelajaran dengan Covid-19. Tujuannya agar anak-anak lebih tahu tentang Virus ini, sehingga mereka bisa menjaga diri dan keluarga dari virus tersebut. Oleh sebab itu, di Kelas X IPA Slovenia saya mengambil subtopik “Senyawa yang berpotensi untuk melawan covid-19.” Ini merupakan materi metabolit sekunder.

Sungguh! Saya merasa ragu, materi ini disampaikan untuk anak SMA yang baru kelas X (sepuluh). Karena ini adalah materi di bangku perkuliahan. Saat mengajar, saya sertakan sebuah video mengenai sebuah riset tentang suatu senyawa yang terdapat dari bahan alam yang ada di sekitar kita. Senyawa tersebut mampu meningkatkan daya tahan tubuh atau meningkatkan imun sehingga bisa menangkal serangan Covid-19.

Di luar dugaan, materi di perkuliahan itu, justru dilahap habis oleh anak-anak abege ini. Menjadi sangat menarik untuk dibahas karena ada di sekeliling mereka. Satu per satu dari mereka menyampaikan hasil yang mereka ketahui setelah menonton video tersebut. Mereka mampu menjelaskan bahwa di kulit jeruk terdapat salah satu senyawa metabolit sekunder golongan flavonoid yaitu senyawa hesperidin. Senyawa tersebut berpotensi meningkatkan imunitas tubuh dan mampu memberikan perlindungan terhadap mikroba dan virus. Cara mengonsumsinya kita dapat membuat jus jeruk dengan menambahkan sedikit kulit jeruk yang sudah dicuci bersih. Jusnya akan terasa sedikit pahit. Rasa pahit inilah yang menunjukkan adanya senyawa hesperidin. Manfaat yang sama bisa didapat dengan membuat infused water dari buah jeruk beserta kulitnya, karena senyawa hesperidin tersebut akan larut di dalam air. Begitulah salah cara untuk menjaga kesehatan agar tidak mudah diserang oleh virus corona.

Semua jenis jeruk mengandung hesperidin. Jadi tidak harus jeruk buah, kita juga bisa memanfaatkan kulit jeruk nipis, jeruk lemon, dan varietas jeruk lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Bioinformatika oleh Tim Periset dari Fakultas Kedokteran UI, Farmasi UI, Pusat Studi Biofarmaka Tropika (TropBRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB, dan Departemen Ilmu Komputer, FMIPA IPB.

Selanjutnya, diskusi saya lanjut dengan melampirkan gambar struktur hesperidin. Saya meminta mereka memperhatikan strukturnya. Unsur apa saja yang terdapat pada senyawa tersebut? Apa rumus kimia dari senyawa tersebut?. Di sinilah mereka mulai terlihat sedikit bingung, karena struktur senyawanya besar, berbeda dari senyawa yang sudah mereka pelajari terakhir saat masih belajar di kelas. Namun, sebetulnya konsepnya sama, setelah saya memberikan sedikit penjelasan, mereka mulai mengerti dan mampu menyebutkan unsur apa saja yang ada di senyawa tersebut. Dan diskusi mulai riuh kembali dengan mencoba menghitung berapa jumlah atom tersebut, untuk menentukan rumus kimia dari hesperidin. Tak menyangka, salah satu dari mereka muncul dengan menuliskan C28H34O15.  Saya pun berkomentar, “That’s great, Nak! Outstanding! Perasaan saya jadi tidak karuan, senang rasanya melihat respons anak-anak super cepat dan sangat antusias. Saya sangat bangga terhadap mereka. Saya tak henti-hentinya dibuat takjub dengan semua jawaban mereka.

Sebelum pembelajaran berakhir, anak-anak saya tugaskan untuk mengerjakan lembar kerja siswa (LKS) yang sudah saya siapkan. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, saya melakukan refleksi tentang proses KBM hari ini. Saya meminta mereka untuk menyampaikan refleksi—tentu itu bagian dari cara saya untuk melihat sejauh mana daya serap mereka terhadap materi yang saya sampaikan hari ini.

“Asyik… bertambah ilmu baru, ternyata di kulit jeruk mengandung senyawa hesperidin (C28H34O15) yang mampu menangkal serangan covid-19.”

 “Alhamdulillah, belajar hari ini menyenangkan karena dapat ilmu baru tentang imunitas tubuh.”

Ada juga yang mengatakan, “Enak Buk belajarnya, seru, semua mata pelajaran dikaitkan dengan corona, menambah antisipasi.”

Di kelas yang lain, yaitu di kelas XI IPA Greece—nama kelas, saya mengajar dengan topik, “Pembuatan Hand Sanitizer.” Sebelumnya, saya bersama tim guru sains, membuat sebuah video tutorial. Video tersebut sengaja kami buat untuk menjadi media belajar siswa—juga bagian dari kontribusi kami untuk Aceh dalam menyampaikan informasi cara pembuatan hand sanitizer, serta produk yang kami hasilkan digunakan untuk keperluan pencegahan Covid-19 di lingkungan sekolah.

Setelah menonton vidio tersebut, saya mengajak mereka untuk berdiskusi. Semua aktif memberi tanggapan, saling melengkapi. Berikutnya saya berikan tugas dalam bentuk LKS kepada anak-anak. Saya berikan waktu 20 menit untuk mereka selesaikan, jawabannya pun saya terima via email.

Tujuan dari materi tersebut, siswa mampu untuk membuat sendiri hand sanitizer di rumah masing-masing dan digunakan oleh anggota keluarganya, tanpa perlu membeli mahal-mahal di luar sana.[]

*Fitri Handayani, S.Pd., M.Si., Alumnus Magister Institut Pertanian Bogor (IPB) dan guru SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent