[Ruang Semangat]: Seribu Cara untuk Kelas Daring SD: Harus Menyenangkan

Oleh Gunawan, S.Pd.I*

Saya adalah seorang guru di SDS Sukma Bangsa Lhokseumawe. Awalnya, saya merasa sedikit gagap ketika segala pekerjaan dilakukan dari rumah. Terutama profesi saya, yang disebut pahlawan tanpa jasa. Saban hari, harus mempersiapkan segala bentuk bahan ajar untuk disampaikan melalui media online kepada para generasi—yang kelak menjadi penerus arah perubahan bangsa. Mereka adalah siswa SD, masih kechik-kechik, dan model belajar yang mereka inginkan adalah sambil bermain. Kebayang kan, gimana saya dan teman-teman guru harus super kreatif dalam menyusun strategi pembelajaran.

Dalam cerita singkat ini, saya akan berbagi pengalaman, yang tentu awalnya banyak ‘kisah pilu’. Namun, akhirnya karena tidak punya pilihan lain, saya menemukan cara yang—boleh dianggap lebih baik. 

Pada dasarnya, tidak semua dari siswa mempunyai HP android ataupun laptop. Fasilitas seperti ini belum saatnya untuk mereka miliki. Namun, dengan kondisi ini, mau tidak mau, mereka harus memiliki alat yang bisa digunakan untuk pembelajaran. Apakah itu smartphone atau laptop. Tentu saja, bentuk belajar dari rumah harus terintegrasi dengan baik antara guru dengan orang tua. Jika tidak ada kerja sama yang baik, kegiatan belajar dari rumah ini tidak berjalan efektif. Orang tua secara ekstra harus mendampingi anak-anaknya untuk belajar secara online. Ini menjadi satu masalah baru, di mana orang tua juga memiliki kesibukan sendiri, untuk bekerja, namun pada saat bersamaan juga harus menjadi guru kedua untuk anaknya.

Mengajar di rumah

Di minggu pertama belajar daring, saya harus mempersiapkan video rekaman saya sendiri menjelaskan materi pelajaran untuk mereka saksikan dan dengarkan di rumah. Video pembelajaran ini berdurasi lima hingga sepuluh menit. Kemudian dikirimkan melalui WAG wali siswa. Apa yang saya sampaikan dalam video tersebut persis seperti saya menyapa anak-anak didik saya di kelas nyata.

Pukul 07.30 WIB setiap paginya, saya menyapa seluruh orang tua di rumah dan siswa saya melalui WAG wali siwa kelas IV. Dengan setelan suara yang kalem dan lembut menanyakan kabar mereka serta persiapan mengikuti kegiatan pembelajaran secara online yang akan berlangsung bersama guru bidang studi masing-masing.

Karena saya wali kelas, setiap paginya saya harus standby memastikan semua aktivitas yang telah disusun berjalan sesuai rencana. Pembelajaran pertama berlangsung dari pukul 08.00 s.d. 10.00 WIB. Setelah jam pertama, saya akan menyampaikan ke wali murid, untuk memberikan perhatian bahwa jangan sampai ada materi yang terlewatkan, atau ada tugas yang harus dikerjakan pada hari itu juga. Serta mengingatkan untuk melaksanakan kegiatan wajib harian, yaitu salat Duha. Biasanya saya sering berkoar-koar di kelas agar mereka segera melaksanakan salat Duha. Kini peringatan itu disampaikan melalui pesan suara audio dengan nada yang lembut.  

Di minggu pertama semuanya berjalan dengan lancar. Memasuki minggu kedua, sudah mulai datang keluhan dari wali siswa. Masalah mulai berdatangan. Setiap keluhan dan masukan itu saya terima dan meresponsnya degan sangat baik. Kondisinya, tidak semua wali siswa bekerja dari rumah. Ada profesi yang tidak bisa mereka lakukan pekerjaannya dari rumah. Seperti, profesi dokter, perawat, petugas keamanan, dan lainnya. Mereka khawatir bila harus kontak langsung dengan anak-anaknya, dikarenakan seharian mereka menghabiskan aktivitasnya di luar tempatnya bekerja.

Saya pahami kondisi seperti ini. Bahkan saya memberi kelonggaran waktu dalam pengumpulan tugas. Ada yang komplain, ada yang mendukung, juga ada yang no comment. Dan semua instruksi yang diberikan, tidak ada tanggapan. Kondisi ini, membuat saya harus memutar parabola. Pembelajaran harus berlangsung, partisipasi dari orang tua harus bagus, siswa senang, dan tentunya, target tercapai. Lalu, kiban cara?

Belajar Kreatif di rumah

Seperti dugaan saya, pembelajaran di minggu ketiga akan sangat membosankan bila tak ada perubahan strategi dari saya. Kelas baru akan dimulai, siswa sudah menunjukkan rasa malas yang memuncak. Saya mendapat pesan audio di WhatsApp dari salah satu murid saya. “Assalamualaikum Pak Gun, kapan kita masuk sekolah? saya rindu dengan guru dan kawan-kawan. Saya bosan belajar seperti ini.” Gejala stres sedang melanda mereka di rumah. Kemudian saya jawab, “Alhamdulillah sehat, Insya Allah secepatnya kita akan ke sekolah, berkumpul lagi bersama teman-teman yang lainnya.”

Tidak hanya mereka yang rindu terhadap sekolah, rindu bertemu teman-temannya, saya juga merasakan hal yang sama. Rindu bersama mereka. Layaknya seorang merindui anaknya yang telah pergi merantau ke majelis ilmu.

Oleh karena itu, kini saya menyusun strategi baru. Sambil rebahan, menatap langit-langit rumah, memkirkan strategi apa yang cocok, untuk diterapkan di tengah badai kebosanan yang melanda.

Berhubung kegiatan belajar online ini tidak ada kurikulum khusus untuk dijadikan pedoman pembelajaran, maka proses pembelajaran ini dirancang semenarik mungkin dan sekreatif mungkin. Tugas yang diberikan, tidak lagi sebatas mengerjakan soal, tulis menulis, dan sebagainya bentuk tugas yang membosankan.

Kali ini, kegiatan pembelajaran harus berbasis aktivitas. Saya mencoba dengan aktivitas membantu orang tua di rumah: membantu ibu memasak, membantu ayah membersihkan rumah, atau menolong adik mengerjakan tugas sekolah, dan sebagainya. Intinya, harus ada aktivitas.

Kegiatan tersebut mereka lakukan di dalam rumah sebagai wujud praktik kerja sama di lingkungan keluarga. Setiap tugas yang mereka selesaikan, didokumentasikan dalam bentuk foto atau video, dikirimkan ke WAG kelas. Semua dokumen foto dan video saya kumpulkan menjadi satu file kemudian saya edit dengan menggunakan aplikasi editing video bernama Kine Master. Kumpulan foto dan video itu saya racik sedemikian rupa, saya masukkan lagu anak-anak yang berjudul “Aku Bisa.” Kemudian jadilah sebuah mahakarya dari aktivitas mereka.

Video singkat tersebut, Saya kirimkan ke WAG wali siswa. Mereka sangat senang melihat hasil kerja samanya di rumah bersama keluarga. Saya tayangkan di status WhatApp, akhirnya video singkat tersebut viral di kelas kami—setidaknya di antara anak-anak dan wali siswa. Walaupun untuk saat ini tidak disatukan dalam ruang kelas, namun untuk sementara kami disatukan di dunia kotak bernama gawai. Semoga pandemi ini cepat berlalu.[]

Penulis adalah guru di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent