Uroe Raya dalam Catatan Snouck Hurgronje

Muhajir Al-Fairusy, antropolog Aceh.

Oleh Muhajir Al-Fairusy

Aceh di Mata Kolonialis merupakan karya etnografi dan sering dijadikan rujukan untuk melihat kondisi masyarakat Aceh di penghujung tahun 1800-an dan awal tahun 1900. Bagaimanapun, buku Snouck Hurgronje ini memberikan banyak informasi yang berpijak pada unsur-unsur kebudayaan masyarakat Aceh, termasuk dalam konteks ritual dan perayaan yang dilakukan pada masa itu. Terlepas kontroversi memaknai sosok Snouck sebagai orientalis dan peneliti yang dimiliki Belanda dan bekerja untuk kepentingan politik kolonial. Ia telah menyumbang catatan penting melihat kehidupan masyarakat Aceh dengan segenap pola hidup kongregasi yang ada di tengah masyarakat yang menamai diri Serambi Mekkah.

Snouck menulis beberapa buku mengenai masyarakat Aceh khususnya, jamaah haji di Arab dalam Bilder Aus Mekka (1889) dan Islam. Di Perpustakaan Pusat Studi Asia Tenggara UGM, saya menemukan beberapa jilid buku karangan Snouck Hurgronje menyerupai kitab fikih yang kerap dikaji di pesantren. Layaknya perumpamaan pembahasan fikih, buku itu ia susun perbab, mulai bab thaharah hingga bab haji. “Fikih Snouck” ini tampaknya ia selesaikan saat ia masih di Mekkah. Ia tergolong ilmuwan yang amat teliti, merumuskan dan menulis dengan menempatkan data pada susunan yang rapi. Termasuk penggunaan bahasa Aceh yang menggambarkan dialog orang Aceh di Kutaradja, ia tulis dengan begitu runut, ejaan yang pas, dan teratur dalam buku Aceh di Mata Kolonialis (I & II) yang selanjutnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Yayasan Soko Guru pada tahun 1985.

Salah satu cuplikan yang menarik dari buku Snouck mengenai Aceh adalah bagian penanggalan, perayaan, musim, pertanian, pelayaran, perikanan, serta hukum mengenai tanah dan air. Dalam bagian ini, ilmuwan Belanda tersebut menggambarkan perayaan hari raya (Aceh ; uroe raya Syawal) yang dilangsungkan oleh rakyat Aceh. Dalam bagian sebelumnya Snouck juga membongkar dinamika pelaksanaan ritual puasa yang berlangsung sebulan penuh di Aceh. Puasa yang berlangsung dengan moral yang ketat di tengah masyarakat Aceh. Namun, menurut Snouck, tak semua orang Aceh saat itu berpuasa dengan sungguh-sungguh. Bahkan, banyak yang tidak berpuasa. Pun demikian, ada kontrol sosial bagi mereka yang tak berpuasa harus selalu tampak berpuasa. Untuk menutupi malu tersebut, biasanya mereka yang tak berpuasa hanya akan melaksanakan puasa pertama dan terakhir untuk menenangkan hati nuraninya, tulis Snouck. Tentunya, kondisi serupa juga dapat ditemui dalam konteks kekinian.

Adapun perayaan uroe raya di Aceh ditandai dengan dentuman meriam-penanda Syawal masuk, kondisi ini sama seperti menyambut puasa di Aceh dengan dentuman tujuh kali tembakan meriam kala itu tulis Snouck. Pada malam menyambut Syawal, anak-anak akan gaduh dengan membunyikan bedil-bedilan China (petasan), kaum ibu disibukkan dengan urusan dapur menyiapkan lauk pauk dan makanan khas uroe raya yaitu jeumphan (sekarang disebut timphan) yang harus dihidangkan pada tamu. Adapun malam hari raya, bagi pria sangat dilarang bersetubuh, tulis Snouck. Jika pantangan ini dilanggar, akan membuahkan kelahiran anak lain dari bentuk biasa, seperti mempunyai jumlah jari dan tangan yang berlebih.

Mengenai pelaksanaan ritual setahun dua kali-sembahyang hari raya, menurut Snouck umat Muslim di seluruh dunia termasuk Aceh paling setia melaksanakan sembahyang sunat ini dibanding shalat wajib lainnya. Bahkan, di Aceh, pagi hari kaum pria sudah mulai mandi hari raya (Aceh: manoe uroe raya) untuk bersiap melaksanakan sembahyang id. Menariknya, dari catatan Snouck para kepala dan teungku di meunasah biasanya tidak banyak yang ikut salat hari raya. Bahkan, para ibu yang berkumpul di berbagai tempat di Aceh melaksanakan salat hari raya dengan dipimpin langsung oleh seorang teungku wanita.
Pelaksanaan Zakat Fitrah (Aceh: pitrah) menempati posisi penting menjelang memasuki uroe raya, dan tak pernah ditinggalkan oleh masyarakat Aceh. Menurut Snouck dalam dunia Islam, hampir tidak ada hukum yang amat setia ditaati oleh muslim seperti fitrah. Bahkan bagi mereka yang sulit untuk memenuhi kewajiban itu. Kondisi ini karena pandangan umum terhadap kelalaian dalam puasa dapat ditebus dengan fitrah.
Setelah membayar zakat fitrah dan salat id, maka penduduk Aceh mengenakan pakaian baru dan mengisi bungkoih mereka dengan sirih yang luar bisanya banyaknya. Selanjutnya melakukan kunjungan antar-rumah untuk mengucapkan selamat. Adapun suami akan mendapatkan ucapan selamat dengan sembah dari isteri dan anak-anak. Pun anak-anak melakukan sembah pada ibunya, dan si ibu membalas dengan doa “…mudah-mudahan kamu bahagian (Aceh: ba’meutuah).” Perilaku rutin ini, justru masih saya temui di Pulau Banyak, Aceh Singkel. Di mana, penduduk mempraktikkan seperti yang ditulis oleh Snouck saban hari raya, dan mulai jarang saya temui di Aceh.

Setelah salat id, dilanjutkan dengan kunjungan hari raya. Dari catatan Snouck, kunjungan dilakukan dengan amat selektif. Kunjungan ke kepala gampong hanya dilakukan jika ia adalah orang berada. Para mukim, umumnya dikunjungi oleh para geuchik dan teungku yang menjadi bawahan mukim. Adapun para tamu uroe raya menurut Snouck, mula-mula disuguhi sirih selanjutnya jeumphan, dan kopi. Adapun posisi uleebalang menurut Snouck tidak banyak dikunjungi, dan dikunjungi jika para uleebalang tinggal tidak jauh dari pimpinan masyarakat. Tidak berkunjung ke uleebalang saat itu bukanlah pelanggaran tata tertib penting tulis Snouck. Dalam konteks kini, maka kunjungan wajib yang dilakukan oleh rakyat Aceh saat hari raya adalah ke rumah geuchik, teungku, dan para kepala dinas bagi mereka yang bekerja di sektor pemerintahan.

Di antara tradisi selama selama uroe raya dalam masyarakat Aceh adalah zirah ke makam keluarga (Aceh: bhôm). Di batu nisan, para penziarah akan menabur bunga (jeumpa, seumanga, dan bungong peukan), pun dilanjutkan dengan membakar kemenyan. Adapun mereka yang lebih salih, tulis Snouck, akan membaca doa atau fatihah saat ziarah berlangsung.

Lalu, apa hiburan selama perayaan uroe raya berlangsung, Snouck menulis, di balik kunjungan persahabatan adakalanya pria Aceh gemar berjudi saat saling berkunjung. Jika biasanya pemerintah desa melarang keras perbuatan yang dilarang dalam Islam tersebut, untuk kali ini ia menutup mata selama perayaan berlangsung. Dalam konteks sekarang, kecanduan pada game online dapat dikatakan keberlanjutan tradisi hiburan yang tetap dilakukan selama uroe raya.

Dalam Islam, Syawal identik dengan puasa enam hari. Mengenai ritual puasa setelah uroe raya seperti tertulis dalam kitab-kitab, hampir tidak dilakukan oleh orang Aceh menurut Snouck kala itu. Kondisi ini tentu amat berbeda dengan sekarang, di mana ritual puasa enam kian masif dilakukan oleh masyarakat Aceh, terutama karena iming-iming pahala yang kerap diceramahi oleh para teungku seumpama puasa setahun penuh jika mampu melaksanakan puasa enam selama bulan Syawal.

Perilaku perayaan uroe raya yang digambarkan Snouck kala itu tentu harus dibaca dalam skop wilayah mukim yang ia teliti, khususnya Kutaradja, tempat ia menetap selama melakukan penulisan etnografi terhadap orang Aceh. Seiring perubahan sosial, perilaku yang dilihat oleh Snouck kala itu, kini kian jarang dijumpai. Bahkan, dalam sepuluh tahun terakhir, budaya kunjungan ke rumah saudarapun mulai terasa digusur oleh tradisi baru, seperti jadwal masuk kerja di hari kedua uroe raya, munculnya tradisi open house di rumah ketua kelompok, hingga diminatinya bentuk kunjungan di warung kopi. Bahkan, di Banda Aceh, tempat Snouck melakukan penelitiannya se abad lalu, kunjungan ke warung kopi dengan fasilitas wifi sejak hari raya pertama lebih diminati oleh generasi baru, dibanding intensitas berkunjung ke rumah kerabat sekampung. Bak kalimat yang tertulis dalam buku Hans J Daeng, “..waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya, karena kebudayaan akan terus bergerak.”

Pengajar Antropologi STAIN Meulaboh.