[Ruang Semangat]: Mengelola Kreativitas saat Pandemi Corona

Oleh Muhammad Nasir, M.Si*

Saat ini, jutaan orang di seluruh dunia termasuk Indonesia terpaksa tinggal di rumah dan menjaga jarak sosial untuk mengantisipasi penyebaran wabah Covid-19. Bahkan, beberapa negara telah memberlakukan penutupan wilayah (lockdown) untuk meminimalisir pergerakan masyarakat. Langkah ini dianggap cukup efektif untuk menekan laju dan memutus rantai penyebaran virus corona. Para pegawai diberikan dispensasi untuk tidak masuk kantor dan bekerja dari rumah (work from home) termasuk mengisi absensi kehadiran secara daring dari rumah. Hal ini juga berlaku bagi guru dan dosen sehingga proses pembelajaran saat ini berlangsung dari kediaman masing-masing dengan memanfaatkan aplikasi dan teknologi yang ada.

Dosen memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan tridarma perguruan tinggi sebagai tugas pokoknya. Pada hakikatnya, work from home (WFH) menjadi tantangan tersendiri bagi para guru dan dosen yang biasanya berhadapan langsung dengan peserta didik. Namun, demi mencegah penyebaran virus corona saat ini semuanya dilakukan secara jarak jauh menggunakan aplikasi yang tersedia, seperti WA grup, Google Classroom, Google Meet, Canvas, Edmodo, Zoom, dan berbagai aplikasi lain. Dosen dapat memilih salah satu atau kombinasi aplikasi ini untuk melaksanakan proses perkuliahan secara daring.

Seorang dosen tentu dituntut kreativitasnya dalam melaksanakan perkuliahan sehingga mahasiswa tetap dapat memahami materi. Saya pribadi sebagai seorang dosen memadukan beberapa media dalam perkuliahan daring ini dengan harapan mahasiswa tidak merasa bosan dan tetap semangat mengikuti kelas. Selain Google Classroom, saya juga menggunakan layanan live Instagram dan YouTube untuk menjelaskan materi kuliah yang agak sulit dipahami agar para mahasiswa pun tidak begitu kesulitan mengaksesnya, terutama bagi mereka yang berdomisili di daerah yang minim akses internet. Sebagai dosen, tentu hal ini harus kita pikirkan juga sehingga kita tidak memaksakan menggunakan media daring yang membutuhkan banyak kuota internet.

Sementara itu, banyak yang berasumsi bahwa tugas seorang dosen hanya mengajar. Padahal, banyak tuntutan lainnya yang harus dikerjakan oleh seorang dosen, seperti melaksanakan penelitian sesuai bidang ilmu, pengabdian kepada masyarakat seperti mengadakan pelatihan atau sosialisasi, serta menulis buku ajar sesuai mata kuliah yang diampu.

Setiap kejadian ataupun musibah pada dasarnya selalu membawa hikmah, begitu juga wabah Covid-19 ini, setidaknya bagi saya yang berprofesi sebagai dosen dan tutor bimbingan belajar ini. Saya termasuk orang yang lebih sering berada di luar rumah pada hari-hari biasanya, melaksanakan kegiatan rutinitas di kampus serta mengisi kelas di sebuah bimbingan belajar di Banda Aceh bahkan hingga malam hari. Saya baru berada di rumah biasanya hanya pada hari Minggu, itu pun kalau tidak ada agenda lain yang mendesak yang mengharuskan saya berada di luar rumah.

Di tengah masa pandemi corona ini, saya jadi memiliki waktu lebih banyak di rumah untuk melakukan hal-hal yang selama ini hampir tidak saya lakukan lagi. Saya gunakan kesempatan ini untuk membaca sebanyak mungkin buku-buku kuliah (mayoritas berbahasa Inggris) berbentuk file PDF yang ada di laptop, jumlahnya sekitar seratusan judul buku. File-file buku ini sudah lama saya ambil dari teman, tetapi belum sempat dibaca secara komprehensif. Seorang dosen tentu dituntut untuk terus meng-up grade wawasan dan informasi yang dimilikinya, tentu saja caranya adalah dengan banyak membaca. Selain itu, dengan banyak membaca akan meningkatkan kemampuan otak dalam berpikir kritis dan melatih kemampuan berkomunikasi di depan umum. Satu hal yang tidak kalah penting adalah membaca juga dapat mendorong munculnya imajinasi dan kreativitas.

Saya menyicil membaca buku-buku tersebut setiap hari dengan harapan ketika masa darurat corona nanti berakhir, saya sudah khatam semua buku. Malu rasanya menjadi seorang dosen, tapi jarang membaca. Padahal banyak membaca ini juga menjadi syarat untuk menjadi seorang penulis yang baik. Dosen itu harus mau menulis. Dalam rangka mengisi waktu “di rumah aja” ini saya juga punya target untuk menulis sebuah buku ajar yang mata kuliahnya saya ampu yaitu English for Physics.

Saya teringat sebuah kata bijak dari salah seorang penulis terkenal yaitu “menulis adalah kata kerja jadi harus terus dilakukan”. Bagaimanapun menulis merupakan aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab seorang dosen. Harus diakui bahwa saya masih minim sekali menulis apalagi menulis buku ajar. Padahal, kehadiran buku ajar ini sangat penting dalam proses perkuliahan. Buku ajar akan memandu proses pembelajaran sehingga dosen dan mahasiswa punya pegangan akademik yang kurang lebih sama sesuai keilmuan matakuliah dan tuntutan kurikulum. Mahasiswa juga dapat meningkatkan kompetensi diri serta membantu mereka belajar mandiri.

Saya telah mengampu mata kuliah English for Physics ini sejak tahun 2018. Mata kuliah ini masih tergolong mata kuliah baru di prodi kami sehingga belum ada buku ajar yang mumpuni untuk digunakan dalam proses perkuliahan. English for Physics adalah mata kuliah keterampilan berbahasa dan pengayaan kosakata bahasa Inggris yang diperlukan dalam bidang Fisika. Di tengah fenomena work from home ini adalah saat yang tepat bagi saya untuk menyelesaikan penulisan buku ajar English for Physics ini yang saat tulisan saya buat penulisannya baru berjalan sekitar 30%. Saya berharap, buku ajar ini nantinya dapat selesai dan diuji kelayakannya untuk digunakan dalam proses perkuliahan sehingga perkuliahan pun jadi lebih terarah.

Aktivitas lain yang saya lakukan di tengah masa WFH ini adalah melakukan renovasi dan dekorasi rumah. Kebetulan, saya baru saja menempati rumah baru di kawasan Rukoh yang tentu membutuhkan sentuhan-sentuhan agar menjadi lebih nyaman untuk dihuni. Saya juga memaksimalkan tanah yang ada di halaman rumah untuk ditanami beberapa jenis tanaman yang bermanfaat, seperti mangga, jambu, serai, keladi, dan cabai.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa seorang dosen harus mengambil peran aktif dalam ikut mengurangi penyebaran virus Covid-19 ini. Apalagi setiap harinya kasus orang yang positif terpapar virus ini terus meningkat. Oleh karena itu, setiap mengisi kelas daring, saya selalu menyisipkan pesan kepada adik-adik mahasiswa untuk selalu menjaga kesehatan, tetap di rumah, sering mencuci tangan, dan memakai masker jika harus keluar rumah. Satu pesan juga yang sering saya sampaikan kepada mereka adalah untuk tidak menyebarkan informasi hoaks kepada orang lain yang dapat menimbulkan kekhawatiran dan kepanikan. Semoga wabah corona ini cepat berlalu.[]

*Penulis adalah dosen FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent