[Ruang Semangat]: Melakukan Banyak Hal Produktif Selama di Rumah

Oleh Cut Salma HA*

Menyikapi mewabahnya virus corona, ratusan negara termasuk Indonesia mulai memberlakukan social distance (jarak sosial). Pembatasan sosial ini berujung pada peralihan aktivitas di luar rumah menjadi di rumah saja.

Sejumlah universitas juga turut memberlakukan kuliah jarak jauh dengan sistem dalam jaringan (daring). Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk mengantisipasi penularan virus. Instruksi untuk mengalihkan perkuliahan juga sudah diterima oleh mahasiswa sejak 16 Maret lalu. Sejak saat itu pula, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Sejauh 168 km dari pusat Kota Banda Aceh, saya tinggal di sebuah desa bernama Blang Cut, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen.


Anjuran untuk tetap di rumah sebisa mungkin saya patuhi, selain karena takut akan penyebaran virus ini yang semakin meluas, di rumah saja juga memang merupakan hobi saya ketika libur kuliah. Hampir dua bulan pascaalih kuliah menjadi daring, aktivitas saya di luar rumah bisa dihitung jari. Meskipun saat itu kasus positif Covid-19 di Aceh belum ditemukan, saya tetap menghindari keramaian. Dua minggu pertama, saya benar-benar menolak ajakan teman keluar rumah. Jikapun terpaksa keluar, paling hanya sampai teras rumah untuk sekadar menjemur pakaian.

“Hana corona di Matang [tidak ada corona di Matang],” begitu kata teman, ketika saya menolak ajakannya keluar rumah.

Dua minggu setelahnya, mau tidak mau ada beberapa aktivitas yang terpaksa saya lakukan di luar rumah, seperti ketika orang tua meminta untuk ditemani ke pasar membeli kebutuhan dapur atau terpaksa membantu orang tua yang tetap membuka warung lontong sayur di pagi hari. Walaupun begitu, kami tetap mengikuti protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan selalu mencuci tangan di wastafel portabel yang kebetulan disediakan perangkat desa di depan tempat ibu berjualan.

Meski kadang jenuh kerap kali melanda, terlebih ketika paket internet mendadak habis, tetapi ada banyak hal baik dari masa karantina mandiri ini. Semisal, kita dapat lebih sering bertemu dengan keluarga dan melakukan banyak aktivitas bersama. Meskipun demikian, di rumah saya, terlebih orang tua perempuan terbilang sangat aware perihal kebersihan. Bahkan sebelum ada imbauan dari pemerintah, ibu memang selalu mengedepankan anak-anaknya agar rajin mencuci tangan, terlebih untuk adik yang paling kecil.

Saya sendiri, tergolong orang yang tidak suka berbagi peralatan makan bahkan sebelum adanya virus ini. Sejak mewabahnya virus ini, saya akan sangat marah jika ada salah satu dari adik  yang menggunakan gelas yang sudah saya pakai untuk dipakai lagi.

Meskipun bersama keluarga dan selalu berada di rumah, kami tetap mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap menjaga kebersihan. Bahkan ibu juga membuat disinfetan sendiri, dengan beberapa campuran pembersih lantai yang biasanya dipakai. Ibu menemukan cara ini dari internet.

Disinfektan itu kemudian ibu pakai untuk menyemprot seluruh bagian rumah, seperti pintu, gagang pintu, jendela, dan benda-benda lain di dalam rumah. Untuk pertama kalinya juga, ibu menyediakan sabun khusus pencuci tangan di samping bak pencuci piring. Padahal biasanya kami mencuci tangan menggunakan sabun pencuci piringnya langsung.

Setelah semakin bertambah banyaknya kasus positif corona di Indonesia, dan mulai ada yang terjangkit di Aceh, ibu pun memutuskan untuk berhenti berjualan sementara waktu. Aktivitas kami benar-benar hanya di lingkungan rumah. Saat itu, ibu juga sudah menyiapkan stok kebutuhan dapur untuk beberapa waktu.

Hari pertama ibu tidak berjualan, ia membuat aneka makanan agar kami tidak bosan. Siang hari ibu membuat empek-empek Palembang, sore hari membuat bakwan sayur, malamnya membuat kue bolu. Kata ibu, yang penting tidak ada di antara kami yang jajan di luar.

Hari-hari selanjutnya ketika adik yang paling kecil meminta izin untuk bermain, ibu akan mengajaknya melakukan aktivitas di rumah. Seperti hari itu, ibu mengajak adik paling kecil membersihkan kulit pinang di samping rumah, disusul adik paling besar.

“Begini, Kak caranya. Masa gitu saja nggak bisa,” kata adik paling besar ketika saya hanya melihat ketiganya.

Keesokannya, ayah yang sedang bekerja di ibu kota dan tidak bisa pulang menelepon, katanya, ada anjuran dari beberapa orang untuk menggunakan inai dan membakar kain bekas sebagai upaya mengantisipasi virus corona. Saya sempat tertawa, tapi kemudian berpikir tidak ada salahnya mencoba sebagai salah satu bentuk ikhtiar.

Ibu pun memetik beberapa tangkai daun inai dan menghaluskannya. Kami semua diminta menggunakan inai itu di tiga anak jari. Kelingking, telunjuk, dan ibu jari sambil membaca surat Al-Fatihah dan beberapa surat pendek.

“Mak, ini beneran?” tanya saya masih ragu.

“Nggak tahu, pakai saja. Kan nggak ada salahnya,” begitu kata ibu.

Selang satu jam, saya melihat postingan beberapa teman sedang melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan tadi. Beberapa postingan disertai dengan keterangan yang lucu. Seperti “Lagi dipingit” atau ada juga yang membuat keterangan yang informatif.

Terlepas dari ibadah wajib yang semakin teratur ketika masa karantina mandiri, ada banyak hal unik yang ternyata tetap dapat dilakukan meski dari rumah. Selain kuliah online, saya juga sempat mengikuti kelas online fotografi jurnalistik yang dibuat oleh senior saya sepulangnya dari mengikuti fellowship foto di Jakarta.

Melalui grup WhatsApp, ia membagikan pengetahuan dan pengalamannya seputar fotografi jurnalistik. Setiap peserta juga diminta untuk menggambil gambar dengan tema di rumah saja. Saat itu saya mengambil beberapa foto ketika dua adik laki-laki saya sedang melakukan kegiatan selama di rumah, seperti menonton televisi, membantu ibu membersihkan kulit pinang, hingga bermain gadget. 
Selain itu, saya juga kerap dimintai ibu membimbing adik yang paling kecil belajar ketika di rumah. Seperti mengajarinya bacaan dalam salat, atau mengulang-ngulang hafalan surat pendek yang ia miliki. 
Ia paling senang ketika hafalannya disimak sambil memainkan kepalanya seperti yang dilakukan di barbershop ketika memangkas rambut.

Alam nasyrah laka shadrak. Kak, lagi,” katanya ketika mendadak tangan saya berhenti.

Sesekali saya juga menemaninya bermain game di gadget milik saya ketika sudah benar-benar jenuh. Biasanya kami bertiga akan bergilir bermain game dan melihat skor masing-masing. Seolah sedang melakukan kompetisi. Banyak sekali kegiatan yang bisa kita lakukan selama masa karantina ini. Terlebih setiap harinya ibu selalu memberi usulan menu baru yang akhirnya saya lakukan. Seperti membuat dimsum dan kebab rumahan.

Belum lagi unit kegiatan pers mahasiswa yang saya ikuti, tetap harus aktif meskipun dari rumah. Menuntut saya agar kreatif dan produktif dengan tetap menulis artikel-artikel. Seperti beberapa waktu lalu, saya menulis artikel reaksi mahasiswa terkait kuliah online dan setelahnya reaksi mahasiswa terkait kuliah pengabdian masyarakat (KPM) yang dilakukan di desa sendiri. Respons mahasiswa ini mereka cantumkan di kolom komentar postingan Instagram unit kegiatan pers kami. Biasanya saya juga dimintai salah satu teman untuk menjadi dubber dalam konten video yang dibuatnya untuk chanel YouTube kami.

Tak hanya itu, kami juga sempat membuat podcast dengan senior di organisasi tersebut. Dia adalah orang yang saya maksud ketika saya mengikuti kelas online fotografi jurnalistik. Podcast kali ini juga guna membahas fotografi jurnalistik. Podcast yang seharusnya dilakukan dengan host dan narasumber yang direkam langsung, mendadak saya lakukan via seluler. Saat itu yang saya pikirkan adalah isinya menarik dan informatif. Tanpa peduli kualitasnya.

Saat ini, bertepatan dengan bulan Ramadhan, saya juga tetap melakukan ibadah di rumah, seperti salat Tarawih sendiri dan melanjutkan dengan tadarus mandiri. Berbeda dengan adik laki-laki paling besar, ia memilih tetap melakukan salat Tarawih di masjid terdekat. Meskipun begitu, saban hari, setelah pulang berpergian, sebelum mengganti pakaian, ia lebih dulu mencuci tangan.

Ternyata ada banyak hal yang bisa dilakukan meskipun dari rumah. Terkadang ketika memang sudah sangat jenuh, saya memilih untuk berselancar sejenak di dunia maya. Membaca beberapa berita, atau sekadar melihat hal-hal unik yang dilakukan oleh beberapa teman, seperti ketika salah satu dari mereka ada yang bermain tik-tok, atau ada juga yang mengulang-ngulang obrolan lucu di grup WhatsApp, sekadar untuk menghibur dan menetralisir pikiran agar tidak stres di tengah pandemi seperti ini.

Meskipun keadaan ini menjadi tantangan tersendiri untuk kita semua. Namun, ada banyak hikmah yang bisa kita ambil. Selain bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, hal ini bisa membantu kita melindungi alam dengan mengurangi populasi udara. Walaupun begitu, kita semua tentu berharap situasi ini dapat segera diatasi dan kembali normal.[]

*Cut Salma H.A. adalah mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry

Editor : Ihan Nurdin

rogram ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent

KOMENTAR FACEBOOK