Aceh Bereh, Program Ulok-ulok

Nurlis E Meuko.

Oleh Nurlis E. Meuko

Apakah antara program Aceh Bereh dan Aceh Hebat ini adalah tarian baru pengganti tarian usang, atau dua tarian tumpang tindih dalam satu tim, atau laksana dua tarian yang berbeda dalam festival politik Aceh kontemporer yang menjemukan?

Baiklah, kita ibaratkan saja dalam sebuah panggung tari seudati di Blang Padang, Banda Aceh. Sebagai gambaran sederhana, setidaknya ada posisi-posisi penting dalam tarian seudati, yaitu syeikh (pimpinan), apét (wakil), apét bak (anggota ahli), selebihnya adalah anggota biasa.

Tiga serangkai dalam tarian seudati itu, dalam format Pemerintah Aceh kita anggap sebagai Gubernur Irwandi Yusuf, Wakil Gubernur Nova Iriyansyah, dan Sekda Dermawan. Irwandi sebagai syeikh membawakan tema tarian seudati berjudul Aceh Hebat. Lalu, mulai mengayunkan lengan, mengetip jari, dan melangkahkan kakinya. Seirama dalam tarian yang kompak dan indah.

Penonton yang memenuhi lapangan Blang Padang bersorak-sorai bertepuk tangan. Mereka terpesona pada Irwandi, juga menyukai program Aceh Hebat. Di saat sedang bersemangat menari, jari berketip, tangan menepuk dada. Tiba-tiba sang syeikh dipaksa turun panggung dalam sebab yang tak perlu saya bahas. Begitu juga apét bak, harus turun panggung sebab “stamina” sudah tak mendukung.

Apa yang terjadi di atas panggung? Apét harus manggung dengan pemain baru yang tampil menjadi apét bak, yaitu Taqwallah menjadi Sekda Aceh. Tarian yang seharusnya melanjutkan tema yang sama, tiba-tiba menyusup tema baru yaitu Aceh Bereh. Anggota dalam tim tarian tentu bingung, sebab mereka berlatih dengan tema Aceh Hebat tiba-tiba berubah menjadi Aceh Bereh, dan terkadang tumpang tindih.

Lebih aneh lagi, kadang-kadang apét bak melangkah sebagai pengganti syekh, sedangkan apét kebingungan dalam menempatkan posisinya. Gerakan dan syair menjadi kacau, merusak estetika dan etika dalam tata krama tari seudati. Tarian seudati berubah menjadi ulok-ulok. Apa makna ulok-ulok? Sangat sulit saya menjelaskan dalam bahasa Indonesia, sebab pastinya segala sesuatu yang serampangan, ngeyel, tak beres, atau berlebihan dalam kata prokem Aceh disebut ulok-ulok.

Jika sudah begitu, maka jangan salahkan penonton jika sendal dan bungkusan kacang goreng terbang ke atas panggung.

***

Metafora sistem politik dan pemerintahan di Aceh yang dalam wujud imajinasi tarian seudati saja sudah mencerminkan kekacauan, maka terbayang kondisi tata kelola pemerintahan Aceh dalam kenyataannya. Perihal ini bisa dirunut dari awal pasangan Irwandi-Nova masuk kancah politik dalam pemilihan kepala daerah dengan mengusung program Aceh Hebat sebagai inti visi dan misinya.

Irwandi-Nova menyorong program Aceh Hebat ini bukan ulok-ulok. Prosesnya harus menempuh alur regulasi, yaitu Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota. Tertera dalam pasal 33 ayat (2) huruf v: naskah visi dan misi dari pasangan bakal calon yang disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh atau Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten/Kota yang ditandatangani bakal calon.

Artinya program Aceh Hebat itu menempuh jalur formal yang diatur secara hukum. Setelah Irwandi-Nova memenangkan pemilihan, maka program yang tertuang dalam visi dan misi Aceh Hebat itulah yang harus dijalankan sampai masa jabatan selesai.

Bahkan, ketika Irwandi tak bisa melanjutkan masa kepemimpinannya dan Nova menjadi penggantinya, maka pertanggungjawaban kepada publik adalah program yang diusung pada masa pemilihan gubernur. Bukan berarti setelah Irwandi putus di tengah jalan kemudian program pun berganti.

Apalagi jika hanya karena pergantian Sekda baru, terus harus berganti program visi dan misi Pemerintah Aceh yang sudah diperjuangkan dengan susah payah itu. Jika ini yang terjadi, maka yang patut dipertanyakan adalah legitimasi kepemimpinan Nova. Apakah sedemikian berkarismanya Taqwallah di mata Nova, sampai tak berkutik dan menjadi follower?

Pertanyaannya mengapa harus berganti program di tengah jalan. Apakah sudah melalui prosedur formal, dan etika politik. Sebab mencampakkan program yang sudah dirancang dengan matang dan melalui proses politik yang ketat, itu perilaku politik durhaka.

Katakanlah, program Aceh Bereh adalah hanya suplemen bagi program Aceh Hebat. Itu bisa berarti program Aceh Hebat memiliki kelemahan, tentu saja ini perlu diklarifikasi ke rakyat Aceh. Ini bisa berarti pembohongan publik saat pemilihan. Sebab, akan menyajikan logika bahwa ternyata program Aceh Hebat saat pilkada adalah program yang keliru hingga perlu ditopang program lain.

Oh jika disebut dua program itu adalah dua hal yang berbeda, tentu lebih konyol lagi. Mengapa bisa ada dua program berbeda, jika bukan karena kebingungan dan kegamangan sebab tiba-tiba kejatuhan bulan setelah Irwandi turun panggung. Lalu, dua program itu menebar kebingungan di masyarakat Aceh. Kebingungan pun akan menyeruak dalam berbagai lini pemerintah, termasuk pemerintah di tingkat kabupaten dan kota.

Di sini, bukan hendak memuji program Aceh Hebat, sebab programnya telah dibunuh sendiri atau setidaknya dikerdilkan, sehingga sangat kecil kemungkinan untuk terbukti benar-benar hebat. Saya hanya berani katakan bahwa Irwandi memang politisi hebat yang bernasib malang. Kalau bukan karena Irwandi, maka Nova dan Takwallah jangan bermimpi dapat menikmati kekuasaan.

***

Oh ya, saya hampir lupa tentang keberadaan DPR Aceh. Sungguh saya tak pandai menempatkan keberadaannya sehingga bertamsil dengan tarian seudati yang tak memiliki karakter anggota DPR Aceh. Hanya menjadi angin sepoi-sepoi membelai para penonton dan para penari di atas panggung. Atau berupa tamu VIP yang hanya bertepuk tangan, menyantap makanan dan minuman hingga perut kenyang, lalu tertawa terbahak-bahak di depan panggung.

Baiklah kita sudahi dulu tulisan ini, tentang DPR Aceh akan kita uraikan pada episode yang lain saja. Perlu pemikiran yang khusus tentang perilaku DPR Aceh periode kali ini, seperti menulis ruang-ruang kosong dalam gedung tua yang menyimpan fiksi misteri dan tak jelas fungsinya bagi rakyat Aceh. []

Penulis adalah kolumnis aceHTrend.