[Ruang Semangat]: Cerita Sekolah Daring di Banda Aceh

Oleh M Fauzan Nur, M.Si*

Hari-hari saya selalu diisi dengan kegiatan mengajar di berbagai tempat, bimbel maupun sekolah. Di sekolah yang menjadi tempat favorit saya untuk berbagi cerita dan mengajar banyak hal kepada anak-anak. Menghabiskan waktu bersama siswa adalah keseharian saya sehingga ketika hal itu sudah tidak bisa saya lakukan lagi, ada yang hilang dan tidak biasa terjadi pada diri saya. Wabah Covid-19 yang sedang terjadi di planet ini membuat saya harus mengubur cerita sekolah saya.

BNPB yang merupakan sebagai leading sector dalam hal ini, telah menetapkan wabah Covid-19 sebagai bencana nasional. Wabah ini telah banyak merenggut nyawa manusia di belahan dunia mana pun. Semua anggaran coba dihemat-hematkan demi fokus dalam penanganan wabah, pola ekonomi lesu, dan roda kehidupan mulai bergerak lambat. Cobaan terbesar bagi umat manusia adalah ketika kita berhadapan dengan musuh yang tidak dapat kita lihat. Bukan perang senjata yang akan kita hadapi, tetapi ancaman kematian nyata sekali.

Kegiatan pembelajaran sekolah sangat terhambat akibat wabah ini, pertemuan tatap muka langsung antara guru dan siswa ditiadakan. Pertemuan diganti dengan sistem online atau daring menurut bahasa kita. Belajar daring merupakan solusi yang paling aman dalam protokol kesehatan menghadapi Cocid-19 sehingga kegiatan belajar masih bisa dilakukan, tetapi tidak bisa dikontrol langsung oleh para guru. Orang tua lagi-lagi harus bekerja dari rumah menggantikan posisi guru, salut saya kepada semua orang tua yang harus tetap memikirkan keselamatan nyawa anaknya, tetapi juga dituntut menjaga kecerdasan anak-anak mereka. Peran ganda sebagai orang tua dan guru telah dilakukan oleh mereka.

Pemerintah Kota Banda Aceh telah menerapkan sistem belajar daring dengan merespons masa lockdown sekolah. Dengan website mereka (ebelajar.banda.aceh.web.id) mejadi tempat pemusatan kegiatan belajar untuk sekolah dasar di Banda Aceh. Website ini tentu sangat membantu guru dalam hal pemusatan pikiran pada hal metoda yang dilakukan. Tapi tentu, berita positif ini memiliki hambatan yang tidak sedikit.

Tanggal 16 Maret 2020 ketika masa lockdown sekolah dimulai di Banda Aceh, dan perintah itu baru dikeluarkan malam sebelumnya, sehingga siswa dan guru yang awalnya sudah mempersiapkan baju dan buku untuk esok sekolah harus menarik napas bahwa kegiatan sekolah “telah tiada”. Tidak lama, Dinas Pendidikan merespons cepat dengan memberikan tutor yang sangat cekatan untuk para guru belajar megenai kegiatan daring, sistem mata rantai dilakukan, di mana perwakilan guru dipanggil dan akhirnya harus mengajarkan ke guru-guru lain di sekolahnya. Kebetulan saya ditugaskan menggantikan guru sekolah saya yang sakit, dan menjadi satu guru yang mendapat arahan langsung tentang kegiatan ini.

Harus saya katakan, kegiatan belajar daring yang dikemas oleh Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh menyenangkan, kegiatan ini menjawab tantangan zaman bahwa IT harus dimasukkan ke dalam metode pembelajaran secara lebih serius, momentum ini adalah ujiannya. Tapi, tidak semua satu suara dalam hal ini, banyak guru yang kesulitan untuk sistem daring ini, mereka sama sekali baru untuk hal yang berbau email, internet, bahkan laptop. Arahan Pak Menteri Nadhiem yang sangat menenangkan bahwa metode apa pun dapat dilakukan oleh guru asalkan siswa dapat terpantau tetap mengikuti pembelajaran, sebuah angin segar baru.

Saya pribadi tidak bisa bersikap dengan keterbatasan setiap guru, kita bisa bilang mereka awam terhadap teknologi tapi coba lihat kedekatan emosional mereka dengan siswa di sekolah. Setiap manusia Allah berikan nilai positif dan negatif, tidak bisa menghukum buruk untuk satu kesalahan karena kebenaran akan datang menuntut keberhasilan mereka.

Wabah Covid-19 yang terus merusak banyak hal di dunia ini diprediksi akan selesai pada Desember 2020, dan bisa dikatakan semuanya akan kembali normal tahun depan (2021). Hal lain yang saya dapatkan di berita online, bahwa apabila jumlah pasien positif tidak mengalami pertambahan secara masif lagi, perlahan pada bulan Juli semua bidang akan bergerak menuju ritme normalnya, termasuk sekolah. Namun, tidak semua daerah di Indonesia mendapat perlakukan yang sama, daerah tempat virus ini banyak merebak tentu bulan Juli bukan hal yang baik membuka sekolah.

Kegiatan daring yang mau tidak mau kita harus lakukan akan terus menjadi kesulitan apabila tidak dimulai untuk dipelajari sedikit demi sedikit. Tugas pemerintah memberikan wadah dan tugas kita untuk mengelolanya, lakukan apa yang kita bisa dan mampu kita lakukan. Batasan diri kita harus di tekan untuk menguji bayaran pemerintah kepada pekerjaan kita.

Pemerintah juga diharapkan lebih mendalami karakter belajar daring yang tepat dilakukan oleh semua guru, bagi saya tidak begitu tepat menyamaratakan kemampuan di tengah masa bencana. Alhamdulillah semua guru responsif dalam pembelajaran, tetapi kemampuan lagi-lagi mematahkan semangat mereka untuk ikut terlibat jauh dari metode canggih yang ditetapkan pemerintah. Tapi saya yakin mereka tetap melakukan pembejalaran dengan style mereka sendiri, karena ujung mata rantai semua ini adalah untuk siswa kita.

Metode belajar daring di Banda Aceh terus dilakukan sampai batas akhir menjelang Ramadan karena kalender pendidikan yang meliburkan kegiatan sekolah selama ibadah puasa di tahun ini. Pada akhirnya, kegiatan ini membuat keterikatan yang kuat diantara guru-guru di Banda Aceh, minimal kita tahu nama, “Ibu ini dari sekolah ini”, “Bapak ini ternyata guru”. Saya pribadi menjadi banyak bertambah relasi dan tentu menjadi banyak wadah sharing dalam metode belajar siswa.

Kegiatan belajar daring adalah sebuah keharusan bagi kita semua insan sekolah, tidak harus menuntut metode yang sangat canggih untuk itu, grup WhatsApp sudah sangat mutakhir dalam merangkum perhatian orang tua siswa untuk ikut terlibat dalam kegiatan belajar selama di rumah. Guru tetap harus kuat dan tabah bahwa kegiatan ini tidak tahu akan sampai kapan, tetap berdoa agar kita selamat dari wabah ini sehingga belajar bisa di skeolah lagi. Alhasil, setelah selesai semua wabah ini kita mendapat ilmu baru tentang belajar daring, tentu guru dan siswa mendapat kredit poin lagi dengan bertambah ilmunya. Selamat dan sukses untuk semua guru dan siswa di Banda Aceh.[]

*Penulis adalah seorang pengajar dan berdomisili di Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin