Mencaci dan Menghina Ulama, Suul Khatimah Balasannya di Akhir Hayat

Ilustrasi

Oleh Tgk. Helmi Abu Bakar El-Langkawi*

Kita mengetahui bersama bahwa ulama itu merupakan wakil atau “delegasi” rasul dalam memyampaikan risalah dan petuah untuk umat. Mereka para ulama mewariskan ilmu sebagai pewaris nabi. Hal ini dijelaskan dalam hadis baginda Nabi Muhammad: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud).

Bukan hanya itu, Allah Swt juga meninggikan derajat para ulama sebagai ahli ilmu. Ini sebagaimana disebutkan dalam dalam firman-Nya yang berbunyi: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [al-Mujadilah/58 : 11].

Jelas menghormati orang alim sebagai suatu anjuran yang harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal ini Thawuspun berkata: “Termasuk sunah, yaitu menghormati orang alim.” Kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi karangan Ibnu Abdil Barr (I/129).

Terkadang ada di antara kita yang “senang” untuk mencaci maki para ulama dengan bermacam modus, membuat cerita fiktif dengan sasaran dan maksud “menghinakan” ulama, menulis di dinding medsos, dan bermacam bentuk lainnya dengan sasaran sebagai “istihza”.

Abu alSana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi atau akrab dan popular ulama muda itu dengan nama Al-Alusi mengomentari tentang pengertian “istihza’ di sini dalam karyanya Ruhul Ma’ani: “Istihza’, artinya merendahkan dan mengolok-olok.

Al-Ghazzali menyebutkan makna istihza’, yaitu merendahkan, menghinakan, dan menyebutkan aib dan kekurangan, supaya orang lain menertawainya: bisa jadi dengan perkataan, dan bisa dengan perbuatan dan isyarat.” (Kitab Ruuhul Ma’aani, Abu alSana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi: I/158).

Berdasarkan nash-nash di atas, jelaslah bahwa kewajiban setiap muslim terhadap para ulama dan orang-orang saleh adalah mencintai dan menyukai mereka, menghormati dan memuliakan mereka, tanpa berlebih-lebihan atau merendahkan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Mengolok-olok ulama dan orang-orang saleh, mengejek atau melecehkan mereka, tentu saja bertentangan dengan perintah untuk mencintai dan memuliakan mereka. Melecehkan ulama dan orang saleh, sama artinya dengan menghina dan merendahkan mereka. (Kitab Jami’ Ulum wal Hikam karangan Ibnu Rajab: II/334).

Imam Mulla`Ali bin Sulthan al-Harawi al-Qari Mala Ali Al Qari, ketika menjelaskan tentang orang yang melecehkan ulama dengan sindiran menyebutkan: “Betapa buruk penampilannya, memotong kumis dan melipat sorban di bawah dagu” (maka) beliau mengatakan, ”Perkataan itu termasuk kufur, karena isinya melecehkan ulama. Yang sama artinya melecehkan para nabi. Karena para ulama adalah pewaris para nabi. Memotong kumis adalah salah satu sunah para nabi. Menganggapnya buruk adalah kufur, tanpa ada perselisihan pendapat di antara ulama.”

Kita sebagai umat Islam dilarang mencela kepada sesama terlebih kepada pewaris Nabi Muhammad saw. Janganlah ulama yang berjuang dalam menegakkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Meskipun kita tidak memuliakan mereka sebagai orang yang telah dinaikkan derajatnya oleh Allah Swt, minimalnya tidak menghina baik dengan berghibah dan lainnya.

Sosok ulama merupakan wali Allah dan menghinakan mereka menandakan sang penghina telah menabuh perang dengan Allah Swt. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu: Dari Abu Hurairah, ”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya…” [HR. Al Bukhari)

Mereka yang seakan merasa sangat lezat dengan meng-ghibah para ulama, tentu saja efek negatif dan akibat buruk akan dirasakan oleh mereka pencela baik di dunia terlebih di akhirat nantinya. Salah satu di antara sekian banyaknya yang akan dirasakan oleh pencela dann penghina ulama, akhir hidup mereka akan berhujung dengan titel su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek). Nauzubillah min zalik.

Pernah diceritakan pada zaman dulu salah seorang bernama Al-Qadhi Az-Zubaidi, ketika dia meninggal dunia lisannya berubah menjadi hitam, hal ini disebabkan beliau semasa hidupnya suka mencibir salah seorang ulama terkemuka di dunia Islam Al-Imam An-Nawawi.

Beranjak dari itu mari kita menghormati ulama sebagai warisatul ambiya dan mengajak diri dan keluarga serta masyarakat untuk tidak ikut mencaci ulama baik secara langsung maupun tidak langsung. Sekali lagi kita doakan ulama dan guru kita diberi sehat wal afiyat dan umur panjang nan berkah demi pengabdiannya untuk umat, dan kita semua memberikan siraman ilmu demi tegaknya panji Aswaja menuju negeri baldatun tayyibatun warabbul ghafur. Amin.[]

*Penulis adalah penggiat literasi asal Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga

Editor : Ihan Nurdin