Lhob Mate Corona (7): Vibrio Cholereae, Delta Krueng Aceh, dan Pandemi Global

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Ahmad Humam Hamid*

Dalam catatan sejarah penyakit menular, sesungguhnya Aceh tidak pernah mengalami kematian yang signifikan kecuali kasus kolera 1873 yang terjadi bersamaan dengan serangan kedua Belanda. Kejadian ini  dalam kepustakaan kesehatan publik internasional dan berbagai tulisan sejarah ditulis sebagai “plague” atau “disease” (Rickels 2008, Reid 2015). Kolera tahun itu disebutkan sebagai wabah, karena bersifat lokal, tidak  digolongkan ke dalam pandemi, karena sifatnya bukan trans-nasional. Status kejadian itu dianggap mirip dengan penyebaran penyakit malaria, cacar, dan lepra.

Fakta terakhir sejarah pandemi kolera menunjukkan kejadian di Aceh adalah mirip walaupun tak sama dengan Covid-19 hari ini. Dari berbagai penelusuran ditemukan bahwa kejadian 1873 merupakan bagian dari gelombang ke-4 dan ke-5 ledakan kolera internasional pada penghujung abad ke-19 yang banyak menimbulkan korban di Eropa. Sepertinya narasi penulisan sejarah pandemi global perlu ditinjau ulang, karena jumlah kematian akibat kolera di Aceh antara tahun 1873-1878 mencapai lebih dari 100.000 orang (Reid 2015), mendekati rekor kematian di Hungaria, 190.000 jiwa, dan Kota Hamburg, dengan kematian 1,5 persen dari jumlah total warganya.


Kolera sebenarnya sudah cukup lama diketahui dan ditulis dalam berbagai catatan klasik India empat sampai lima abad sebelum Masehi. Penyakit ini ditemukan di Delta Sungai Gangga disebabkan ole Vibrio Cholereae, yang biasanya ditemukan pada air payau dan panas, umumnya di sekitar rawa tepi laut. Penyebarannya awalnya terjadi melalui konsumsi air, ataupun makanan mentah hasil laut yang tidak dicuci bersih.

Cerita pandemi kolera di Aceh terjadi bersamaan dengan penyerangan Belanda ke Aceh ekspedisi kedua, setelah kekalahan mereka pada ekspedisi pertama pada bulan Maret 1873. Walaupun penyakit itu jelas “terbawa” dari Batavia melalui pelayaran ekspedisi kedua, tidak ada catatan yang mempertanyakan tentang apakah kejadian itu sebagai sesuatu yang “alami” ataukah sesuatu yang “direncanakan”. Yang pasti, ketika eskpedisi itu hendak berangkat, Batavia sedang diamuk kolera, dan Gubernur Jenderal James Loudon menunda sepuluh hari keberangkatan itu. Apakah kolera itu mengganggu persiapan keberangkatan ataukah siasat Loudon untuk memastikan “terbawanya” kolera ke Aceh, yang pasti rakyat Aceh lebih banyak mati akibat kolera, dibandingkan dengan akibat pertempuran dalam peperangan.

Kecewa dengan tewasnya Jenderal Kohler dan gagalnya ekspedisi Belanda pertama ke Aceh, Gubernur Loudon, pada kuartal ke-4 tahun 1873 memutuskan mengirim ekspedisi ke-2. Ekspedisi kali ini dipimpin oleh seorang senior pensiun, Jenderal van Sweeten yang telah mempunyai “jam terbang” tinggi dalam berbagai pertempuran dan perang penjajahan di berbagai kawasan nusantara.

Ekspedisi ini mendapat perhatian dan persiapan yang berlebih dari Loudon. Dalam catatan sejarah, ekspedisi kedua ini dianggap sebagai operasi militer pertama terbesar semenjak Belanda datang ke nusantara satu abad sebelumnya. Bukti dari besarnya ekspedisi ini dapat dilihat dari jumlah manusia yang dikirim, lebih dari 13.000 orang, dengan komposisi ratusan perwira dan ribuan prajurit. Pasukan juga dilengkapi dengan kuli dan pelayan, dan bahkan sekitar dua ratusan wanita. Ekspedisi ini juga dilengkapi dengan berbagai mesin perang, terutama kapal perang uap, kapal logistik, dan berbagai perlengkapan lainnya.

Ingin menebus kegagalan Kohler, van Sweeten mendaratkan pasukannya di rawa-rawa Kampung Jawa dan dan setelah 14 hari mendapatkan perlawanan keras dari pihak Aceh, pasukannya berhasil memasuki Peunayong. Tak berhenti di Peunanyong, Belanda terus menyerbu dan merebut Masjid Raya, dan pada puncak musim hujan, akhir Desember, dilanjutkan dengan penyerangan Istana. Berbagai senjata mutakhir pada masa itu digunakan dan berbagai metode dan teknik perang diperagakan.

Muhammad Said (2007) dalam bukunya Sejarah Aceh, melukiskan penyerangan istana itu tidak saja dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan menularkan bakteri kolera. Sejarah mencatat bersamaan dengan penyerbuan itu, istana juga digoncangkan dengan merebaknya kolera di dalam istana. Semenjak itu diperkirakan pihak Aceh kehilangan setidaknya 150 orang per hari akibat kolera, baik yang di kraton maupun di lokasi pertempuran lainnya.

Karena kematian yang banyak dan gempuran pasukan van Sweten yang cukup gencar, Sultan Mahmud Syah memutuskan keluar dari istana untuk melanjutkan perang gerilya dari kawasan pedesaan dan pegunungan. Malang menimpa Sultan, setelah berlangsungnya perang sekitar empat bulan, pada tanggal 28 Februari 1873 Sultan meninggal di sekitar Pagar Aye. Penyakitnya? Kolera (Said: 2007).

Penulis sejarah Belanda, Paul Van’t Veer (1985) menuturkan, sebelum ekspedisi kedua berangkat, Batavia sesungguhnya sedang dilanda ledakan kolera. Bahkan akibat dari penyakit itu keberangkatan ekspedisi ditunda selama sepuluh hari. Bukti nyata lain, selama sekitar dua minggu dalam perjalanan ke Aceh, 60 penumpang meninggal di dalam kapal karena kolera. Bahkan ketika kapal sudah tiba di Aceh, korban kolera lebih banyak lagi. Vann’t Veer menulis, bahkan sebelum perang dimulai, Belanda telah kehilangan lebih dari seribu anggotanya.

Penyerangan yang berlangsung pada akhir November adalah petaka bagi kedua pihak. Aceh sedang memasuki puncak musim hujan yang membuat medan pertempuran dan kamp tentara Belanda menjadi becek, dan ini adalah lingkungan yang membuat kolera semakin meledak. Setelah berperang selama enam bulan, 1.400 tentara Belanda mati, umumnya akibat kolera, di samping kematian dalam pertempuran.

Kematian di pihak Aceh tidak hanya dialami oleh pasukan dalam pertempuran, tetapi lebih banyak dialami oleh warga sipil. Metode yang diterapkan oleh Belanda dalam menangani Aceh lima tahun pertama tidak hanya ditujukan kepada pasukan Kerajaan Aceh, akan tetapi juga kepada semua penduduk yang tidak bekerja sama dengan mereka.

Pembakaran lumbung, rumah, pengrusakan tanaman, dan bahkan penularan penyakit dianggap sebagai cara yang paling ampuh untuk menundukkan Aceh. Anthony Reid (2015) menulis, pada lima tahun pertama perang Aceh, 1873-1878, di sepanjang delta Krueng Aceh, lebih dari 100.000 masyarakat sipil mati akibat penyakit kolera. Terhadap fakta ini Profesor Sejarah Unversitas Princeton, Emmanuel Kreike (2012), justru memberi label “genosida tidak langsung” Belanda terhadap Aceh.

Kolera di Aceh terjadi setelah 55 tahun setelah ledakan pertama yang terjadi di Jesore, delta Sungai Gangga, pada tahun 1817, yang berasal dari nasi basi. Penyakit itu selanjutnya menyebar ke Myanmar, dan Sri Lanka. Tiga tahun kemudian kolera telah sampai ke Thailand dan Indonesia, dan terus menyebar ke Cina dan Jepang.

Dalam sejarahnya, kolera sempat menjadi pandemi global selama tujuh kali dan menyebar ke seluruh dunia. Kejadian terakhir yang sifatnya tidak merebak di berbagai tempat, terjadi di Yaman pada tahun 2017.

Kematian akibat penyakit sesungguhnya sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi. Ketika manusia masih berburu dan mengumpulkan, walaupun mereka sering berpindah penyakit menular belumlah cukup berarti, karena mereka hanyalah kelompok kecil. Timbul dan tumbuhnya masyarakat pertanian adalah fase awal yang memberi jalan kepada timbul dan merebaknya berbagai penyakit, terutama penyakit menular.

Berkumpulnya manusia dalam jumlah besar, awalnya pemukiman pedesaan yang tersebar, yang dilanjutkan dengan tumbuh dan berkembangnya kota dan berbagai kegiatan perdagangan dan mobilitas manusia adalah pembuka awal yang memungkinkan terjadinya pandemi. Pandemi pertama dicatat oleh Admiral Thyudes yang juga sejarawan Athena terjadi sekitar 450 tahun Sebelum Masehi.

Pandemi ini di terkenal dengan pandemi perang Peloponnesia yang membuat Athena kalah dari Yunani. Pandemi itu membuat Yunani dan tetangganya menderita kematian sekitar 125.000 jiwa. Banyak ahli menduga pandemi itu adalah tipus atau cacar yang penularannya paling cepat di kawasan penduduk yang padat dan terhubung dengan dunia luar. Ini juga menjadi bukti betapa harga yang harus dibayar oleh sebuah “peradaban tinggi” Yunani yang merupakan simbol peradaban perkotaan global pada masa itu, dikalahkan oleh makhluk kecil yang mewakili kekuatan alam.

Perkembangan peradaban yang memungkinkan tingginya mobilitas manusia, tingginya pertumbuhan penduduk, dan hadirnya fenomena kota yang mengubah lanskap alami kemudian menjadi pangkal meledaknya pandemi di Kerajaan Romawi. Adalah Marcus Aeriulius Antoninus, salah seorang Kaisar terbaik Romawi yang tidak hanya memberi keluasan wilayah Romawi–Mesir, Irak, Syiria, kawasan Balkan. Jerman Perancis, Belanda, Luxemburg–tetapi juga pembangunan fisik Kota Roma dan berbagai infrastruktur publik.

Marcus juga dikenal sebagai seorang Filosof, bahkan dianggap sebagai salah seorang filosof Stoisme terbesar dan mempunyai sejumlah karya tulis–Bill Clinton dan Goothe adalah fans Marcus Aeriulius Antoninus. Marcus meninggal karena kehebatan yang dia miliki. Ia mati karena cacar atau mungkin juga campak. Nama pandemi itu diabadikan dalam catatan sejarah sebagai pandemi Antoninus.

Infrastruktur jalan darat yang menghubungkan sebagian besar wilayah Romawi telah memungkinkan penyakit yang membunuhnya berpindah dan menyebar dari darah asal, kawasan Irak di Timur, masuk ke Italia dan menyebar ke Perancis, dan hampir seluruh Eropa. Marcus sendiri meninggal karena pandemi itu pada tahun 180 Masehi. Ia tidak meninggal di Roma, melainkan di Kota Sirmium di kawasan Serbia, Balkan, ketika sedang memimpin peperangan. Pandemi itu merengut sekitar lima juta rakyat kerajaan Romawi.

Sekalipun kita tidak berani menyatakan bahwa pandemi itu sesungguhnya adalah produk lain dari kemajuan peradaban yang tidak diharapkan, akan tetapi kenyataannya sampai dengan hari ini bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa asosiasi antara keduanya.

Bayangkan saja ledakan awal pandemi Covid-19 terjadi di pusat kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk dan konektivitas tinggi seperti Kota Wuhan, Hubei, dan Provinsi Lodi, Italia, dan Kota New York, dan beberapa kota lain di Eropa. Lihatlah pula korban yang berjatuhan di tempat itu. Bahwa ada kawasan lain yang sama dengan New York dan Lodi, tetapi tidak memiliki korban yang tinggi, itu berurusan dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintahnya yang juga mencerminkan kemajuan peradaban.

Bandingkan kembalinya tentara Romawi dengan jalan darat dari Irak Timur ke Eropa yang butuh waktu bulanan, atau ekspedisi kedua Jenderal van Sweeeten ke Aceh yang butuh waktu dua minggu dan luas kawasan pandemi yang tersebar. Kedua kasus itu kita ambil, kemudian kita tempatkan dalam perspektif kontemporer dengan kecepatan pesawat antarbenua, Boeing 747 atau Airbus A380, visa nonarrival, dan konektivitas bandara dengan seluruh titik darat dan pulau. Tanpa harus membaca lagi tentang kerusakan alam yang membuat kegoncangan keseimbangan ekosistem bumi terganggu, gambaran konektivitas ini saja membuat kita lebih mudah mengerti bagaimana Covid-19 menyebar saat ini.

Untuk kasus kita di Indonesia, gambaran dan jawaban yang kita dapatkan juga memperkuat argumen asosiasi antara kemajuan dan jumlah kasus corona. Tingginya jumlah kasus Corona di berbagai provinsi juga berurusan dengan urutan kemajuan provinsi itu dalam berbagai daftar yang dikeluarkan oleh Bappenas dan berbagai kementerian. Secara umum, semakin maju kawasan, semakin tinggi pula kasus corona.

Tingkat keparahan yang dialami oleh berbagai kota atau provinsi yang maju itu juga mempunyai variasi, tergantung kesiapan dan kesungguhan pemerintahnya. Membandingkan ini persis sama dengan membandingkan Jerman dengan AS yang sama-sama maju, tetapi mempunyai angka kematian akibat corona yang berbeda. Penjelasan kenapa NTT, Bengkulu, dan Maluku Utara menempati ranking terendah di Indonesia dalam hal Covid-19 adalah sama dengan menjelaskan rendahnya kasus Covid-19 di Armenia, Tibet, atau Nepal dalam konteks negara pada level internasional.

Apakah ketertinggalan dalam pembangunan dapat dianggap sebuah “berkah” yang dapat membuat Covid-19 tidak datang dan berbiak dengan cepat. Tentu saja ini adalah pertanyaan “pentengong”, karena maju dan dapat mengatasi corona sama peluangnya dengan maju dan tidak dapat mengatasi corona, atau kurang maju, tetapi dapat mengatasi Ccorona. Belajar, dan lihatlah, Vietnam, Taiwan, dan Amerika Serikat.[]

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin