Sinema India Bukan Film Biasa

Fuad Saputra, mahasiswa Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.

Oleh Fuad Saputra

Anak muda sekarang bisa dengan mudah menyebutkan satu persatu personil boy/girlband Korea. Menjawab dengan yakin berapa jumlah personilnya, atau mungkin menyimpan banyak foto idol Korea di gadget masing-masing. Pun banyak diantara teman saya mengakui diri mereka bagian dan fanbase boy/girlband Korea.

Bahkan sekarang, bintang iklan salah satu mie instan saja juga idol K-pop! Ke-Korea-an menjadi kultur baru di Indonesia. Sama seperti ketika telenova latin menyerbu, orang begitu terbiasa dengan nama Marimar. Begitu pula dengan drama Jepang dan drama Taiwan seperti Meteor Garden.

Karena tidak dapat dipungkiri, Hallyu (Korean Wave) komersialisasi hiburan Korea ke tingkat dunia yang disponsori pemerintah sana sukses besar. Indonesia merupakan salah saru pasar besarnya. Tapi sebelum hallyu datang, sinema India-lah rajanya, telah menancap kuat hingga sekarang dan bertahan puluhan tahun.
Pada medio awal 2000-an, siapa yang tidak mengenal Rahul, Rohan, Anjali, dan Pooja. Kita semua tahu dengan kisah keluarga mereka yang super rumit dan harus kejar-kejaran hingga ke London. Atau bahkan ada di antara kita yang menangis ketika Rahul dan Rohan bertemu, bergerak saling mendekat, tapi Rahul tidak sadar yang di hadapannya adalah adiknya, sedangkan Rohan dengan mata berkaca melepaskan kerinduan pada kakak angkatnya sambil mengenalkan diri dengan nama ayahnya. Adengan ini ditambah lagu Kabhi Kushie Kabhi Gam yang bikin suasana makin lengkap, sempurna sudah adengan ini.

Ketika kecil saya tumbuh dikeliling di film-film India. Sebagai tontonan rakyat, film India yang diputar di televisi merupakan hiburan yang paling mudah didapat. Saya masih ingat, ketika keluarga dan kakak saya (yang begitu mencintai film India) berjoget bersama di rumah di setiap adengan lagu pada film India yang diputar di televisi. Bagi kami, menonton film India adalah salah satu jalan untuk bahagia.

Secara personal, saya menikmati hampir semua tontotan hiburan dari berbagai negara. Saya menyukai film-film Hollywood dan film-film Asia timur, mengikuti banyak serial barat, mulai dari Bing Bang Theory hingga Game of Thrones. Menonton Parasite, House of Hummingbird hingga Shoplifters. Saya juga menikmati film-film Timur Tengah seperti Children of Heaven, Wajda juga a Saparation.

Tapi film India punya level dalam tataran berbeda dari film-film di atas. Film India dinikmati dalam senyap. Dan jarang mendapat perhatian. Bahkan kata Mahfud Ikhwan (penulis buku Aku & Film India Melawan Dunia), film India bagai film porno, disukai sekaligus tidak diakui. Ditonton sendirian kemudian dihinakan di hadapan banyak orang.
Film India tumbuh dan dicintai secara organik, bukan cuma karena mendapat cover dari berita atau menang penghargaan dan terus diperbincangkan. Sehingga menempatkan film India bukan sekedar tontonan biasa, tapi lebih dari pada itu.

Saya tumbuh besar bersama film-film India yang terus diputar berulang-ulang di televisi. Sebelum saya mengacungi jempol untuk akting Brie Larson di film Room. Jauh sebelum itu, saya lebih dahulu terpukau dan kenal dengan Kajol Kuch Kuch Hota Hai yang cantik lahir batin.

Menikmati film-film India punya sensasi berbeda dengan film barat atau bahkan drama Korea (K-drama). Mudahnya seperti ini, ketika menikmati film-film barat dan K-drama rasanya seperti di waterbom dan basah kuyup secara spontan. Menjadi hype sebentar dan lupa, sedangkan ketika menikmati film India seperti di kolam air panas. Mencipratkan air sedikit demi sedikit, terbiasa, hingga menyenangkan dan sulit dilupakan.

Alasan film India tumbuh dan besar di Indonesia bukan hanya karena pengaruh televisi semata, tapi juga karena penceritaannya yang ringan, relate dalam banyak hal kehidupan sosial di Indonesia, dan budayanya yang dalam banyak hal sama.

Jikalau dibandingkan dengan film barat dan K-drama, penggambarannya jauh berbeda dengan kondisi sosial di Indonesia. Mereka menjual imaji yang sulit digapai oleh masyarakat kelas menengah, sehingga menjadi jalan pemuas harapan yang tidak mudah diraih. Barang tentu blow up media juga berperan besar disana.

Terakhir, film India itu begitu luar biasa. Berjoget bersama massa tanpa dipandu tapi bisa menyatu selama tiga menit penuh tidak peduli apapun suasananya, yang sebelum nyanyi sepi hingga tiba-tiba ramai. Sampai kalau sudah di pertengahan lagu, selalu ada hujannya padahal sebelumnya cerah. Kita hanya bisa menggelengkan kepala ala Shahrukh Khan ketika membicarakan kedahsyatannya. Film India: Magic!

Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir –sedang menyusun skripsi– di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur. Mencintai film India dengan sepenuh hati, seperti kebanyakan orang Aceh lainnya.