Taqwallah, Hikayat Pak Bereh

Nurlis E Meuko. [Ist]

Oleh Nurlis E Meuko

Jika di Aceh terungkap kata “bereh” atau “ka bereh” dengan alunan suara terseret di ujung atau di pangkal, misalnya “beereeh” atau dalam kalimat singkat “ka bereehh nyan, teunang mantong” yang artinya “sudah beres itu, tenang saja”. Maka jamak jika jawaban bereh ini akan menimbulkan keraguan, atau sebuah pekerjaan akan tak berujung, atau tak akan terlaksanakan.

Sebab, kata “bereh” sangat lazim disematkan pada sebuah pekerjaan yang belum dilaksanakan dan diucapkan seolah-olah pekerjaan itu segera selesai. Sejatinya, kata “bereh” yang artinya beres itu adalah sudah selesai atau tidak kusut lagi.

Namun, jika kata “bereh” disematkan pada seseorang, misalnya “si Nurlis kop bereh but”, maka artinya itu benar-benar pujian. Bahwa si Nurlis memang bisa diandalkan dalam setiap pekerjaan. Asalkan ucapannya dilakukan secara normal, tanpa ada gerakan dagu yang terangkat atau gerak kepala dan alis mata diiringi bibir yang melengkung ke bawah. Maka itu bermakna mencibir.

Tetapi bukan itu saja arti kata bereh dalam bahasa Aceh. Bisa juga berarti seseorang bergerak terlalu maju, atau dalam ungkapan bahasa Aceh:“kreuh bhan keu ngon bhan likot”. Atau “bereh” bisa dalam makna sinis, misalkan untuk penjilat yang berhasil merapat ke tuannya. Artinya, “bereh” ini menjadi semacam kata slank yang khas di Aceh.

Kali ini saya ingin melihat kata bereh pada jargon Pemerintah Aceh yang melekat dengan sosok Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Taqwallah. Sebab, dialah yang ke berbagai daerah di Aceh untuk program Gerakan Bersih, Rapi, Estetis dan Hijau (BEREH) yang sedang digalakkan Pemerintah Aceh.

Saya ambil sebuah berita dari media lokal yang melukiskan cerita tentang kunjungan Taqwallah ke Gedung ISC, Idi, Aceh Timur, pada Desember 2019 (https://modusaceh.co/news/program-bereh-pemerintah-aceh-dinilai-hanya-lips-service/index.html). Diceritakan, di sana Taqwallah mengumbar cerita betapa cepatnya anggaran desa mengucur, namun beberapa keuchik menampik hikayat itu. Maka bagi Taqwallah bisa disematkan kata “bereh”.

Cerita lain lagi adalah soal Taqwallah yang rajin mengantarkan setiap surat keputusan (SK) kenaikan pangkat atau pengangkatan pegawai negeri di Aceh. Misalnya kenaikan pangkat guru se-Aceh, dan kenaikan-kenaikan pangkat yang lain. Pengantaran SK itu disebutkan agar si penerima SK tak perlu mengeluarkan biaya dalam menjemput SK-nya ke Banda Aceh, pusat Provinsi Aceh. Jadi menghemat.

Namun, bagi Taqwallah, sebagai pejabat utama yang melakukan perjalanan dinas ke berbagai tempat di Aceh tentu ada konsekuensi biaya. Artinya biaya perjalanan dinas, ada uang saku, dan biaya-biaya lainnya. Nah, jika Taqwallah rajin berkunjung ke berbagai daerah di Aceh, maka rajin pula uang saku masuk ke kantungnya. Maka, ini cocok disebut “bereh”.

Lain lagi di saat awal-awal pandemik Covid-19 masuk ke Aceh. Jika Pemerintah Pusat dan provinsi serta kabupaten/kota lain menyiapkan berbagai program untuk mencegah penyebebaran virus corona itu, nah Takwallah malah sudah meninjau lokasi kuburan massal yang dibersiapkan sebagai tempat peristirahatan terakhir para korban Covid-19 di Aceh. Bahkan kunjungannya itu sampai dipublikasi oleh Jubir Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani. Nah, ini gerak cepat yang “bereh” juga.

Cerita lain yang sedikit politis adalah gerakan selamat. Ketika pemilihan Gubernur Aceh pada Pilkada 2012, saya sering jumpa Taqwallah bertandang ke rumah Muzakir Manaf, Ketua Umum Partai Aceh. Waktu itu Taqwallah adalah pejabat inti di pemerintahan Irwandi Yusuf. Nah, Muzakir Manaf yang menjadi pasangan Zaini Abdullah adalah rival Irwandi Yusuf.

Setelah Irwandi kalah dalam Pilkada, Taqwallah tetap menjadi pejabat. Dalam Pilkada berikutnya, Irwandi mengalahkan Muzakir Manaf, nah Taqwallah tetap aman malah naik jabatan jadi Sekda Provinsi Aceh. Tak berapa lama memimpin Aceh, Irwandi masuk penjara dengan tuduhan korupsi, tetap saja Taqwallah tak tergoyahkan. Nah, kali ini Taqwallah “kop bereh”.

Lalu apa makna kata “bereh” yang disematkan pada Taqwallah dalam tulisan ini? Terserah pembaca saja, silahkan tempatkan makna yang paling cocok. Jika ditanyakan kepada saya maka jawabannya adalah makna bereh yang baik-baik sajalah, yang positif-positif. Berfikir positif. Kop bereh kiraju.

Penulis adalah kolumnis aceHTrend.