[Ruang Semangat]: Serunya Ramadan Village Sukma Bangsa Lhokseumawe di Instagram

Oleh Zubir*

Alkisah, sebuah surat ditandatangani di Banda Aceh oleh Kepada Dinas Pendidikan Aceh pada 23 April 2020. Dengan hajat, memerintahkan kepada seluruh jajaran untuk melaksanakan aktivitas belajar dari rumah (BDR) selama bulan Ramadan. Lazimnya, kita mengenal dengan istilah pesantren ilat. Yang namanya kilat, tentu saja dilaksanakan dalam rentang waktu yang singkat. Kami di Sekolah Sukma Bangsa, menamainya dengan Ramadan Village (RV).

Bermusabab pada surat di atas, para kepala sekolah menyusun beragam strategi, berdasarkan ‘medan perang’ di sekolah masing-masing. Tak terkecuali kami, di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Pada prinsipnya, kegiatan RV, sudah kami susun kepanitian di awal tahun ajaran. Istimewa pada tahun 2020, pelaksanaannya harus dalam jaringan (daring), sehingga ada banyak rencana yang harus direvisi. Kami berkomunikasi dengan pihak Yayasan Sukma, dan mendapatkan beberapa petuah terkait kegiatan RV versi daring.

‘Perang’ dimulai, langkah pertama yang saya lakukan adalah menyaring ide segar dari dewan guru. Sudah menjadi kebiasaan, bahwa setiap kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah, idealnya disepakati bersama. Dewan guru yang ada di garda terdepan, adalah yang paling tahu kondisi siswa. Sehingga, mereka bisa memberikan gambaran kegiatan yang tepat untuk dilaksanakan. Tentu saja, mengacu pada target yang telah ditentukan pemerintah: pembentukan sikap, peningkatan keterampilan, dan pengembangan pengetahuan.

Hasil sumbangan ide dari dewan guru melalui rapat daring dengan aplikasi Zoom, saya dan tim panitia menyusun agenda harian. Dalam ruang semangat yang singkat ini, perkenankan saya untuk berbagi aktivitas harian siswa, yang secara umum, dilaksanakan di media sosial bernama Instagram. Kenapa memilih Instagram? karena semua siswa memiliki akun Instagram. Misi kami adalah menjadikan Instagram sebagai media dakwah, setidaknya dalam bulan Ramadan, postingan siswa harus bernilai positif dan islami. Juga, Instagram akan terkesan santai—tanpa ada embel-embel penugasan.

Kegiatan RV berlangsung selama sepuluh hari. Dalam satu pekan, berlangsung selama lima hari: Senin sampai Jumat. Sesuai dengan hari aktif sekolah. Untuk meminimalisir kebosanan, setiap hari memiliki kegiatan yang berbeda-beda. Itu artinya, ada sepuluh kegiatan selama RV. Siswa dibagi dalam kelompok kecil (maksimal 11 peserta) yang dikontrol oleh seorang guru. Dalam berkomunikasi, setiap kelompok menggunakan WhattApp Group (WAG).   

Sebagai pemanasan, pada hari pertama, kegiatannya adalah lomba berbuat baik. Setiap perbuatan baik yang dilakukan siswa, didokumentasikan dalam bentuk foto dan di-up load ke Instagram dengan hastag #RamadanVillage2020. Selanjutnya panitia akan menilai aktivitas siswa dengan memilih sepuluh foto terbaik. Foto dinilai berdasarkan value perbuatan yang dilakukan serta ditinjau dari segi fotografi.     

Pada hari kedua, kegiatan bersedekah: Berbagi Takjil. Tidak ada patokan minimal; apakah sekantong kopi, dua potong kue, atau segelas air putih. Dibagikan kepada warga terdekat yang dianggap membutuhkan, atau ke masjid terdekat. Kegiatan ini tidak wajib, menimbang ekonomi masing-masing siswa. Dalam praktik di lapangan, di tengah hujan deras, siswa sangat antusias untuk bersedekah. Itu terlihat dari foto-foto aktivitas yang mereka kirimkan ke guru kelompok, juga ke akun Instagram.

Pada hari ketiga, mengaji dengan target menguasai irama Nahawand. Siswa diberikan tontonan sebuah  cuplikan video tutorial; lengkap dengan penjelasan apa itu irama Nahawand, serta praktik sederhana penguasaan irama tersebut. Lalu, setiap siswa yang sudah mampu menguasai (meniru) irama tersebut, mengirimkan rekaman audio ke guru kelompok melalui WAG.

Berlanjut ke hari keempat, saatnya menyiram diri dengan nasihat-nasihat. Video ceramah ringan dan santai disajikan untuk seluruh peserta RV. Setiap peserta menulis resume sebagai bentuk pernyataan bahwa mereka telah mendengar dengan baik isi ceramah.

Hari kelima, hari terakhir di pekan pertama, adalah aktivitas kreatif yang sering kita dengar dengan sebutan craft. Seorang guru yang diberikan mandat pada kegiatan ini, memberikan sedikit materi, dan beberapa contoh karya yang berhubungan dengan Ramadan. Selanjutnya, dengan kreativitas masing-masing, siswa membuat karya sendiri. Umumnya karya yang dihasilkan adalah aktivitas checklist di bulan Ramadan. Wah, saya jadi iri, dulu ketika saya SMA, tidak ada yang ngajarin aktivitas checklist begituan.

Sabtu dan Minggu, aktivitas siswa dilaksanakan secara mandiri. Di bawah kontrol orang tua masing-masing. Guru, tetap mengingatkan, untuk selalu melakukan perbuatan baik apa pun selama libur akhir pekan. Terutama mengaji, salat Tarawih, dan ibadah lainnya.

Hari keenam, hari pertama di pekan ke-2, aktivitasnya adalah menulis dengan tema: “Serunya Berpuasa Di masa Pandemi covid-19.” Siswa diminta menulis pengalaman mereka dalam menjalankan puasa di masa pandemi ini. Minimal, setiap tulisan berisi 600 kata. Semua tulisan siswa dikumpulkan oleh panitia, dan sebagai bentuk penghargaan, akan dibukukan.

Berlanjut ke hari ke-7, kegiatan lebih santai. Yaitu syiar akan indahnya Islam. Setiap siswa pada hari itu, membanjiri Instagram dengan beragam postingan keindahan, kedamaian, dan kemasalahatan Islam. Serta mengajak untuk saling mencintai sesama umat. Duh, kalau begini terus, setiap kita selalu dalam watawasau bilhaq watawasaw bisshab, maka rasanya kita akan selalu hidup dalam kedamaian.   

Di hari ke-8, bergelut dengan karya seni. Mahabesar Allah penuh dengan seni. Contohnya dalam Alquran, betapa tak hingga nilai seni yang terkandung dalam tulisan, dalam bacaan, dan dalam irama. Kegiatan seni di hari itu adalah Indahnya Kaligrafi. Siswa diberikan materi oleh seorang guru yang telah dimandatkan, contoh-contoh karya, dan setiap mereka diminta untuk membuat karya seni sendiri sesuai dengan juknis yang telah ditetapkan. Masyaallah hasil karyanya menentramkan mata, mendeduhkan hati. Semua hasil karya dapat di lihat di Instagram dengan hastag #kreasikaligrafiku2020.

Hari ke-9, adalah membuat project video kreatif. Anak milenial, tentu tak asing dengan aplikasi video editing berbasis android. Mereka diminta untuk membuat sebuah video yang berisi segala sesuatu tentang iktikaf. Bahan video dapat diambil secara bebas di internet. Cukup minimal berdurasi satu menit, dan videonya di up load ke Instagram dengan hastag #sukmaiktikaf.

Di hari terakhir, hari ke-10, siswa diminta untuk melapor sebuah aktivitas wajib yang sudah dilaksanakan secara mandiri, sejak hari pertama RV, dan dilaksanakan sepanjang hari sepanjang malam. Aktivitas wajib itu adalah Tadarus Challenge. Setiap siswa ditantang untuk membaca Alquran satu juz per hari, dengan target minimal 10 juz selama kegiatan RV. Setiap siswa yang menerima tantangan tersebut—artinya menuntaskan bacaan di atas 10 juz, akan diberikan hadiah paket data internet.

Berdasarkan laporan dari ketua panitia, ada 33 siswa yang berhasil dalam Tadarus Challenge. Alhasil, paket data terkirim ke hp mereka. Dan yang membahagiakan adalah, ada dua orang yang sudah khatam. Sedangkan sisanya, berhasil menuntaskan bacaan minimal lima juz. Para pemenang ini, diumumkan di akun Istagram sekolah: @sukmabangsalsm

Begitulah gambaran kegitan RV di SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe. Tentu, banyak kekurangan di sana-sini. Tapi setidaknya, di tengah pandemi ini, siswa tetap semangat dalam belajar. Kepala sekolah dan guru, dituntut untuk kreatif dalam menyusun kegiatan pembelajaran. []

Zubir adalah penulis buku “Rawi: Kumpulan Tulisan Populer” dan Kepala SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe.

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent